
Keesokan harinya, pagi ini terasa begitu cerah. Secerah senyuman Sila yang sejak bangun tidur tadi tidak pernah hilang dari wajahnya. Sila sengaja bangun lebih awal untuk menyiapkan sarapan kesukaan Mika.
Saat seragam sekolah bermain Mika akan di setrika oleh Diah. Sila juga meminta Diah untuk membiarkannya menyetrika pakaian mika itu. Diah bahkan sangat terharu melihat semua yang di lakukan Sila pagi itu.
'Akan lebih baik sebenarnya kalau nona Mika tinggal bersama dengan ibu kandungnya!' batin Diah.
Diah membatin seperti itu karena selama ini selama di rumah Hadi, dia dan juga nenek Mika yang mengurus Mika. Itu pun terjadi kalau nenek Mika dalam keadaan baik dan tidak sedang bertengkar dengan Susan. Kalau nenek Mika sedang bertengkar dengan Susan, Mika pun terkena imbasnya. Jangankan di urus, neneknya bahkan tidak akan keluar dari kamarnya.
Jadi saat Diah melihat Sila yang sejak pagi sudah mengurus semua keperluan Mika, dia merasa akan lebih baik kalau Mika tinggal bersama Sila.
'Kasih sayang seorang ibu memang berbeda!' batin Diah lagi.
Begitu seragam Mika dan juga sarapannya sudah siap. Sila pun kembali ke kamarnya untuk membangunkan Mika.
Sila mengelus lembut kepala putri kecilnya itu dan menciumnya.
"Sayang, sudah jam enam. Ayo bangun nak. Mika harus pergi ke sekolah kan?" tanya Sila dengan suara lembut.
Mika hanya merubah posisi tidurnya saja, tapi matanya masih terpejam.
"Mika sayang, bangun yuk. Mama sudah siapkan omelette sosis kesukaan Mika!" ucap Sila lagi.
Mata Mikaila kecil terbuka sedikit demi sedikit.
"Mama!" panggil Mika yang langsung membuat Sila tersenyum.
"Iya sayang!" jawab Sila yang langsung merapikan rambut Mika yang sedikit berantakan dengan beberapa helai rambut yang menutupi wajahnya.
"Kenapa mama dan papa tidak tinggal bersama lagi? apa benar kata Tante Susan kalau mama sudah bosan sama papa? apa mama juga akan bosan sama Mika?" tanya Mika kecil dengan mata penasaran nya.
Sila langsung terkesiap begitu mendengar pertanyaan yang terlontar dari bibir mungil anaknya itu.
__ADS_1
'Kenapa Susan itu begitu serakah. Dia sudah merebut mas Hadi, kenapa dia masih juga ingin meracuni otak kecil Mika?' tanya Sila dalam hatinya.
Sila langsung merangkul Mika ke pelukan nya.
"Sayang, tidak seperti itu. Tidak seperti yang Tante Susan katakan. Mama dan papa berpisah karena memang kami harus berpisah, tapi mama dan Mika tidak akan pernah berpisah. Kita akan selalu bersama sayang!" ucap Sila yang sebenarnya sangat bingung menjelaskannya pada Mika.
"Kenapa harus mama? siapa yang mengharuskan mama dan papa berpisah? Mika mau tinggal sama mama dan papa. Mika tidak suka kalau tinggal sama papa, mika gak bisa ketemu mama. Kalau Mika menginap di sini Mika gak bisa ketemu papa. Mika mau kita tinggal bersama lagi ma! bisa kan ma?" tanya Mika yang membuat Sila menjadi sangat bingung.
Mata Sila sudah berkaca-kaca karena dia tidak akan pernah bisa mewujudkan keinginan putri kecilnya itu.
"Sayang, mama minta maaf. Tapi mama tidak bisa mewujudkan keinginan Mika yang satu itu. Papa sudah punya kehidupan nya sendiri sekarang...!"
Mika kecil pun menangis. Dan hal itu membuat Sila menghentikan kalimatnya. Sila langsung kembali memeluk Mika.
"Sayang jangan menangis. Mama memang tidak bisa tinggal bersama lagi dengan papa. Tapi kalau Mika tinggal dengan mama, Mama janji kalau setiap hari Mika akan bertemu dengan papa" ucap Sila sedih karena Mika tak kunjung berhenti menangis.
'Maafkan mama nak, mama juga tidak pernah menyangka akan jadi seperti ini. Maafkan mama dengan segala kekurangan mama, hingga papamu berpaling pada wanita lain. Maafkan mama nak!' batin Sila pilu.
Setelah Sila memakaikan sepatu untuk Mika, Sila meminta Diah menyiapkan tas Mika. Lalu mereka pun bergegas ke ruang makan.
"Mika!" panggil Tasya yang langsung berlari memeluk Mika.
"Kak Tasya!" sahut Mika yang tersenyum senang bertemu dengan kakak sepupu nya itu.
Dion juga langsung berlari dan menggendong Mika, bahkan sampai mengajaknya berputar beberapa kali.
"Little Princess, kakak rindu sekali padamu!" ucap Dion. Anak pertama Bima dan Niken yang sekarang ini sudah kelas 12.
"Aku juga rindu kak Dion, mister Hagrid!" ucap Mika yang membuat Dion segera menurunkannya dan mencubit hidung mancung gadis kecil itu.
"Mika sayang, jangan panggil Kak Dion seperti itu!" tegur Sila.
__ADS_1
Dan lagi-lagi Diah dibuat terpana dengan pemandangan di depannya ini.
'Disini nona Mika benar-benar bahagia. Seharusnya memang disini lah nona Mika berada!' pikir Diah.
Diah bisa berpikir seperti itu karena dia melihat Mika begitu bahagia. Juga sikap Sila yang meskipun sedang berusaha mengambil hati Mika, tapi tidak ragu menegur Mika saat Mika melakukan kesalahan.
"Tidak apa-apa Tante, Hagrid adalah nama yang bagus!" kata Dion yang langsung memangku Mika dan menyuapi sepupu nya yang sudah lebih dari dua bulan tidak bertemu dengannya.
"Kak Dion kan badannya besar mama, itu sama seperti mister Hagrid di film Harry Potter!" ucap Mika menjelaskan alasannya memanggil Dion dengan sebutan mister Hagrid. Karena memang badan Dion itu bongsor, dia bahkan sudah sama persis seperti Bima sang ayah yang bertubuh tinggi besar.
Semua terkekeh mendengar penjelasan Mika.
"Mama, dimana nenek dan kakek?" tanya Mika yang baru menyadari kalau nenek dan kakeknya tidak ada di ruang makan.
"Sayang, kakek sedang tidak sehat. Dan kakek sedang di rawat di rumah sakit. Tapi nanti sore sudah pulang kok!" jawab Niken yang datang membawakan susu coklat untuk Mika.
"Yah Mika gak bisa ketemu kakek dong?" tanya Mika dengan wajah cemberut.
Sila dan Niken saling pandang. Sedangkan Dion yang memang sudah mengerti apa yang terjadi pada om dan tantenya pun mencubit hidung Mika lagi.
"Jangan cemberut begitu, cepat habiskan sarapan mu. Atau kak Dion yang akan menghabiskan nya!" ucap Dion berusaha mengalihkan perhatian Mika dengan menarik piring Mika ke dekatnya.
"Jangan, ini buatan mama!" protes Mika yang menahan tangan Dion.
Saat mereka sedang sarapan, bel rumah Prio Utomo pun berbunyi. Diah berinisiatif untuk membukakan pintu.
"Selamat pagi tuan!" sapa Diah yang mengenal pria yang sedang berdiri di depannya saat dia membuat pintu.
"Dimana Mika?" tanya pria itu yang ternyata adalah Hadi.
***
__ADS_1
Bersambung...