
Shafa yang tiba di rumahnya langsung memeluk erat Sila ketika melihatnya di ruang tamu, sedang berjalan menuju ke arah pintu.
"Aku merindukan mu kakak ipar, kamu tahu kak Sila ada kabar gembira. Kak Randy dan kak Karina sudah resmi menjadi sepasang kekasih!" ungkap Shafa yang tersenyum bahagia menyampaikan kabar baik itu pada Sila.
Sila juga tak dapat menyembunyikan kebahagiaannya. Dia senang kalau Karina bahagia, meski awalnya Sila lah yang menentang keras hubungan Randy dan Karina. Tapi setelah melihat Randy itu benar-benar sudah berubah. Sila pun tidak lagi keberatan kalau Karina akan menjadi kakak iparnya juga nanti.
"Benarkah? aku sangat senang mendengarnya. Mereka tidak ikut kemari?" tanya Sila.
"Ikut, mereka sedang mengeluarkan barang-barang dari mobil. Dimana ibu kak?" tanya Shafa.
"Ibu ada di kamarnya bersama Mika!" jawab Sila.
Wajah Shafa langsung bertambah senang ketika mendengar nama Mika di sebutkan.
"Wah, jadi sweetie baby incessnya aku ada di sini juga. Aku akan mencubit pipinya dulu!" ucapnya lalu segera meninggalkan Sila di ruang tamu sendirian.
Awalnya Sila dan Dave akan menjenguk Haris di rumah sakit. Tapi Sila keluar terlebih dahulu karena Dave ingat ponselnya tertinggal di ruang kerja ayahnya. Jadi Sila menunggunya di ruang tamu.
"Sila!" panggil Karina yang baru masuk ke dalam rumah.
Karina di susul Randy dan Joseph yang membawa beberapa barang di belakangnya lalu, Randy menyerahkan semua barang itu pada Joseph dan Joseph membawanya ke dalam.
"Selamat siang nona Sila!" sapa Joseph yang berjalan melewati Sila.
"Siang Jo!" sahut Sila.
Lalu Sila memeluk Karina yang sudah berlari ke arahnya dan memeluknya.
"Selamat ya, aku sudah dengar kabar baiknya dari Shafa!" ucap Sila sambil mengusap punggung Karina.
Karina lantas menarik dirinya sedikit menjauh dari Sila, dengan wajah memerah dia melirik ke arah Randy.
"Dua hari lagi, Randy akan datang ke desa dan menemui ibuku!' ungkap Karina malu-malu.
Sila sangat senang mendengar hal itu, dia lantas tersenyum pada kakak iparnya yang dulu sempat menggodanya juga itu.
"Selamat kak, aku selalu berdoa segalanya yang terbaik untuk kalian!" kata Sila dengan perasaan yang sangat tulus.
"Terimakasih Sila, apa kamu sudah akan pulang?" tanya Randy.
__ADS_1
"Aku dan Dave memang akan pergi tapi bukan untuk pulang ke rumah. Kami akan menjenguk ayah Haris di rumah sakit, beliau pingsan dan masuk ke rumah sakit!' jawab Sila.
"Ayah Haris?" tanya Randy bingung.
Sebab setahu Randy, nama ayah Sila itu Prio Utomo bukan Haris.
Mengerti kebingungan dari calon suaminya, Karina pun mencoba untuk menjelaskan.
"Pak Haris itu ayahnya Hadi, kakek nya Mika!" jelas Karina.
Randy pun mengangguk paham.
"Tapi apa yang terjadi sampai pak Haris jatuh pingsan Sila?" tanya Karina yang juga berempati pada pria paruh baya yang selalu di ceritakan tentang banyak kebaikannya oleh Sila pada Karina.
Sila pun mengenal nafasnya berat.
"Ayah Haris mungkin saja penyakit jantungnya kambuh, karena mas Hadi di tangkap polisi, bahkan sekarang sudah di tahan...!"
"Hadi di tangkap polisi?" tanya Karina menyela ucapan Sila karena begitu terkejut mendengar berita itu.
Sila pun mengangguk beberapa kali.
"Tapi kenapa? bukannya kamu sudah bilang tidak akan menuntutnya demi Mika...!"
"Bukan karena masalah dengan Sila, Karina!" ujar Dave yang baru masuk keruang tamu tapi sudah mendengar beberapa kalimat yang Karina ucapkan pada Sila tadi.
"Karena hal lain, sekali pengkhianat memang akan tetap seperti itu. Kasusnya kali ini adalah dia mengkhianati perusahaan tempatnya mencari makan dan penghasilan untuk menghidupi dirinya!" ketus Dave yang sangat kesal jika harus lagi dan lagi membicarakan manusia bernama Hadi Tama itu.
Randy yang mendengar ucapan ketus Dave itu hanya terkekeh getir.
"Dia sama sekali tidak memikirkan bagaimana Mika nanti dan juga keluarganya! sungguh bodoh!" sambung Randy.
Sila dan Karina pun saling pandang mendengar omongan dua kakak beradik di dekat mereka itu. Mereka benar-benar kompak kalau masalah memaki dan menghina orang lain.
"Mas, sudahlah. Ayo kita berangkat sekarang!" ajak Sila yang tak mau suaminya terus membicarakan hal buruk tentang orang lain.
Sila dan Dave pun berpamitan pada Karina dan Randy. Sementara itu Joseph yang baru selesai meletakkan barang Randy di kamarnya, kini beralih ke kamar Shafa untuk meletakkan barang Shafa yang dia bawa.
Karena yakin Shafa tidak ada di kamarnya, Joseph pun membuka pintu kamar Shafa begitu saja tanpa mengetuknya. Dan setelah itu dia meletakkan tas Shafa di dekat lemari. Tapi saat akan keluar, Joseph tidak sengaja melihat berkas yang ada di atas meja rias Shafa.
__ADS_1
Tidak seperti biasanya, Joseph tidak pernah memperdulikan barang apapun yang ada di kamar Shafa. Tapi kali ini dia merasa sedikit penasaran dengan berkas berwarna hijau itu.
Dengan langkah pasti Joseph berjalan ke arah meja rias dan meraih berkas itu kemudian membuka, dan membacanya. Setelah beberapa detik membaca, sebuah senyuman kecil terukir di wajah datar pria berusia hampir kepala empat itu. Setelah itu dia meletakkan kembali berkas yang isinya adalah persetujuan perceraian secara baik-baik yang sudah di tanda tangani oleh Vincent Oberen.
Joseph kemudian keluar dari kamar Shafa dengan perasaan senang. Entah kenapa wajahnya mendadak terlihat tidak lagi seperti es kutub. Lebih lunak sedikit, seperti es boba.
Saat dia akan menutup pintu kamar Shafa, sebuah suara sedikit mengagetkan nya.
"Pak tua, apa yang kamu lakukan? kamu baru keluar dari kamar ku ya? ngapain kamu di kamarku tadi?" tanya Shafa bertubi-tubi.
Shafa jadi penasaran kenapa Joseph wajahnya tidak garang seperti biasanya, dia sedikit menaruh curiga pada pengawalnya yang sudah menjaganya sejak dia berusia 7 tahun itu.
"Aku hanya meletakkan tas mu saja nona!" jawab Joseph santai.
Mendengar nada bicara Joseph yang santai, Shafa malah tambah curiga.
'Kenapa dia terlihat senang? apa dia habis dapat harta karun dari dalam kamarku. Tapi kan tidak ada harta karun di dalam kamar ku, cucian kotor sih banyak!' gumam Shafa dalam hatinya.
Joseph yang merasa urusannya sudah selesai pun berbalik dan hendak meninggalkan Shafa. Shafa pun membuka pintu kamarnya dan masuk ke dalam kamarnya.
"Apa ya? yang kira-kira bikin pak tua itu happy?" gumam Shafa bertanya-tanya pada dirinya sendiri karena begitu penasaran.
Matanya yang bulat itu langsung menyisir di sekitar kamarnya. Hingga dia melihat sebuah berkas berwarna hijau di atas meja riasnya.
Perlahan langkah wanita yang memakai setelah biru muda itu pun mendekati meja riasnya. Shafa meraih berkas itu dan membukanya.
Shafa menghela nafasnya panjang.
"Jadi ini sebabnya!" ucapnya santai.
Tapi beberapa detik kemudian.
"Hah... aku benar-benar resmi bercerai!" ucap Shafa yang seperti orang kaget.
"Aku jadi janda dong!" gumamnya dengan perasaan campur aduk.
***
Bersambung...
__ADS_1