Ketika Yang Kucintai Berkhianat

Ketika Yang Kucintai Berkhianat
KYKB 160


__ADS_3

Hadi yang merasa ruangannya memang terasa sangat berbeda dan lebih tapi lebih segar, tak bisa untuk tidak memuji pekerjaan yang dilakukan oleh Rosa.


"Apa semua ini kamu yang rapikan, dan bersihkan?" tanya Hadi.


Rosa tersenyum lalu mendekati Hadi, ketika Rosa mendekatinya Hadi sedikit terkejut.


'Mau apa dia?' tanya Hadi dalam hati.


Tapi Hadi langsung menghela nafas ketika Rosa hanya meraih tas Hadi dan meletakkan nya di atas meja kerja Hadi.


"Saya tidak serajin itu pak, yang membersihkan ruangan ini OB. Saya hanya merapikan beberapa buku dan map sesuai warnanya saja. Juga menambah beberapa vas bunga, agar ruangan bapak lebih segar. Saya harap bapak tidak marah karena saya belum minta ijin pada pak Hadi?" tanya Rosa yang berdiri dengan agak gelisah di depan Hadi.


Dia takut kalau Hadi akan marah. Tapi menurut Rosa, ruangan Hadi terlalu serius, jadi dia ingin merubahnya jadi lebih nice saja.


"Kenapa harus marah, ini juga bagus. Tata ruang yang lama itu memang selera Susan. Tapi ini juga bagus!" jawab Hadi.


Rosa tersenyum lega, tapi dia juga langsung memperhatikan pakaian Hadi. Bahkan dasi yang Hadi pakai sedikit miring.


"Maaf pak, dasi bapak agak... !" Rosa menjeda kalimatnya dan mempraktekkan dengan tangan kalau dasinya agak miring.


Hadi yang mengerti maksud Rosa, langsung membenarkan dasinya tapi karena tidak sambil melihat cermin, Hadi sedikit kesulitan meluruskan posisi dasinya.


"Maaf pak, apa boleh saya bantu?" tanya Rosa.


"Oh iya!" ucap Hadi.


Rosa lalu langsung mendekati Hadi dan merapikan posisi dasinya. Jarak mereka yang begitu dekat, membuat Hadi bisa mencium wangi parfum yang di pakai Rosa. Sangat wangi hingga membuat Hadi tercengang sejenak.


Namun ketika, Hadi masih melihat ke arah Rosa, Rosa yang sudah selesai merapikan dasi Hadi juga langsung mendongak melihat ke arah Hadi.

__ADS_1


Dua pasang mata saling bertemu. Rosa yang memang sejak awal merasa Hadi memperhatikannya tak mau melepaskan kesempatan baik ini. Dia malah tersenyum penuh arti pada Hadi, membuat Hadi juga membalas senyuman Rosa yang memang sulit untuk di tolak oleh pria normal manapun, paras cantik, masih sangat muda, bentuk tubuhnya juga seperti gitar spanyol. Tentu saja Hadi terpana.


Tangan Hadi bahkan sudah terangkat ke arah wajah Rosa. Tapi baru dia akan menyentuh wajah Rosa, pintu ruangan Hadi ada yang mengetuk.


Tok tok tok


Rosa langsung menjauh dari Hadi dan meraih tablet yang memang miliknya, lalu berdiri di samping meja kerja Hadi.


Hadi sedikit kesal, tapi dia langsung berseru.


"Masuk!" sahut Hadi.


Deni masuk ke ruangan itu, dan menghampiri Hadi.


"Aku sampai lupa, tadi aku ingin memberikan ini padamu. Dua puluh menit lagi kamu di tunggu di ruang meeting. Bos ingin tahu kenapa tuan Dave Hendrawan menarik 60 persen investasi nya pada perusahaan kita. Saat aku menghubungi Anita, dan bertanya apa yang menjadi alasan tuan Dave melakukan itu, Anita bilang tanya saja pada Hadi Tama. Begitu katanya. Sebenarnya apa yang terjadi?" tanya Deni yang ikut bingung karena hal ini juga berpengaruh pada pekerjaan nya.


Hadi Tama langsung memegang pelipisnya yang terasa berdenyut.


Deni yang memang mengenal dua nama yang di sebutkan oleh Hadi barusan malah memasang wajah bingung. Dia memang tahu Sila itu mantan istri Hadi dan Susan adalah calon istri Hadi. Tapi dia tidak tahu apa hubungannya Susan cari masalah dengan Sila, dengan Dave Hendrawan menarik investasinya sebanyak itu. Bahkan lebih dari 50 persen.


"Tunggu dulu, apa hubungannya dengan Sila? kenapa Susan cari gara-gara dengan Sila, tapi perusahaan kita yang rugi?" tanya Deni yang masih bingung.


Rosa hanya menyimak obrolan antara Hadi dan Deni dengan diam. Tapi sebenernya dia juga sedang membaca situasi yang mungkin akan menguntungkan dirinya di masa depan nanti.


Hadi langsung menghempaskan tangannya ke udara.


"Ya karena Sila sekarang adalah istrinya Dave Hendrawan!" jelas Hadi dengan sedikit kesal.


Mata Deni membulat sempurna, mulutnya bahkan terbuka lebar tak percaya dengan apa yang barusan dia dengar.

__ADS_1


"Hadi, Sila sudah menikah dengan Dave Hendrawan?" tanya Deni dan Hadi dengan cepat mengangguk kesal.


Tapi ekspresi bingung Deni itu lantas berubah menjadi tawa kagum pada Sila.


"Wah, aku sih sudah duga ya kalau Sila itu nasibnya memang selalu bagus. Saat bekerja saja dia bisa mendapatkan jabatan lebih tinggi darimu dan sekarang setalah bercerai dengan mu dia malah menikah dengan CEO paling kaya di ko...!"


Deni langsung menghentikan kalimat yang ingin dia katakan, ketika melihat Hadi sudah berkacak pinggang dan melotot dan memasang wajah menyeramkan pada Deni.


Deni yang merinding karena reaksi Hadi atas apa yang dia katakan tentang Sila, langsung mengangkat tangannya di depan Hadi dan menggerakkan tangannya itu ke kanan dan ke kiri.


"Maksud ku bukan begitu, ya sudah sebaiknya kamu bersiap. Jangan lupa dua puluh menit lagi datang ke ruang meeting direksi!" ujar Deni sambil berjalan mundur dan keluar dari ruangan Hadi.


Hadi mendengus kesal, dengan satu tangan memegang pelipisnya dan satu tangan di pinggang. Hadi terus mondar-mandir, dia bahkan lupa kalau ada Rosa di dalam ruangan bersamanya.


'Kenapa sampai sekarang pun, aku masih tidak bisa menang di bandingkan dengan Sila. Kenapa selalu dia yang mendominasi, padahal aku ingin sebagai seorang pria dua hanya berdiri di sampingku, bukan di depanku!' gumam Hadi dalam hatinya.


Sebenarnya dia juga menyayangi Sila, hanya saja karena orang-orang di sekitar mereka selalu membandingkan dirinya dengan Sila. Hadi jadi makan h4ti sendiri. Dan melampiaskannya dengan selingkuh dengan Susan yang menjelma seperti wanita yang dia inginkan, penurut, cantik, lemah lembut dan perhatian padanya.


Saat Rosa menyadari kalau Hadi sedang bingung. Rosa langsung berdehem pelan.


"Maaf pak, apa ada yang bisa saya bantu?" tanya Rosa dengan suara yang lembut.


Hadi langsung menoleh ke arah Rosa. Dia baru sadar kalau Rosa masih ada di ruangan nya.


"Rosa, kamu...!"


Rosa yang mengerti Hadi sedang gusar karena calon istrinya membuatnya dalam masalah tidak menyia-nyiakan kesempatan ini. Rosa lalu mengusap lembut lengan Hadi.


"Pak, saya yakin pak Hadi akan mampu menjelaskannya pada CEO perusahaan kita, Tuan Kamal juga pasti akan mendengarkan pak Hadi, kalau pak Hadi bisa menjelaskan dengan kata-kata yang tepat. Lagipula, kerja sama ini juga berkat usaha pak Hadi kan. Dan saya sangat yakin kalau Pak Hadi pasti bisa mengatasi masalah ini!" ucap Rosa memberi semangat pada Hadi yang tanpa sadar sudah memeluk lengan Hadi.

__ADS_1


***


Bersambung...


__ADS_2