
Ketika Sila telah tiba di rumah sakit bersama dengan Dave. Mika sebenarnya ingin ikut, tapi sayangnya dia harus sekolah di temani Diah dan di antarkan oleh Oman.
Sementara Dave menyetir mobilnya sendiri ke rumah sakit.
Saat akan berjalan menuju lantai khusus untuk dokter kandungan. Dave menunjukkan perhatian yang begitu membuat iri wanita wanita hamil lain yang juga ada di sana.
Sila sampai geleng-geleng kepala, kalau masalah membukakan pintu, dan memastikan jalan yang akan di tapaki Sila aman itu masih wajar ya, meskipun cara Dave juga terbilang agak lebay dengan berjalan di depan Sila dan memastikan Sila berjalan di tempat yang sudah dia jalani sebelumnya. Tapi ketika tubuhnya akan menyentuh dinding saja Dave menggunakan tangannya untuk melindungi bagian tubuh Sila yang akan menyentuh dinding itu. Sila semakin geli melihat tingkah suaminya itu.
Saat akan masuk lift pun, Dave meminta Sila menunggu agar liftnya kosong dulu.
"Mas, kamu kenapa sih?" tanya Sila sambil tersenyum geli melihat tingkah suaminya.
"Kenapa apanya?" tanya Dave bingung.
Tapi karena Sila tahu semua itu adalah demi dirinya dan si buah hati. Maka Sila langsung menggelengkan kepalanya dengan cepat.
"Tidak apa-apa mas, lanjutkan saja!" jawab Sila.
"Apanya?" tanya Dave bingung.
Ting
Tapi saat Dave masih menunggu jawaban dari Sila. Tiba-tiba pintu lift terbuka. Dan menunjukkan Davina dan juga Rizal yang sudah ada di dekat lift.
"Sila!" seru Davina senang sambil merentangkan kedua tangannya ingin memeluk Sila.
"Kak Sila!"
Tapi tiba-tiba saja Shafa malah menyerobot Ibunya dan memeluk Sila duluan.
Sila dan Dave cukup terkejut, sebab Davina, Rizal dan Shafa juga ada di sini. Mereka kira hanya akan ada Davina saja.
"Sila, nak Dave!"
Saat Sila dan Dave menoleh ternyata Prio Utomo dan juga Tini juga ada di tempat itu.
"Ibu, ayah!" ucap Sila senang ibu dan ayah nya juga datang.
Asisten dari dokter Claresta, dokter kandungan terbaik yang di pilih oleh Davina setelah menyeleksi beberapa dokter di rumah sakit ini pun dibuat takjub dan tersenyum senyum sendiri melihat pemandangan di depan matanya.
'Ya Tuhan, nyonya itu pasti sangat di sayangi oleh semua keluarganya. Beruntung sekali dia, hanya USG saja sudah di temani seluruh anggota keluarga, kedua orang tuanya dan juga kedua orang tuanya. Bahkan iparnya juga ikut. Benar-benar beruntung!' gumam asisten dokter Claresta yang adalah seorang wanita muda berkacamata.
Dokter Claresta pun keluar dari ruangannya dan mempersilahkan pada Sila untuk masuk.
"Nyonya Susilawati Dave Hendrawan, Silahkan!" seru dokter Claresta dengan sopan.
__ADS_1
Sila pun di dampingi oleh Dave masuk ke ruangan pemeriksaan dokter Claresta. Davina dan juga Tini pun mengikuti kedua anak dan menantunya itu.
Yang lain hanya menunggu di ruang tunggu karena mereka juga paham kalau ruang pemeriksaan pastinya tidak seluas dan sebesar ruang tunggu. Akan sulit juga dokter Claresta berkonsentrasi memeriksa Sila kalau di dalam ruangannya terlalu banyak orang.
Setelah berada di dalam ruang pemeriksaan, dokter Claresta langsung meminta Sila untuk menimbang berat badannya terlebih dahulu. Setelah itu dokter Claresta meminta Sila untuk berbaring di ranjang pasien untuk memulai pemeriksaan.
Mulai dari memeriksa tekanan darah lalu detak jantung Sila. Setelah itu baru dokter Claresta di bantu asisten lain yang ada di dalam ruangan mulai menyingkap pakaian atas Sila hingga ke dada. Perut Sila yang sudah lumayan terlihat agak besar terlihat oleh Dave.
Hanya melihat perut istrinya saja, wajah Dave memerah. Alhasil dia berdekhem untuk menghilangkan kecanggungan nya.
"Diam Dave, kamu ini kenapa?" tanya Davina yang tidak suka Dave berdekhem. Karena takut mengganggu konsentrasi sang dokter saat memeriksa Sila.
Sila hanya tersenyum melihat wajah memerah suaminya dari jauh.
Dreeett...
Dug Dug Dug...
Wajah Dave langsung berubah, dia terlihat sangat takjub dengan suara yang terdengar begitu keras dari alat periksa detak jantung janin yang nama lainnya adalah Fetal Doppler itu. Meskipun itu bukan yang pertama, tapi kali ini detak jantung anaknya, calon anaknya itu terdengar begitu keras dan teratur. Membuat mata Dave bahkan sampai berkaca-kaca.
Davina dan Tini yang duduk bersebelahan sampai saling berpegangan tangan, karena ini memang baru pertama kalinya mereka menemani Sila periksa kandungan. Wajah excited tak bisa di tutupi Daru dua orang wanita paruh baya itu.
Lalu dokter Claresta mulai memakai sarung tangannya, dan mengganti alat yang akan dia pakai. Ketika asisten dokter Claresta sudah mengarahkan layar monitor 32 in ke arah mereka. Tini, Davina dan Dave sangat tidak sabar.
Mata Dave di buat takjub dengan bentuk janin di perut Sila.
"Nah ini dia dedek bayinya, ini kepalanya, semuanya sehat Bu, pak. Dan jenis kelaminnya, eh... kok di tutupin ya. Sebentar ya...!" ucap dokter Claresta membuat Davina, Tini dan Dave benar-benar penasaran bukan main.
"Nah ini dia, jagoan pak, Bu!" ucap dokter Claresta dengan yakin.
Sila langsung memejamkan matanya dan mengucapkan syukur.
"Alhamdulillah!" ucap Sila pelan.
Sebenarnya baik perempuan maupun laki-laki Sila tetap akan bersyukur, karena calon bayinya sehat.
Tapi Davina langsung berdiri dan bersorak senang, dia bahkan menarik Tini ikut berdiri dan langsung memeluk besannya itu.
Setelah memeluk Tini, Davina langsung berbalik dan memeluk Dave yang sudah menitikan air matanya karena begitu bahagia sampai tak bisa berkata-kata. Ada seorang bayi laki-laki di dalam kandungan Sila, dan itu adalah anak kandungnya. Dave tidak bisa menyembunyikan keharuan dan kebahagiaan itu.
Davina yang melihat putranya menangis langsung memeluk Dave lagi dengan erat.
"Jangan menangis nak, kamu harus bersyukur. Dan jaga baik-baik Sila dan calon anakmu itu!" ucap Davina pelan. Dan Dave mengangguk paham.
Setelah pemeriksaan selesai, dokter Claresta membersihkan gel yang ada di perut Sila. Setelah itu menutup kembali pakaian atas Sila dan membantunya untuk bangun. Tapi Dave langsung mendekat.
__ADS_1
"Aku saja dok!" ucap Dave cepat.
Dokter Claresta pun langsung tersenyum.
"Baik, silahkan pak!" sahut dokter wanita yang masih terbilang muda itu. Mungkin usianya sekitar 38 atau 39 tahun.
"Pelan-pelan sayang!" ucap Dave yang begitu melindungi Sila.
Lagi-lagi Sila hanya terkekeh. Masalahnya itu hanya bangun dari posisi tidur ke posisi duduk.
"Iya mas!"
"Saya akan tulis vitamin dan penambah darah untuk nyonya Sila ya. Janinnya sehat, perkembangannya juga sangat bagus!" jelas dokter Claresta.
Setelah selesai semuanya, Sila dan yang lain keluar dari ruang pemeriksaan. Yang berada di ruang tunggu sudah tidak sabar menunggu hasil USG nya.
Davina yang keluar mendampingi Sila langsung berseru pada sang suami.
"Mas, calon cucu kita laki-laki!" ucap Davina senang.
Rizal langsung tersenyum bahagia, matanya juga terlihat berbinar. Ekspresi yang sama juga di perlihatkan oleh Prio Utomo.
"Alhamdulillah!" serunya.
Rizal dan Prio Utomo bahkan juga saling berpelukan mengucapkan selamat satu sama lain. Shafa juga langsung memeluk Sila dan mengucapkan selamat pada kakak iparnya itu.
Seluruh keluarga bahagia mendengar kabar kalau Dave dan Sila akan segera memiliki bayi laki-laki. Tak terkecuali Randy dan Karina yang sudah di telepon oleh Davina karena Davina memang langsung mengabari semua orang yang ada kontaknya di ponselnya.
"Sayang, anak Sila dan Dave laki-laki!" kata Randy setelah menutup telepon.
Karina yang baru selesai mandi pun terlihat sangat senang mendengarnya.
"Alhamdulillah, wah lengkap sudah anak mereka. Ada Mika dan ada anak laki-laki!" seru Karina senang.
Randy langsung menarik Karina ke pangkuannya.
"Bagaimana kalau kita ulangi yang tadi pagi, siapa tahu akan menyusul mereka punya anak laki-laki!" ucap Randy.
"Aku baru selesai mandi, kita baru selesai tadi pagi....!"
Randy tak mendengarkan Karina dan langsung menariknya masuk ke dalam selimut lagi.
***
Bersambung...
__ADS_1