
Keesokan harinya...
Seorang wanita dengan kebaya putih gading, dan riasan yang sangat sesuai dengan bentuk wajah dan karakternya. Membuat siapapun tidak akan pernah bisa memalingkan pandangannya dengan mudah dari wanita itu.
Dia adalah Karina, sang mempelai wanita. Sanggul sederhana yang melengkapi riasan bak putri raja itu membuat Karina tampak anggun dan sangat cantik, benar-benar cantik.
Siapa sangka wanita muda yang berasal dari desa dengan kehidupan yang sangat sederhana itu sekarang sedang duduk di depan meja rias dengan tiara bertahta berlian di atas kepalanya. Juga kebaya yang di buat oleh designer lulusan termuda dari sekolah designer di Paris.
Karina sendiri hampir tidak bisa percaya, kalau yang ada di pantulan cermin itu adalah dirinya. Matanya berkaca-kaca melihat dirinya yang beberapa menit lagi akan resmi menjadi nyonya Randy Hendrawan.
"Jangan menangis sayang, tersenyum lah nak. Ini adalah hari pernikahan mu!" ucap Marlina yang sejak tadi subuh menemani Karina mandi dan merias dirinya.
Karina memegang tangan ibunya yang berada di bahunya.
"Ibu bangga padamu nak, kamu bisa menjaga kehormatan dan nama baik ayah dan ibu sampai hari ini. Dimana kamu akan menjadi tanggung jawab orang lain, ibu...!"
Marlina meminta Karina jangan menangis, tapi dirinya sendirilah yang sekarang menangis dan tak dapat melanjutkan apa yang ingin dia ucapkan.
Sila yang juga berada di sana langsung memeluk Marlina dari samping.
"Bibi, jangan menangis. Karina akan memasuki babak baru kehidupannya, sebagai seorang istri. Tapi bagaimanapun, dia juga tetaplah Karina kita. Anak bibi yang sangat baik, dan sahabat terbaik ku!" ucap Sila yang matanya juga berkaca-kaca.
Dua adik Karina juga terlihat menitikan air mata mereka. Suasana benar-benar haru di dalam ruangan itu. Sampai Davina dan Shafa datang.
"Karina, sudah siap. Ayo sayang, sudah waktunya ijab qobul!" ucap Davina membuat semua orang menyeka air matanya.
"Loh, ada apa ini?" tanya Davina yang langsung mendekati Marlina.
"Besan, putrimu akan menikah bukan mau berperang. Jangan seperti ini, seharusnya kita hiasi hari ini dengan senyum dan tawa bahagia!" ucap Davina berusaha untuk mencairkan suasana.
Tapi sepertinya semua orang masih terlihat diam. Davina pun mendekati Sila.
__ADS_1
"Sila sayang, katakan pada ibunya Karina. Kalau aku ini bukan mertua yang kejam. Aku tidak menyiksa menantu ku, iya kan Sila?" tanya Davina membuat Sila terkekeh pelan.
Sila pun mengangguk.
"Iya bibi, ibu mertuaku adalah ibu mertua terbaik di dunia!" jawab Sila.
"Nah kan besan, dengar itu. Aku ini ibu mertua yang baik. Jangan cemaskan putrimu menikah dengan anakku, lagi pula Randy sangat bucin pada Karina. Dia juga tidak akan pernah menyakiti Karina. Kalau itu sampai terjadi, aku janji padamu di hadapan semua orang yang ada di sini. Aku akan membela Karina dan mencoret Randy dari kartu keluarga ku. Apa itu cukup meyakinkan mu?" tanya Davina pada Marlina.
Tapi air mata Marlina justru mengalir lagi. Dia bahkan memeluk Davina.
"Terimakasih besan, ini bukan air mata kesedihan. Ini adalah air mata kebahagiaan. Aku begitu bahagia melepaskan putriku menikah dengan pria sebaik nak Randy dan ibu mertua sebaik dirimu!" ucap Marlina yang sebenarnya juga membuat Davina ingin menangis.
Tapi Davina langsung menghela nafas panjang, dia adalah orang yang sangat memperhatikan penampilan. Kalau dia menangis maka matanya akan merah. Dan itu akan membuat make up paripurnanya jadi tidak paripurna lagi.
"Kalau begitu tersenyum lah, pokoknya hanya boleh ada senyum hari ini!" ujar Davina.
Shafa, Isnara, Lili dan Putri pun menjadi pendamping pengantin untuk Karina. Karena ayah Karina sudah tiada, maka yang mengantarkan Karina ke pelaminan adalah para pendamping pengantinnya.
Randy yang sudah ada di pelaminan. Dimana akan dilaksanakan prosesi ijab qobul di sebelah pelaminan yang terdapat enam buah kursi dan satu buah meja.
Mata Jimmy melebar ketika melihat Isnara menjadi salah satu pendamping pengantin Karina.
'Dia bukan asisten rumah tangga? kalau begitu siapa dia? bukannya dua adik Karina hanya yang berdiri di depan itu?' tanya Jimmy dalam hatinya.
Saat semua pasang mata hanya melihat ke arah Karina. Jimmy justru terus melihat ke arah Isnara.
Banyak yang melihat Karina dengan tatapan kagum. Anita juga tidak menyangka kalau Karina akan menikah dengan Randy. Dia kira Karina itu akan menjadi nyonya Joseph. Tapi dia sangat senang dengan kebahagiaan dari keluarga atasannya Dave.
Keluarga Sila, Ayah Prio Utomo, Tini, Bima dan Niken juga ikut merasakan kebahagiaan atas pernikahan Karina dan Randy. Semua keluarga Sila juga sangat menyayangi Karina, karena mereka tahu betul. Di saat terpuruk, paling terpuruk Sila, hanya Karina yang ada untuk Sila. Karena itu mereka juga sangat menyayangi Karina.
Karina sudah dekat dengan pelaminan, namun beberapa langkah lagi sepertinya Randy sudah tidak sabar dan langsung berjalan menghampiri Karina lalu mengulurkan tangannya pada Karina.
__ADS_1
Karina sedikit terkejut, dia bahkan menoleh cepat ke arah Randy. Masalahnya di GR alias Gladi Resik semalam seharusnya Randy baru menyambutnya saat dia sudah berada tepat di karpet gold.
Pembawa acara juga sudah tidak bisa menahan untuk tidak bicara.
"Tuan Randy, sabar... ternyata pengantin prianya sangat tidak sabar ya saudara-saudara!" ucap pembawa acara itu.
Suasana hikmat benar-benar langsung berubah menjadi riuh. Karena kekehan dari banyak tamu undangan yang ada di tempat itu.
Davina sampai menepuk dahinya sendiri melihat kelakuan putranya itu.
Oman juga terkekeh, membuat Joseph melotot tajam pada Oman.
"Jo, jangan melotot padaku. Ya ampun, lagian kenapa nona Karina lama sekali jalan ke pelaminannya. Tidak tahu apa kalau duda keren itu sudah tidak sabaran...!"
"Ekhem!"
Oman langsung menutup rapat mulutnya ketika Dave berdehem tanpa menoleh ke arah ke belakang.
Rizal hanya bisa tersenyum sambil menutup mulutnya.
'Anak ini!' batinnya sedikit kesal tapi juga sangat mengerti apa yang dirasakan Randy.
Sila yang berdiri di sebelah Davina juga tak bisa menahan kekehannya. Membuat Davina tambah menghela nafasnya berat.
"Baiklah tuan Randy, silahkan gandeng calon nyonya Randy menuju ke tempat ijab qobul!" seru pembawa acara.
Dengan wajah memerah, Karina pun menerima uluran tangan Randy. Lalu mereka berdua berjalan menuju meja dimana mereka akan melaksanakan ijab qobul.
Randy bahkan menarik kursi untuk Karina, jantung Karina semakin tak karuan berdetak. Saat dia duduk mendadak tangannya menjadi dingin. Apalagi setelah mendengar kalimat yang di katakan pak penghulu.
"Bisa kita mulai?" tanya pak penghulu.
__ADS_1
***
Bersambung...