Ketika Yang Kucintai Berkhianat

Ketika Yang Kucintai Berkhianat
KYKB 206


__ADS_3

Setelah menjemput Mika dari sekolahnya, karena hari Sabtu, Mika pulang cepat dari sekolahnya. Dave mengajak Sila dan Mika berkunjung ke rumah orang tua Sila.


Semua anggota keluarga Sila sangat senang dengan kedatangan mereka. Apalagi Prio Utomo yang langsung memeluk dan menggendong Mika sejak awal Mika datang.


"Tante Niken, kak Dion dan kak Tasya sekolah ya?" tanya Mika kecil.


Niken yang baru saja meletakkan minuman untuk Dave dan Sila di atas meja tamu langsung duduk dan menjawab pertanyaan Mika.


"Iya sayang, jam satu nanti mereka baru pulang. Mika mau minum apa? Jus atau Chocolat milk?" tanya Niken.


"Tante, aku mau strawberry milk. Aku mau bikin sendiri!" ucap Mika langsung turun dari pangkuan kakeknya dan menghampiri Niken.


Niken juga langsung berdiri dan menggandeng Mika menuju dapur untuk membuatkan strawberry milk yang Mika inginkan.


"Bagaimana kabar ayah dan ibu?" tanya Dave pada Prio Utomo dan Tini.


"Ayah baik nak Dave, ibu juga. Semua vitamin dan diet makanan sehat yang kamu kirimkan membuat kami berdua sangat sehat, lihat !" jawab Prio Utomo senang.


"Bagaimana dengan kandungan mu Sila?" tanya Tini yang sejak tadi duduk di sebelah Sila.


"Baik Bu, bayinya juga sangat sehat. Dia bahkan sangat pengertian sama seperti saat hamil Mika dulu, tidak ada mual atau semacamnya!" jelas Sila.


Tini tersenyum, dia benar-benar bersyukur. Meski anaknya bilang kehamilan nya saat ini sama seperti saat dia hamil Mika dulu. Tapi Tini bisa melihat Sila saat ini lebih segar dan kelihatan sangat bahagia, ceria. Tidak seperti dulu, saat hamil dia malah lebih banyak bekerja untuk biaya kuliah Hadi yang tidak tahu balas budi dan tidak tahu diri itu. Sekarang Tini bisa melihat saat hamil, Sila benar-benar sangat di urus dan di manjakan oleh Dave.


Tini mengusap lengan anaknya dengan lembut.


"Ibu sangat bersyukur nak, ibu juga sangat berharap agar hubungan mu dengan nak Dave akan langgeng dan bahagia terus sampai selama-lamanya!" bisik Tini pada Sila.


"Amin, terimakasih doanya Bu!" sahut Sila pelan sambil tersenyum.


Sila tahu apa yang dirasakan oleh ibunya. Dia juga merangkul lengan ibunya dengan erat. Saat mereka sedang asik ngobrol santai. Tiba-tiba saja Oman masuk dan berkata.


"Maaf tuan, ada hal penting yang harus aku beritahukan pada tuan!" ucap Oman dengan sedikit membungkukkan badannya kepada Dave.


Melihat sepertinya yang akan di beritahukan Oman ini adalah hal penting dan sifatnya sedikit tertutup. Dave pun meminta ijin pada ayah mertuanya untuk keluar sebentar.


"Ayah, aku keluar sebentar!" ucap Dave.


Saat Dave berdiri, dia juga menepuk bahu Sila lembut dan berkata.


"Sayang, sebentar ya!"

__ADS_1


Setelah berkata seperti itu dan mendapatkan balasan berupa anggukan kepala dari Sila. Dave pun segera mengajak Oman untuk bicara di depan teras rumah orang tua Sila.


"Ada apa?" tanya Dave yang berdiri di depan Oman.


"Tuan, Roy dan yang lain sudah menemukan tempat Vincent Oberen bersembunyi bersama dengan kedua orang tuanya!" jawab Oman.


Mata Dave membulat.


"Bagus, dimana mereka?" tanya Dave.


"Di sebuah rumah kecil, di perkampungan nelayan. Roy sedang mengawasi pergerakan Vincent dan kedua orang tuanya di sana. Tuan ingin kami langsung menangkapnya atau bagaimana?" tanya Oman.


"Tunggu dulu, tetap awasi mereka. Kita harus mengambil surat perjanjian perceraian Shafa dan Vincent di kantor pengacara Wira dulu!" perintah Dave.


"Baik tuan!" sahut Oman cepat.


Selanjutnya Dave kembali lagi ke dalam rumah Prio Utomo. Dia berpamitan pada ayah dan ibu mertuanya.


"Loh, nak Dave. Tidak makan siang bersama dulu?" tanya Prio Utomo sedikit kecewa karena Dave harus segera pergi lagi.


Sebab Prio Utomo sangat ingin berbincang dengan Dave lebih lama lagi.


"Maaf ayah, ada hal mendesak. Jika semudah selesai, aku akan segera kembali ke sini, akan ku usahakan bisa makan malam bersama di sini!" jelas Dave.


"Baiklah, hati-hati di jalan ya nak Dave!"


"Iya ayah!" jawab Dave.


Sila lalu mengantarkan Dave sampai di depan rumah.


"Mas, sebenarnya ada apa?" tanya Sila pada suaminya.


Sila bertanya sebab Sila tahu pasti hal mendesak itu bukan urusan pekerjaan. Sebab setahu Sila, Dave akan mengesampingkan segala urusan pekerjaan jika sedang quality time dengan keluarganya.


"Vincent sudah di temukan, sayang kamu baik-baik di sini ya. Aku akan kembali setelah selesai membereskan pria bren9sek itu!" jawab Dave yang sangat menyiratkan kalau Dave masih sangat kesal pada Vincent.


Sila yang mencemaskan suaminya akan terlalu emosional dan berlaku kasar pada Vincent langsung memeluk lengan Dave.


"Mas, jangan bertindak kasar ya. Kata ibu, kalau istri sedang hamil, suaminya tidak boleh melenyapkan orang atau menghajar orang, kata ibu pam4li!" ucap Sila mencemaskan Dave.


Dave mengernyitkan dahinya. Dia baru dengar hal itu.

__ADS_1


"Benarkah?" tanya Dave


Sila pun langsung mengangguk dengan cepat. Melihat anggukan kepala Sila, Dave jadi gusar. Padahal sejak tadi dia memang sudah menahan amarahnya ingin menghajar Vincent.


Dave pun menghela nafasnya panjang lalu mencium puncak kepala Sila.


"Tenang saja sayang aku akan ingat ucapan mu ini. Lagipula kan ada Oman dan Roy, mereka yang akan mematahkan kaki dan tangan Vincent!" ucap Dave yang langsung masuk ke dalam mobilnya.


Sila hanya bisa berdoa, agar suaminya tidak lepas kendali. Sila pun kembali masuk ke dalam rumah.


Niken yang tidak melihat Dave langsung bertanya pada Sila.


"Suami mu mau kemana sih Sila, kelihatannya dia marah ya. Matanya merah?" tanya Niken.


Sila sangat kagum pada pengamatan mata tajam Niken, dia sudah seperti pakar mikro ekspresi Lita gading saja. Bisa tahu seseorang sedang marah atau sedang merasakan apa dalam hatinya, hanya dengan melihat matanya saja.


"Wah kak, kemampuan mu semakin luar biasa!" puji Sila.


Niken malah berdecak kesal.


"Hais, kamu ini aku serius!" protes Niken yang malah di tanggapi candaan oleh Sila.


"Suami Shafa sudah di temukan, mas Dave akan menemuinya!" jawab Sila lalu duduk di salah satu kursi di dekat meja makan.


Niken langsung duduk di sebelah Sila.


"Benarkah? apa dia akan mematahkan kaki dan tangan pria bernama Vincent itu?" tanya Niken penasaran.


Sila semakin melebarkan matanya.


"Kak, apa kamu seorang peram4l. Semua tebakan mu tepat sekali, seratus persen benar!" sahut Sila.


Niken malah memukul pelan lengan Sila.


"Kamu ini jangan bercanda terus, aku harap suami mu tidak lepas kendali ya. Karena pam4li bagi seorang calon ayah menghajar apalagi sampai melukai orang lain! kamu tahu kan itu anak pak RT, suaminya menabrak orang, katana tidak sengaja. Terus kaki orang itu patah, saat itu anak pak RT sedang hamil. Begitu melahirkan, anaknya itu... ck.. kamu tahu kan. Kasihan sekali dia!" ucap Niken.


Sila pun terdiam, sebab dia juga sedang memikirkan itu. Meskipun sudah meminta pada Dave untuk menahan diri, tapi dia juga tidak yakin akan hal itu, karena Dave sangat sayang pada Shafa, dia ingat kejadian saat di rumah sakit dimana Dave bahkan sampai memecahkan meja kaca karena amarahnya pada Vincent.


Sila mengelus perutnya pelan.


'Nak, doakan Daddy mu agar tidak sampai kelewatan ya nak!' batin Sila bicara pada calon anaknya dan Dave.

__ADS_1


***


Bersambung...


__ADS_2