
Mobil Dave sudah berhenti tepat di depan sebuah rumah yang sudah sangat Sila rindukan. Dari kecil dia tinggal di sini, sampai dia menikah dengan Hadi. Bagaimana bisa Sila tidak merindukan rumah ayahnya ini.
Tapi ketika Dave dan Sila sudah turun dari mobil. Sila malah diam mematung, dia masih ingat bagaimana ayahnya dulu mengusirnya dari rumah dan mengatakan kalau Sila adalah pembawa sial di rumah itu. Ayah yang sejak kecil selalu menyayanginya dan menjaganya mengusirnya seperti karena jebakan Hadi padanya.
Dave yang melihat Sila tak kunjung melangkah pun memegang tangan istrinya itu. Pemandangan itu di saksikan oleh Joseph, hingga yang tadinya Joseph berdiri menghadap ke arah Dave pun memutar badannya menyamping dan melihat lurus ke depan ke arah pintu rumah Prio Utomo.
Dave sedikit terkejut, karena tangan Sila sangat dingin. Bahkan saat Dave akan menyentuhnya pun reaksi gugup Sila tidak seperti ini.
"Sayang, ayo!" ucap Dave mengajak Sila masuk ke dalam.
Sila menelan salivanya dengan susah payah. Bagaimana pun orang yang paling dia takuti di dunia ini adalah ayahnya, satu bentakan dari sang ayah mampu membuat Sila ingat kesalahan nya untuk selamanya. Dan ketika ayahnya mengusirnya dari rumah, ayah Sila membentak dirinya dan mengatakan malu dan sangat menyesal sekali sudah membesarkan wanita tidak beretika seperti Sila.
Saat Sila juga tidak bisa menepis semua tuduhan Hadi padanya. Karena dia memang tidak mengerti apapun, dia bahkan sudah berusaha mencari pelayan wanita bernama Gina itu, tapi tetap saja tidak menemukan nya. Rekaman CCtv juga tidak bisa dia lihat. Sila sama sekali tidak bisa membela dirinya pada saat itu. Hingga dia hanya menangis dan menahan sakit di hatinya yang tidak di percayai oleh ayahnya sendiri.
Mata Sila sudah berkaca-kaca saat Dave menuntunnya untuk masuk ke dalam rumah. Begitu tiba di depan pintu, Dave melepaskan tangan Sila. Karena Dave tak ingin menimbulkan masalah baru untuk Sila.
Joseph kemudian menekan bel rumah Prio Utomo. Tak lama kemudian pintu pun terbuka, dan seorang wanita yang langsung memanggil nama Sila yang membukakan pintu.
"Sila!" seru Niken yang sangat senang bisa melihat Sila.
Niken langsung mendekati Sila dan memeluk nya. Niken memang kakak ipar yang baik, dia bahkan sangat menyayangi Sila seperti adik kandungnya sendiri. Saat semua orang tak percaya pada Sila, selain Karina dan ibunya ada Bima dan juga Niken yang yakin kalau Sila tidak mungkin melakukan perbuatan tercela seperti itu dengan sengaja.
Niken bahkan menangis saat memeluk Sila.
"Ayah sakit Sila, sudah dua hari ini ayah tidak bangun dari tempat tidur!" ucap Niken sambil menyeka air matanya yang menetes.
Sila jadi ikut menangis mendengar ayahnya sakit.
"Ayo, Sila. Kita masuk. Ayah sangat merindukan mu, kamu pasti lebih mengerti bagaimana ayah kan? setelah mengusir mu waktu itu, ayah sangat sedih. Dia sangat menyesal, bahkan saat dia sakit ketika tertidur, ayah selalu memanggil namamu, tapi saat mas Bima akan menghubungi mu, ayah selalu melarangnya!" ucap Niken yang kembali sedih dan menangis.
__ADS_1
Sila yang sudah sangat emosional mendengar apa yang diceritakan Niken langsung masuk ke dalam rumah dan berlari menuju kamar sang ayah. Dengan air mata berlinang, Sila benar-benar berlari ke arah kamar ayahnya.
Niken yang melihat itu tersenyum lalu menyeka air matanya. Niken kemudian berbalik dan menyapa Dave juga Joseph.
"Maaf, tuan berdua ini...!"
"Ini adalah tuan Dave Hendrawan, nona Sila salah sekertaris pribadi nya!" jawab Joseph menyela ucapan Niken dengan cepat.
"Oh, mari mari silahkan masuk. Silahkan tuan!" ucap Niken sambil mempersiapkan Dave dan Joseph untuk duduk di ruang tamu.
Setelah mempersilahkan Dave dan juga Joseph duduk, Niken pamit untuk membuatkan minuman. Karena sejak usaha Prio Utomo, mereka yang awalnya punya dua asisten rumah tangga juga harus memberhentikan mereka karena takut tak mampu membayar gaji para asisten rumah tangga nya itu.
Begitu Niken pergi. Dave langsung menatap tajam pada Joseph.
"Kenapa ayah Sila sakit, tidak ada laporan dari Oman?" tanya Dave kesal.
Joseph dengan cepat menghubungi salah satu asisten lain Dave itu.
Setelah itu Joseph memberikan ponselnya pada Dave.
"Dimana kamu?" tanya Dave dengan nada tegas.
"Di luar tuan, aku mengawasi dari warung yang ada di dekat rumah pak Prio Utomo. Aku juga melihat tuan dan Jo sudah masuk ke dalam rumah! ada apa tuan?" tanya Oman yang masih belum sadar kesalahan apa yang sudah dia lakukan.
"Kenapa ayah Sila sakit, kamu tidak memberi laporan padaku?" tanya Dave kesal pada Oman.
Oman yang sedang menyesap kopinya di warung yang tidak jauh dari rumah Prio Utomo pun langsung berdiri kaget, bahkan cangkir kopi di tangannya nyaris jatuh.
"Maaf tuan, tapi tidak ada yang pergi ke rumah sakit atau klinik, dan tidak ada dokter uang datang ke rumah itu tuan. Aku benar-benar minta maaf tuan!" ucap Oman panik.
__ADS_1
"Bulan depan, ku potong gaji mu!" seru Dave langsung memutuskan panggilan telepon dan menyerahkan ponsel Joseph pada pemiliknya.
Mendengar gaji Oman akan di potong. Joseph hanya bisa menghela nafas saja. Oman memang sangat pandai dan gesit, tapi kekurangan ya itu, dia sedikit ceroboh. Kurang bisa membaca keadaan. Berbeda dengan Joseph, karena itu dia bisa tetap berada di sisi Dave selama puluhan tahun.
Sementara itu, Sila sudah berada di depan pintu kamar sang ayah. Tapi dia masih ragu untuk menyentuh handel pintu. Sampai pintu kamar itu tiba-tiba terbuka dari dalam.
"Tante Sila!" seru Tasya, putri bungsu Bima dan Niken.
Mendengar Tasya yang menyerukan nama Sila semua orang yang ada di dalam kamar langsung melihat ke arah pintu karena Tasya langsung membuka pintu kamar Prio Utomo dengan lebar.
Tini langsung berdiri, dengan mata berkaca-kaca dia mengusap lengan Prio Utomo yang terbaring lemah di tempat tidur.
"Ayah, lihat... itu Sila sudah datang. Putri mu sudah datang!" ucap nya dan air mata juga tak terbendung lagi di pipi keriput ibu kandung Sila itu.
Sila yang begitu sedih melihat keadaan sang ayah lantas berjalan perlahan masuk ke dalam kamar ayahnya. Tasya kembali menghampiri sang ayah, Bima. Dan berdiri di dekatnya.
Sila yang sudah mendekati tempat tidur langsung di peluk oleh sanga ibu.
"Sila, ibu sangat merindukanmu nak!" ucap Tini yang mengusap punggung Sila beberapa kali.
"Ayo nak, bicara pada ayahmu. Dia pasti akan mendengarkan mu. Dia tidak mau di bawa ke rumah sakit nak!" ucap Tini menuntun Sila mendekati Sanga ayah yang matanya juga sudah berkaca-kaca.
"Sila!" panggil Prio Utomo dengan lemah. Sepertinya sakitnya sangat serius.
Sila yang mendengar ayahnya memanggil namanya langsung memeluk ayahnya yang sedang terbaring itu.
"Ayah!" ucap Sila di sela isakan tangisnya.
Bima yang melihat adiknya pulang pun merasa sangat senang. Dia berpikir setidaknya, disaat yang sulit ini mereka semua berkumpul dan bisa saling menguatkan satu sama lain.
__ADS_1
***
Bersambung...