
Hadi yang memang sudah tidak ingin membuat banyak kesalahan lagi memilih untuk kooperatif dan mengikuti polisi yang akan membawanya ke kantor polisi. Meninggalkan Murti dan Haris yang hanya bisa terduduk lemas di lantai karena sama sekali tidak menyangka anak yang mereka didik dan rawat sejak kecil dengan penuh perjuangan itu akan membuat mereka sangat kecewa dan sedih seperti itu.
Ketika Hadi sudah masuk ke dalam mobil polisi, seorang petugas menghampiri polisi yang sepertinya memiliki jabatan yang lebih tinggi. Polisi itu juga yang tadi memerintahkan para anggotanya segera menangkap dan membawa Hadi.
"Lapor pak, Susan berhasil melarikan diri. Tapi para anggota yang lain juga sudah mengejarnya!" ujarnya setelah memberikan hormat pada pria yang bernama tag Sugeng itu.
"Baiklah, sebagian anggota tetap kejar Susan sampai dapat, sebagian kembali ke kantor!" perintah Sugeng.
Lagi-lagi anggota yang di depan Sugeng itu memberikan hormat dan menunjukkan sikap siapnya.
"Siap, laksanakan!" sahutnya dan langsung berbalik pergi lalu mengendarai sepeda motor nya dan mengejar Susan.
Hadi yang mendengar hal itu, kalau Susan telah melarikan diri pun hanya bisa tertunduk diam.
'Mau lari kemana kamu Susan, memangnya bisa lari kemana kamu?' batin Hadi yang yakin kalau Susan tidak akan mampu melarikan diri jauh.
Sirine mobil polisi berbunyi, iring-iringan dua buah mobil itu meninggalkan kediaman mewah Hadi Tama. Dengan Hadi yang berada di dalam mobil tersebut, dengan tangan di borg0l Hadi mengusap wajahnya kasar. Dia benar-benar menyesali semua perbuatannya itu, yang ternyata memang sangat buruk semenjak Susan datang lagi ke kehidupannya. Tapi dia tidak menyalahkan Susan, dia sadar semua itu terjadi karena dirinya terlalu di lemahkan oleh cintanya pada Susan.
Susan memang cinta pertama Hadi, hal itu membuat perasaan Hadi bahkan masih ada untuk wanita itu meskipun dia tahu Susan sudah pernah meninggalkan dirinya dan menikah dengan orang yang lebih kaya darinya. Tapi begitu dia sukses dan memiliki segalanya, bahkan anak dan istri seperti Mika dan Sila, begitu Susan datang, dia kembali tergoda.
Jadi karena hal itu, dia juga tidak pernah menyalahkan orang lain untuk hal ini. Dia benar-benar hanya menyalahkan dirinya sendiri yang terlalu lemah iman. Hingga meninggalkan dan menjebak wanita sebaik Sila.
Sementara itu pengejaran terhadap Susan masih berlangsung. Mobil yang di kendarai Susan di ikuti oleh dua sepeda motor polisi dan juga satu mobil polisi yang jaraknya masih terlalu jauh dari mobil Susan.
__ADS_1
Susan dan Mila mulai panik, karena polisi yang memakai sepeda motor memudahkan mereka menyusul Susan dengan cepat.
"Susan, jangan terus menoleh ke belakang. Kamu mau kita celaka?" tanya Mila dengan suara keras.
Mila berkata seperti itu karena sejak tadi Susan terlalu sibuk menoleh ke belakang mengawasi polisi yang mengejar dirinya masih jauh atau tidak. Sejujurnya dalam hati Susan sudah sangat ketar-ketir, tapi dia juga tidak mau mendekam di penjara.
"Ibu, aku tidak mau di tangkap polisi Bu. Aku tidak mau di penjara!" keluh Susan yang matanya mulai berkaca-kaca.
Mila melihat kecemasan dari putrinya itu, apalagi sekarang Susan sedang hamil. Dia tahu putrinya itu akan lebih sensitif. Tapi sayangnya dia juga tidak bisa mengemudi dalam keadaan seperti ini, kaki Mila bahkan masih gemetaran.
"Susan dengar. Jangan panik, lihat dan fokus saja ke depan. Ibu yang akan mengawasi para polisi itu. Di depan segera masuk ke jalan tol. Dan tancap gas setelah itu!" ujar Mila memberi arahan pada Susan.
Susan segera menghela nafas panjang, Susan juga langsung menuruti arahan dari ibunya. Dia langsung fokus ke depan dan mengemudi dengan kecepatan yang sangat tinggi. Keadaan jalan memang sedikit lengang, karena memang baru akan masuk tengah hari. Jadi mobil yang tidak banyak melintas membuat Susan bisa melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi.
Setelah beberapa saat mereka lantas masuk ke jalur tol. Tanpa mereka sadari itu merupakan kesalahan besar mereka. Para petugas polisi tentu saja sudah berkoordinasi dengan yang lainnya. Jalur tol yang sedang di tuju Susan justru di jalur itu sedang ada banyak polisi yang sedang menangani sebuah kasus kecelakaan.
Begitu mendekati lokasi pemeriksaan, Mila meminta Susan untuk putar balik. Tapi hal itu justru memancing kecurigaan para polisi. Mereka lantas berlari menghampiri mobil Susan, Susan yang panik langsung menginjak pedal gas tanpa dia sadari mobil yang dia kemudian itu belum putar balik dengan sempurna.
"Susan, awas!!" teriak Mila.
"Aaghhhhkk!"
Brakkkkkkkk
__ADS_1
Mobil yang di kendarai Susan dan Mila pun menghantam beton pembatas jalan dengan cukup kencang. Hingga suaranya membuat semua orang memegang telinga dan dada mereka karena sangat terkejut dengan suara tabrakan yang terjadi.
Para polisi bergegas mengamati mobil Susan karena sudah terlihat ada percikan api dari kap depan mobil yang ringsek parah. Sebagian yang lain menghubungi ambulance lain, karena ambulance yang menangani kecelakaan sebelumnya sudah meninggalkan area itu.
Polisi melihat kondisi Susan dan ibunya sangat mengenaskan. Mereka terhimpit dan berlumur4n darah. Butuh waktu cukup lama bagi para anggota polisi mengeluarkan Susan dan Mila yang sudah tidak sadarkan diri dari dalam mobil.
Sorang polisi wanita bertambah panik ketika melihat darah yang mengalir sangat banyak dari kaki bagian atas Susan.
"Innalilahi, dia sedang hamil. Dan dia pendarahan. Suruh ambulance nya datang dengan cepat!" seru petugas wanita itu yang merasa kasihan pada janin yang ada di dalam kandungan Susan.
Kemacetan parah pun terjadi, beberapa orang juga sudah mengabadikan kejadian tr4gis itu dan mengunggah ke akun media sosial mereka masing-masing. Berita ini pun sampai ke kantor polisi dimana Hadi sedang di mintai keterangan.
"Mobilnya ringsek parah, Wanita yang lebih muda yang di duga merupakan target yang melarikan diri itu pun sepertinya keguguran!" laporan seorang anggota yang mendapatkan kabar dari ruas tol dimana terjadinya kecelakaan.
Hadi yang mendengar hal itu pun sangat yakin kalau wanita yang dimaksud itu adalah Susan. Hadi pun mengusap wajahnya kasar.
'Seharusnya kamu tidak lari Susan, sekarang kita kehilangan anak kita!' sesal Hadi dalam hatinya.
"Pak, apa Susan dan ibunya selamat?" tanya Hadi kemudian yang merasa sangat perih di dalam hatinya mendengar kabar itu.
"Kondisi mereka kritis, wanita yang muda pendarahan parah dan yang wanita paruh baya, salah satu kakinya terjepit parah. Hingga kemungkinan pasti akan di amputasi!" jawab polisi yang di tanyai oleh Hadi.
Hadi kembali mengusap wajahnya kasar. Dia benar-benar tidak sanggup membayangkan apa yang terjadi pada Susan dan ibunya.
__ADS_1
***
Bersambung...