Ketika Yang Kucintai Berkhianat

Ketika Yang Kucintai Berkhianat
KYKB 171


__ADS_3

Randy, Davina dan juga Rizal segera datang ke rumah sakit saat mendapatkan kabar tentang Shafa dari Dave.


Randy yang sangat cemas pada Shafa, dan memang sudah punya firasat akan ketidakberesan hubungan adiknya dengan Vincent pun segera turun dari mobilnya ketika sang supir baru berhenti. Dia bahkan langsung berlari ke arah lift meninggalkan ayah dan ibunya yang baru di bukakan pintu mobil oleh sang supir.


Randy langsung masuk ke dalam lift dan lebih dulu pergi ke ruang rawat Shafa. Setelah tiba di depan ruangan Shafa seperti yang di beritahukan oleh Dave, Randy langsung membuka pintu dan masuk.


Di sana dia melihat Dave sedang berdiri di samping tempat tidur Shafa sambil membelai lembut kepala Shafa yang tengah tertidur lelap. Randy juga melihat Sila yang ikut berdiri di samping Dave sambil mengusap lembut lengah suaminya itu.


Randy langsung bergegas mendekati Shafa.


"Dia pingsan atau tidur?" tanya Randy memastikan.


"Dia tidur!" jawab Dave cepat dan dengan suara pelan.


Randy menghela nafas lega, dia langsung menyentuh wajah adik perempuan satu-satunya itu.


"Aku sudah berpikir ada yang tidak beres dengan pernikahan mereka, harusnya aku bertanya pada Shafa. Mungkin semua ini tidak akan terjadi!" lirih Randy.


Sila yang melihat Randy seperti itu, melow dan sangat perhatian pada Shafa merasa sedikit terharu. Jika dia sangat sayang pada adiknya, Sila merasa kalau Randy pasti juga akan bisa sayang pada Karina.


Davina yang baru datang pun langsung menangis dan memeluk Shafa.


"Shafa sayang, kenapa jadi begini?" tanya nya sambil memeluk dan mengelus kepala Shafa.


Rizal juga sangat sedih melihat keadaan Shafa. Rizal juga mendekati Shafa dan menyentuh tangan putrinya itu dan menggenggam nya.


Di telepon tadi Dave bilang Shafa di sakiti Vincent, sampai dia pingsan dan trauma hingga harus di rawat secara intensif di rumah sakit Jimmy. Tapi detailnya Dave belum memberitahu pada Randy dan kedua orang tuanya.


"Apa yang sudah di lakukan Vincent pada Shafa. Apa dia memukul atau menganiaya Shafa?" tanya Rizal dengan suara bergetar.


Davina yang juga menyangka hal yang sama dengan suaminya langsung memeriksa tubuh Shafa. Kepala, leher, hingga tangan dan kakinya.

__ADS_1


"Apa yang sudah Vincent lakukan pada Shafa?" tanya Davina dengan nada panik.


"Kita duduk dulu, aku akan jelaskan!" ucap Dave.


Dave menggandeng tangan Sila dan juga mengajaknya untuk duduk di sofa. Meja yang di pecahkan oleh Dave tadi sudah di ganti oleh Jimmy.


Setelah semuanya duduk, Dave pun mulai bicara.


"Vincent dan Shafa ternyata punya perjanjian pernikahan!" ucap Dave yang membuat Davina dan Rizal terkejut bukan main.


Sementara Randy, dia sudah menduga hal itu.


"Sila mendengar hal itu di mall, saat tidak sengaja melihat Shafa dan Vincent bertengkar. Aku langsung meminta Joseph menyelidikinya, hingga Joseph merasa ada yang tidak beres dengan rencana liburan Shafa dan Vincent ke villanya, dan benar saja saat Joseph tiba di sana, Vincent sudah memberi Shafa obat perangs4ng dan berniat memaksakan dirinya pada Shafa!" jelas Dave.


Randy menampakan ekspresi yang sama seperti Dave tadi. Dia mengepalkan tangannya hingga buku-buku tangannya terlihat memutih. Matanya merah, dan rahangnya menger4s. Sementara Davina langsung memeluk lengan suaminya dan menangis pilu.


"Shafa, kenapa bisa begini yah? ku kira pernikahan mereka baik-baik saja. Bodohnya aku, aku ibunya tapi aku sama sekali tidak bisa mengerti putriku, aku tidak peka pada yang terjadi padanya!" lirih Davina di pelukan Rizal.


"Aku akan menghabisi si bren9sek itu!" geram Randy yang sudah akan berdiri namun di tahan oleh Rizal yang duduk di sebelahnya.


"Randy, tenang. Jangan gegabah. Kita harus tahu seperti apa masalah ini yang sebenarnya. Kita tidak bisa gegabah. Bagaimana mereka sudah menikah, dan itu atas persetujuan Shafa. Kita harus tunggu penjelasan Shafa, sebenarnya perjanjian apa yang ada antara Shafa dan Vincent...!"


"Shafa trauma ayah, dia sangat ketakutan. Dia terus memelukku sampai dia tertidur karena obat tidur yang di berikan Jimmy!" ucap Dave menyela ucapan sang ayah.


"Aku tahu, tapi ini juga masalah rumah tangga adikmu, akan berbeda kalau Vincent bukan suami Shafa!" jelas Rizal lagi.


Sila langsung mengusap lembut lengan suaminya beberapa kali untuk menenangkan nya. Randy yang sudah kesal setengah mati akhirnya duduk dan menuruti ayahnya menunggu Shafa bangun dan menceritakan semuanya.


Sementara itu Joseph sudah mencari keberadaan Vincent di semua kediaman nya. Rupanya dia memang sudah menjalankan rencana ini bersama kedua orang tuanya. Buktinya saat Vincent menghilang, kedua orang tuanya juga menghilang.


Joseph ingat kalau Vincent punya seorang nenek yang tinggal di sebuah rumah peristirahatan sederhana di pinggir kota. Joseph pun memutuskan untuk pergi ke sana. Tapi saat Joseph tiba di sana suasana sangat sepi. Dan saat itu masih jam 3 pagi, karena itu Joseph memutuskan untuk menunggu hingga pagi baru mengetuk pintu rumah nenek Vincent tersebut.

__ADS_1


Tapi Joseph juga sudah memerintahkan anak buahnya berjaga di bandara, pelabuhan, terminal dan dermaga. Dia juga berpesan pada anak buahnya agar jika melihat Vincent maka langsung tangkap dan bawa ke hadapannya.


Keesokan harinya, tepat jam 5 pagi. Seorang nenek tua keluar dari rumah peristirahatan sederhana bersama dengan seorang gadis muda yang menuntunnya. Joseph langsung turun dari mobil dan menemui nenek itu.


"Selamat pagi!" sapa Joseph.


Nenek tua itu langsung menoleh, dia tampak bingung ketika melihat Joseph. Si gadis remaja yang ada di sebelah nenek itu juga terlihat ketakutan karena wajah Joseph memang garang.


"Jangan takut, nama saya Joseph. Nenek ini neneknya Vincent kan?" tanya Joseph berusaha ramah tapi tetap saja wajahnya terlihat datar.


"Iya, cari siapa nak. Pagi-pagi buta begini?" tanya neneknya Vincent.


"Boleh saya duduk?" tanya Joseph dan si nenek menganggukkan kepalanya.


Joseph pun duduk, dan nenek itu juga. Sementara di gadis remaja yang sepertinya adalah perawat si nenek terlihat terus memegang bahu si nenek dengan tangan yang terlihat gemetaran.


"Tenang, saya tidak ada niat jahat. Saya hanya ingin bertanya. Apa Vincent ada menghubungi nenek kemarin?" tanya Joseph.


Joseph melihat nenek itu menghela nafas berat.


"Huh, anak itu. Ada maunya saja baru datang mencari ku. Apa kamu tahu, saat dia butuh bantuan ku dia datang. Tapi saat dia sudah dapatkan yang dia mau, mana ingat padaku. Kemarin aku menghubungi nya, dan bilang kaki ku sakit. Dia hanya kirim yang dan menyuruh Winda merawat ku dengan baik. Aku tidak hanya butuh uang, aku ini sudah tua. Aku ingin dia datang bersama dengan Shafa, aku rindu sekali padanya. Dia sangat baik dan perhatian!" omel nenek itu mencurahkan isi hatinya pada Joseph.


"Shafa?" tanya Joseph pelan.


"Iya, cucu menantu ku. Vincent bahkan memintaku pura-pura sakit parah untuk bisa menikah dengan Shafa. Tapi aku senang dia bisa menikah dengan Shafa, karena gadis itu sangat cantik dan baik!" ucap neneknya Vincent.


'Berpura-pura? dasar penipu!' geram Joseph dalam hatinya yang merasa sangat kesal pada semua rencana jahat Vincent untuk bisa menikah dengan Shafa.


***


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2