
Mobil yang di tumpangi oleh Dave dan Sila sudah berhenti di depan lobby hotel yang cukup ternama di kota ini. Sang supir membukakan pintu mobil untuk Dave sedangkan Sila dia sadar akan statusnya sebagai sekertaris pribadi Dave dan bukan istrinya saat ini. Dia turun membuka pintu sendiri dan membawa tas jinjing yang berisi semua keperluan Dave dan keperluan meeting.
Joseph yang baru turun terkejut karena Sila sudah turun terlebih dahulu.
"Nona, maaf saya lambat...!"
"Lain kali bergeraklah lebih cepat Jo!" seru Dave dan langsung berjalan melewati Joseph untuk berjalan masuk ke dalam hotel.
Joseph membungkuk sedikit lalu meminta maaf pada Sila.
"Maaf nona, tidak akan terulang!" ucap Joseph penuh keseriusan.
"Jo... tidak apa-apa, kenapa minta maaf?" ucap Sila yang malah merasa tak enak hati pada Joseph.
"Kalian mau mengobrol di situ atau masuk ke dalam?" tanya Dave yang sudah ada di depan pintu besar hotel.
"Silahkan nona!" ucap Joseph sopan sambil mengangkat tangan mempersilahkan Sila untuk berjalan lebih dulu.
Sila langsung mengangguk dan berjalan menghampiri Dave. Dia langsung menundukkan kepalanya di depan Dave.
"Saat bertemu mantan suami mu, angkat kepala mu dengan tegak. Semua orang memang akan menganggap mu sekertaris pribadi ku, tapi kamu juga harus ingat status mu adalah istriku. Jangan pernah menundukkan kepala mu kecuali pada orang tua kita atau orang yang memang seharusnya kita hormati!" ucap Dave sambil berjalan bersama Sila.
Sila menoleh sekilas ke arah Dave yang bicara padanya tanpa menatap wajahnya, tapi apa yang dia katakan membuat perasaan berbeda di dalam hati Sila. Apa yang dikatakan Dave itu menciptakan keberanian di dalam hati Sila, ada motivasi besar yang membuat Sila merasa kalau dia pasti bisa melakukan apa yang di katakan oleh Dave itu. Sila menghirup nafas dalam-dalam lalu mengumpulkan semua keberanian yang timbul akibat apa di katakan Dave tadi.
Benar saja, Sila justru terlihat lebih berbeda saat dirinya berjalan dengan kepala tegak, postur tubuhnya juga ikut tegak, benar-benar terlihat sangat elegan.
Joseph yang berjalan di belakang Sila dan Dave juga memiringkan kepalanya sedikit ke arah kiri melihat perubahan besar Dave dan Sila itu. Dave biasanya tidak akan pernah perduli pada penampilan seseorang tapi dia memang benar-benar menjadi orang berbeda ketika Sila berada di sisinya.
'Tuan, aku rasa kamu memang sudah bertemu dengan jodoh mu!' batin Joseph yang menarik senyuman tipis di sudut bibirnya.
Setelah tiba di sebuah ruangan VVIP hotel itu, Joseph langsung berjalan mendahului Sila lalu membukakan pintu untuk Dave dan Sila.
Tiga orang yang berada di dalam ruangan itu yang tadinya duduk langsung berdiri dan mendekat ke arah Dave yang baru berjalan dua langkah masuk ke dalam ruangan itu. Sila yang mengenal betul dua orang yang berjalan ke arah Dave langsung menghentikan langkahnya.
__ADS_1
Dave yang sadar kalau langkah Sila berhenti, melirik ke belakang sekilas.
"Ingat Sila, kamu adalah nyonya Dave Hendrawan!" ucap Dave pelan dan hanya Sila dan Joseph saja yang bisa mendengarnya.
Sila berusaha untuk mengumpulkan keberanian nya, tapi melihat dua orang yang telah mengkhianatinya di depan matanya, hatinya terasa sangat pilu.
Dave sudah maju beberapa langkah, Joseph langsung berdiri di samping Sila.
"Nona, jika anda kalah hari ini bagaimana nanti di pengadilan? ingat nona jika anda hari ini berani dan menang menghadapi rasa sakit hati dan takut nona, maka nona akan secepatnya bisa bertemu dengan Mika!" ucap Joseph pelan dan hanya bisa terdengar oleh Sila.
Sila langsung melihat ke arah Joseph yang menganggukkan kepalanya sekali pada Sila mencoba meyakinkannya.
Sila langsung membalas anggukan kepala Joseph itu dengan anggukan ringan.
'Benar, aku tidak boleh kalah pada perasaan ini. Mereka yang telah mengkhianati ku, aku harus tunjukkan pada mereka kalau mereka sama sekali tidak berhasil menyakiti ku, aku tidak lemah, dan aku bisa menjaga Mika. Tidak seperti yang dituduhkan mas Hadi padaku! aku harus bisa!' batin Sila lalu maju melangkah mendekati Dave.
Joseph yang melihat itu kembali menarik sudut bibirnya ke atas.
Joseph seperti itu karena memang dia juga mengetahui apa yang terjadi pada Sila dari penyelidikan Oman dan juga dari informasi yang dia dapatkan. Prestasi kerja yang bagus di perusahaan tempat Sila dulu bekerja membuat Joseph yakin Sila adalah orang yang kompeten. Dia di pecat secara tidak hormat karena keributan yang dibuat oleh mantan suaminya. Joseph juga sudah menyelidiki masa Kuliah dan juga Sekolah Sila, di sekitar rumah ayah Sila juga. Dan semua orang tahu kalau Sila itu adalah perempuan yang baik, anak yang penurut dan saudari yang bahkan sangat perduli dan perhatian. Hal itu yang membuat Joseph yakin kalau Sila memang di jebak oleh mantan suaminya sendiri. Selain karena Joseph juga merasa senang, banyak perubahan positif Dave karena kehadiran Sila.
"Selamat Siang tuan Dave, senang bertemu dengan mu!" sapa Hadi yang mengulurkan tangannya pada Dave.
Dave hanya melihat tangan Hadi dan melewatinya.
"Selamat siang!" jawab Dave acuh lalu berjalan ke arah sofa yang ada di ruangan tersebut.
Hadi menarik tangannya dengan perasaan yang tak karuan.
'Aku lupa kalau tuan Dave Myshopobia. Ck .. aku mempermalukan diriku sendiri!' batin Hadi
Hadi ingin berbalik dan ikut duduk, tapi tiba-tiba pandangannya tertarik pada seseorang yang melewatinya mengikuti langkah Dave bahkan tanpa menoleh ke arahnya atau menyapanya.
'Sila!' ucap Hadi dalam hati yang melihat Sila begitu berbeda.
__ADS_1
Susan yang melihat Hadi tak mengalihkan pandangannya dari Sila langsung menarik lengan Hadi.
"Mas, tuan Dave disana!" ucap Susan lalu menunjuk ke arah Dave.
Hadi terlihat salah tingkah.
"Oh iya!" ucapnya lalu berjalan ke arah sofa dan duduk.
Pandangan Hadi masih tertuju pada Sila yang begitu berbeda, biasanya dia hanya mengikat rambutnya ke belakang dengan rapi, tapi kali ini dia mengurai rambutnya yang ikal dan make up nya memang sedikit lebih ketara.
"Mas ini proposal nya!" ucap Susan meletakkan proposal di pangkuan Hadi dan membuatnya tersadar dari segala pemikirannya tentang Sila.
"Tuan Dave, ini proposal yang kami ajukan. Kemarin nona Anita sudah memberikan beberapa poin penting yang kami harus revisi dan sekarang semua sudah sesuai dengan penjelasan nona Anita!" jelas Hadi pada Dave.
Dave hanya melihat sekilas ke arah dokumen yang di sodorkan Hadi lalu menoleh ke arah Sila yang duduk di sebelahnya.
"Sila, kamu periksa semua dokumen itu. Jika kamu setuju maka aku akan menandatangani nya, jika tidak kita bisa pergi dari sini!" ucap Dave dengan nada yang begitu dingin.
Hadi dan Susan terkesiap kaget. Mereka tidak menyangka jika Dave menyerahkan semua keputusan pada Sila.
"Maaf tuan Dave , tapi dia...?" tanya Susan.
Tapi belum selesai Susan bicara Dave sudah menyela.
"Sila, Susilawati. Dia adalah sekertaris pribadi ku dan penanggung jawab proyek ini!" jawab Dave dengan mantap.
Susan sampai memundurkan posisi duduknya karena terkejut. Sedangkan Hadi nafasnya seperti tersengal.
'Sila!' lirih Hadi dalam hati.
***
Bersambung...
__ADS_1