
Sementara itu di apartemen Dave, Sila sedang menyiapkan makan malam bersama dengan bi Ijah dan Diah. Kira-kira sekitar pukul lima sore saat itu.
Sila baru saja memotong beberapa aturan sambil duduk di kursi sambil sesekali menyimak obrolan Diah dan bi Ijah yang terlihat membicarakan tentang peran antagonis dan protagonis di sebuah sinetron yang mereka saksikan pukul 9 malam. Setelah jam kerja mereka selesai.
Tapi baru menyimak, Sila tiba-tiba saja mendengarkan suara tangis Muka dari arah kamar.
Sila segera meletakkan pisau di atas meja. Lalu cuci tangan.
"Saya akan tengok nona Mika, nyonya! mungkin dia habis mimpi buruk!" ucap Diah.
Sila segera mencuci tangannya dengan cepat memakai sabun. Setelah itu dia membilas tanganya dan menggelengkan kepalanya.
"Tidak usah mbak Iyah. Biar aku saja! aku juga akan memandikan Mika!" sela Sila.
"Baik nyonya!" sahut Diah lalu kembali melanjutkan pekerjaannya.
Saat Sila membuka pintu kamar Mika, benar saja. Gadis kecil itu sedang menangis sambil duduk di atas tempat tidur. Dia tangan sibuk mengucek matanya yang terus mengeluarkan air mata. Sudah sejak jam dua siang tadi Mika tidur. Mungkin saja dia sudah banyak bermimpi, dan salah satu mimpinya membuatnya menangis. Itulah yang Sila pikirkan.
Sila berjalan perlahan mendekati Mika, karena memang usia kandungan Sila sudah mau masuk ke lima bulan. Jadi sudah lumayan membuatnya harus menjaga langkah dan jarak dari perutnya.
Sila duduk di sebelah Mika, sambil mengusap lembut kepala anaknya itu.
"Mika sayang, kenapa? Mika mimpi buruk ya?" tanya Sila lalu merangkul anaknya itu kepelukannya.
"Ma.. ma.. hiks... Mika mau ketemu papa!" ucap Mika sesenggukan.
Sila langsung mengernyitkan keningnya. Apa yang di minta Mika itu sangat tidak mungkin bisa di kabulkan Sila. Dave sudah jelas melarang Sila agar tidak pernah menginjakkan kakinya dan juga Mika di penjara. Sedangkan dia juga sudah dapat kabar dari Oman, kalau Hadi sudah di penjara selama lima tahun. Tidak mungkin dia bisa mengajak Mika menemui Hadi.
"Sayang, maafkan mama ya. Tapi mama tidak bisa membawa Mika ke papa sekarang!" ucap Sila dengan perasaan yang sedih.
Bagaimanapun juga Mika pasti sangat merindukan Hadi. Mungkin juga sebaliknya. Tapi Sila tidak mungkin membawa Mika menjenguk Hadi di penjara.
"Tapi... ke kenapa ma? kata mama kalau Mika mau ketemu papa, Mika tinggal bilang sama mama. Mika mau ketemu papa ma... Mika mimpi papa sendirian, kesepian. Papa nangis dan sebut nama kita terus ma!" rengek Mika masih dengan air mata yang terus menetes di pipi tembemnya.
"Nama kita...?" tanya Sila lirih.
Mika mengangguk.
__ADS_1
"Iya ma... hiks.. kasihan papa ma. Papa terus bilang maaf sama mama dan terus bilang rindu sama Mika! ayo kita ke papa ma, ayo!" rengek Mika sambil menarik-narik daster yang di pakai oleh Sila.
Mata Sila pun berkaca-kaca. Sesungguhnya dia bisa membayangkan seperti apa mimpi Mika itu. Dia juga sudah mendengar kalau Susan sudah gila dan di rawat di rumah sakit jiwa. Dia yakin kalau saat ini Hadi pasti sangat kesepian, hancur dan sendirian.
'Aku tahu sekarang kamu pasti sedang dalam keadaan terberat mu mas Hadi. Tapi aku harap, dengan ini hidupmu ke depannya bisa lebih baik lagi. Maaf, aku tidak bisa membawa Mika padamu!' batin Sila sedih.
"Mama, ayo ma... kasihan papa ma!" Mika terus merengek.
Sila sedikit kesulitan memberi alasan pada Mika. Karena sejujurnya dia tidak ingin berbohong. Saat Sila sedang merasa bimbang, tiba-tiba saja sebuah suara membuatnya langsung menoleh ke arah pintu kamar Mika.
"Mika sayang!"
'Mas!' ucap Sila begitu senang melihat kehadiran Dave.
Sila langsung tersenyum pada Dave, Dave juga langsung duduk di sebelah Mika. Di sisi yang berlainan dengan Sila.
"Sekarang ini papa Mika sedang berada di tempat dimana anak kecil dan ibu hamil tidak boleh menemuinya ke sana. Papa Mika sedang belajar...!"
Mika pun memperhatikan dengan sangat seksama apa yang dikatakan oleh Dave.
"Belajar? papa sekolah ya Daddy" tanya Mika dengan polos.
"Em iya bisa di bilang begitu. Dan dalam waktu lima tahun, papa gak boleh di temui sama Mika dulu. Karena kalau Mika ke sana nanti papa Hadi akan sangat rindu pada Mika dan tidak bisa belajar dengan baik, bisa saja nanti malah sekolahnya lebih lama, jadi enam tahun atau tujuh tahun...!"
Mika kecil langsung memegang tangan Dave sambil menggelengkan kepalanya.
"Tidak... tidak! Baiklah Daddy. Mika tidak akan minta ketemu sama papa. Biar papa cepat belajar nya dan cepat bertemu dengan Mika lagi!" ucap Mika polos.
Dave lalu meraih mika dari pelukan Sila dan memeluk putri sambungnya itu dengan lembut.
"Anak pintar. Tapi kalau Mika rindunya sangat sangat rindu, Mika bisa menulis surat setiap satu bulan sekali pada papa Hadi. Nanti Daddy yang akan mengirimkan nya ke sekolah papa Hadi!" ucap Dave setelah banyak pertimbangan.
Mika langsung tersenyum senang.
"Iya Daddy, Mika akan tulis surat untuk papa. Tapi Mika belum bisa menulis!" ucap Mika sedih.
"Daday akan membantu. Tapi setelah kita mandi dan makan dulu!" seru Dave.
__ADS_1
Mika pun mengangguk patuh.
"Iya, mama ayo kita mandi!" seru Mika yang langsung lompat dari tempat tidur dengan penuh semangat menuju kamar mandi di dalam kamarnya.
Sila pun berdiri, ketika Dave juga berdiri di sisinya.
"Mas, terimakasih banyak ya. Aku sempat bingung menjelaskannya pada Mika!" ucap Sila.
Dave langsung meraih pinggang Sila dan membawa istrinya itu kepelukannya.
"Lalu bagaimana cara istriku tercinta ini membalas solusi dari masalah yang baru aku selesaikan tadi?" tanya Dave sambil meraih dagu istrinya.
Sila hanya bisa menurut saja ketika Dave memajukan dagunya mendekat ke arah bibir Dave.
Baru saja bibir Dave akan menyentuh bibir Sila.
"Mama! ayo..!"
Sila langsung mendorong Dave dan salah tingkah menoleh ke kanan dan ke kiri.
"Iya sayang, sebentar. Mama sedang mencari handuk!" ucap Sila memberi alasan pada Mika.
"Cepat mama!" ucap Mika lagi lalu kembali masuk ke dalam kamar mandi.
Dave malah terkekeh melihat Sila yang salah tingkah karena perbuatannya.
"Sayang, handuk selalu ada di kamar mandi. Di rak khusus handuk!" ucap Dave membuat Sila mendengus kesal.
"Sudah tahu!" ucap Sila yang melangkah buru-buru ke kamar mandi.
"Sayang jangan buru-buru, aku masih bisa sabar menunggu sampai nanti malam kok!" Ucap Dave menggoda Sila lagi.
Sila yang sudah masuk ke kamar mandi, menyembulk4l kepalanya dan melirik tajam ke arah Dave.
"Mas!" pekik Sila membuat Dave makin terkekeh lagi.
***
__ADS_1
Bersambung...