
Sementara itu di tempat lain, pagi yang tenang sudah tidak bisa lagi di rasakan di sebuah rumah yang sangat besar, rumah yang sudah selama beberapa hari ini menjadi tempat tinggal Hadi dan juga Mika, serta dua orang pelayannya. Baby sitter Mika yang lama ternyata juga sudah di pecat oleh Hadi, karena saat Mika menangis dan meminta bertemu dengan Sila, baby sitter itu berusaha menghubungi Sila, namun karena Hadi mengetahui nya Ponsel baby sitter itu langsung di banting sampai hancur oleh Hadi. Dan baby sitter itu langsung di usir pergi oleh Hadi, dan Hadi juga mengancamnya, kalau sampai dia memberitahukan pada Sila alamat baru Hadi, maka Hadi akan melaporkan nya pada polisi. Hadi mengancam, dia saja bisa membuat Sila terusir dari rumah apalagi hanya seorang baby sitter saja, bukan hal yang sulit baginya.
Dan sejak hari itu, tidak pernah ada lagi kamar dari baby sitter itu. Karena Hadi sendiri yang sudah mengantarkan baby sitter Mika itu ke kampungnya.
Sebenarnya semua itu juga bukan ide dari Hadi sendiri, sangat banyak pengaruh Susan memang dalam segala tindakan yang di ambil oleh Hadi. Bahkan yang menyarankan agar Hadi menghasut Mika untuk membenci ibu kandung nya juga adalah Susan. Agar dirinya tidak sulit mendekati Mika dan Mika tidak minta bertemu dengan ibunya lagi.
"Tuan, nona Mika tidak mau makan. Dia terus membuang makanan di piringnya. Dia terus menangis dan meminta bertemu dengan mama nya!" keluh salah seorang pelayan nya yang sudah sangat berantakan penampilan nya dan juga sudah berkeringat sangat banyak sampai membasahi bajunya.
Hadi yang sudah akan berangkat ke kantor kemudian berdecak kesal lalu berjalan dengan cepat ke kamar Mika.
Ceklek
"Mika sayang, berhentilah membuat masalah. Papa harus berangkat bekerja, menurut lah pada bibi Sari. Mika kan anak baik!" ucap Hadi yang berjongkok di depan Mika sambil menyeka air mata yang membasahi putri kecilnya itu.
"Mika mau ketemu mama, Mika mau mama!" rengek anak kecil yang memakai pita kuning di kepalanya itu.
Hadi langsung memasang wajah yang sangat sedih dan memelas.
"Mika sayang, kita tidak akan pernah lagi bertemu mama. Mama sudah pergi dengan pria lain, yang lebih kaya dari papa. Mama Mika tidak mau hidup susah dengan papa, karena itu mama pergi. Mama sudah tidak sayang sama papa, kalau Mika juga tidak sayang sama papa, maka papa akan sendirian dan...!" Hadi menjeda kalimat bohongnya dan menundukkan wajahnya di depan gadis kecil itu.
Mika yang melihat ayahnya sedih, lalu menyentuh pipi hati yang ketika mengangkat kepalanya ternyata matanya sudah berkaca-kaca dan di sudut matanya sudah ada air mata yang menetes.
"Papa jangan sedih, Mika sayang papa. Tapi mama juga sayang papa, Mika akan bilang sama mama supaya mama pulang!" ucap gadis kecil itu.
__ADS_1
Hadi langsung menggelengkan kepalanya dengan cepat.
"Tidak mungkin Mika, mama bahkan sudah menjual rumah kita dan pergi jauh dengan pria kaya itu, kalau dia memang sayang Mika dan juga papa, mama pasti akan kemari mencari kita kan?" tanya Hadi pada gadis kecil yang terlihat kebingungan di depannya itu.
Hadi langsung menangkap kedua pipi Mika.
"Mika sayang, biar mama pergi. Jika itu membuatnya bahagia papa rela. Papa kan masih punya Mika, Mika sayang papa kan?" tanya Hadi dan Mika pun mengangguk.
"Kalau Mika sayang papa, Mika gak boleh merengek minta bertemu mama lagi, karena meskipun Mika menangis seperti apapun, mama tidak akan pernah kembali. Mama memilih pria itu nak, tolong jangan buat papa sedih, Mika tidak mau kan kalau papa sakit?" tanya Hadi dan Mika kembali mengangguk.
"Baiklah, sekarang Mika makan ya, papa akan menyuapi Mika!" ucap Hadi lalu memangku Mika dan meraih piring berisi makanan dari tangan bibi Sari.
Hadi mulai menyuapi Mika, dan karena semua yang di katakan Hadi, Mika pun jadi menuruti Hadi karena tidak mau papanya sedih dan sakit.
***
Di tempat lain, di Golden Butik Andri masih menunggu kedatangan Sila. Nomer ponsel yang tercantum dalam surat lamaran kerja Sila sudah beberapa kali di hubungi oleh Andri. Tapi hasilnya tetap sama, tidak bisa lagi di hubungi.
"Prita, bagaimana kalau kita ke alamat yang ada di surat lamaran kerja Sila ini. Sudah dua hari, dan tidak ada kabar. Jika memang dia tidak mau bekerja lagi, maka kita bisa merekrut karyawan baru lagi!" seru Andri yang terlihat kecewa pada kinerja kerja Sila.
Sementara itu Prita sebenarnya menyayangkan kalau sampai Sila berhenti bekerja, karena Sila itu sangat tenang ketika menghadapi pelanggan yang mengomel dan berkata kasar, terlebih lagi bahasa Inggris nya juga lumayan di bandingkan dengan yang lain. Tapi karena Sila juga yang telah tidak memberi kabar selama dua hari, Prita juga tidak bisa membantunya.
"Baik pak, saya akan lihat dulu alamatnya di surat lamaran kerjanya!" ucap Prita yang bergegas meraih dokumen lamaran kerja di salah satu lemari yang ada di ruangan Andri.
__ADS_1
Tapi baru akan membuka lemari, ada yang mengetuk pintu ruangan kerja Andri.
Tok tok tok
"Pak Andri, ini saya Dewi. Ada yang mau bertemu dengan bapak!" seru Dewi dari luar pintu.
"Masuk!" sahut Andri yang langsung berdiri dari kursi kerjanya.
Ceklek
Ketika pintu terbuka, Dewi masuk bersama dengan seseorang yang mereka kenali.
"Tuan Joseph!" sapa Andri yang sudah sering melihat Joseph yang merupakan pengawal dari Dave yang merupakan member VIP di Golden Butik.
"Silahkan duduk tuan Joseph!" ucap Andri.
Joseph yang hanya berdiri di depan Andri segera melepas kacamata hitam yang menjadi ciri khas nya.
"Aku tidak akan lama disini, aku hanya ingin sampaikan kalau nona Sila tidak akan lagi bekerja di sini. Hanya itu saja, permisi!" ucap Joseph yang langsung pergi keluar dari ruang kerja Andri.
Dewi dan Prita yang masih berada di ruangan itu hanya tertegun, berbeda dengan Andri yang hanya bisa menghela nafasnya panjang karena sekarang dia mengerti kenapa kemarin Dave memberikan hadiah gaun yang begitu mahal pada Sila.
***
__ADS_1
Bersambung...