
Sementara itu Dave yang telah kembali ke apartemen nya tampak sangat lesu dan tidak bersemangat sama sekali. Dia membuka pintu apartemen nya dan membuka jas nya, lalu Dave melemparkan jas nya itu ke sembarang tempat. Dave bahkan mengeluarkan ponselnya dan juga melemparkan nya begitu saja ke atas sofa ruang tamu.
Langkah Dave semakin lamban, namun dia masih berusaha mencapai balkon yang ada di depan ruang tengah. Dave membuka pintu balkon lalu duduk di kursi yang ada di sana. Kencang dan dinginnya angin malam yang menusuk tulang. Seakan sudah tidak di rasakan lagi oleh Dave yang tengah gusar karena Sila jelas sangat emosional tadi dan begitu marah padanya karena dia tidur jujur dari awal.
Dave belum pernah merasakan rasa frustasi seperti ini, dia sudah sering mengalami masalah dalam hidupnya tak jarang nama baik dan kredibilitas kerjanya di pertaruhkan. Tapi ini masalah yang berbeda, jika bangkrut dia mungkin akan dengan mudah bangkit. Tapi ini masalah hati dan juga hidupnya, dia yang baru beberapa bulan mengenal Sila sudah sangat merasa bergantung pada wanita itu. Sehari saja tidak melihat Sila, rasanya ada yang kurang dalam hidup Dave. Lantas bagaimana kalau Sila marah dan tidak mau bertemu lagi dengannya.
Dave mengusap kepalanya gusar, dia benar-benar tidak tahu harus bagaimana saat ini. Tapi untungnya sejak dulu, Dave sangat menjauhi yang namanya minuman keras, sangat berbeda dengan kakak kandungnya Randy yang kalau sedang kalut atau ada masalah selalu lagi ke minuman dan wanita. Dave sangat berbeda, jika dia mengalami masalah yang memeras otaknya, Dave hanya tidak akan makan atau minum saja. Dia lebih memilih menyendiri tanpa satu orang pun yang boleh mengganggu nya.
Dan tentang keselamatan Sila, Dave percaya kalau Joseph tidak akan pernah mengecewakan nya. Lagipula Sila tadi juga mengatakan tidak ingin bertemu Dave untuk sementara, dia meminta Dave menjauhinya dan jangan mendekatinya dulu. Sila butuh waktu, dan Dave akan memberikan apa yang Sila inginkan itu. Karena Dave benar-benar sudah cinta mati pada istrinya itu, bahkan jika Sila meminta nyawa Dave, maka akan dengan senang hati Dave berikan pada Sila.
"Sila!" lirih Dave dalam kesendirian nya.
***
Sementara itu di rumah kontrakan Karina, wanita cantik itu baru saja akan mengunci pintu rumah kontrakan nya. Karena tadi saat mengajak Sila masuk dia belum sempat mengunci pintu.
Tapi ketika Karina akan mengunci pintu, dia melihat sebuah mobil yang sejak tadi selalu ada disana, tapi sepertinya ada orang di dalamnya. Karena Karina sempat ke warung sebentar tadi untuk membeli obat nyamuk, dan kaca jendela itu terbuka dengan seorang pria berwajah garang yang sedang melihat ke arah rumah kontrakan nya.
Dan sampai sekarang, sudah sekitar satu jam berlalu. Mobil itu masih di sana. Karina pun segera mengunci pintu dan bergegas berjalan dengan cepat menuju ke kamarnya.
Sila yang masih dalam posisi duduk bersandar di sandaran tempat tidur pun segera menoleh ke arah Karina ketika sahabat nya itu seperti sedang ketakutan karena menutup pintu dengan cepat dan sedikit membanting lalu menguncinya.
"Ada apa?" tanya Sila.
"Ih!" Karina malah menggidikkan bahunya lalu masuk ke dalam selimut dan berbaring.
__ADS_1
"Di luar ada sebuah mobil dengan pria yang berwajah garang, wajahnya galak sekali. Menakutkan!" ucap Karina yang langsung menyelimuti tubuh nya bahkan sampai di kepalanya.
'Itu pasti Joseph, apa tuan Dave yang memintanya terus berjaga?' tanya sila dalam hati sambil melihat ke arah jam di dinding kamar Karina.
Waktu sudah menunjukkan tengah malam, terdengar dengkuran halus dari Karina yang membuat Sila tersenyum. Dia tahu pasti sahabatnya itu sangat lelah. Dia bahkan harus tidur terlambat karena menemani dan menghibur Sila.
Sila pun membaringkan tubuhnya, Sila juga berusaha untuk terlelap. Namun sama sekali tidak bisa. Dengan posisi tidur miring dan selimut yang dipakai hingga di ketiak, Sila masih terus memikirkan apa yang di katakan Karina tadi padanya.
Kalaupun dirinya lolos malam itu pasti Hadi akan mencari cara lain untuk menjebaknya lagi, dan benar kata Karina kalau Tuhan masih sangat sayang padanya. Jika tidak kenapa setelah dia di ceraikan oleh Hadi, dia bahkan tak perlu menunggu lama hingga di persunting seorang pria yang bahkan setiap wanita di kota ini bermimpi untuk bisa berdiri di sisinya.
Sila masih terus memikirkan hal itu, dan semua yang telah Dave katakan dan lakukan padanya.
'Tuan, maafkan aku. Hanya karena aku berharap hal yang lebih baik yang bahkan tidak mungkin terjadi, aku sudah marah padamu yang telah begitu baik dan membantuku di setiap masalahku!' sesal Sila dalam hatinya.
'Tuan Dave bahkan mengatakan dia mencintai ku, seorang CEO perusahaan besar dan terkenal seperti nya bilang dia mencintai ku!' batin Sila yang baru memikirkan hal itu sekarang.
Sila lantas turun dari tempat tidur. Dia meraih ponselnya dan menulis pesan untuk Karina. Kalau dirinya akan minta maaf pada Dave, dan Karina tidak perlu mengkhawatirkannya karena dia kan pergi dengan anak buah Dave. Setelah menulis pesan itu, Sila mengirim nya ke ponsel Karina. Sangking nyenyak nya Karina tidur, dia sampai tidak mendengar notifikasi ponselnya yang berbunyi.
Sila lalu meraih sebuah sweater, dan masih dengan piyama tidurnya dia lalu keluar dari kamar Karina. Sila tahu yang berjaga di depan itu Joseph, jadi dia ingin meminta Joseph mengantarnya pada Dave.
Sila mengunci pintu rumah lalu membawa kuncinya dan meletakkan nya di saku piyamanya juga dengan ponselnya.
Joseph yang memang masih terjaga terkejut melihat Sila menghampiri nya dengan sandal jepit dan piyama tidurnya.
Joseph lalu keluar dari mobil dengan cepat.
__ADS_1
"Nona Sila!" Joseph menyapa Sila sopan.
"Jo, apa kamu tahu dimana tuan sekarang" tanya Sila.
Joseph yang senang mendengar Sila bertanya tentang Dave pun segera menjawab.
"Aku yakin tuan ada di apartemen nya nona!" jawab Joseph cepat.
Sila lalu terdiam, hingga beberapa detik kemudian dia melihat ke arah Joseph dan bertanya.
"Jo, dia pasti sangat sedih ya? apa menurutmu dia akan memaafkan aku?" tanya Sila terlihat melankolis.
Dalam hatinya Joseph sangat senang, karena sepertinya Sila sudah mulai memaafkan tuannya.
"Tentu saja nona, tuan Dave sangat mencintai nona!" sahut Joseph dengan yakin.
"Bisa tolong antar kan aku menemuinya?" tanya Sila.
Dan Joseph pun langsung membukakan pintu mobil untuk Sila. Joseph bergegas menutup pintu mobil setelah Sila masuk ke dalamnya dan bergegas duduk di kursi kemudi.
'Tuan, nona Sila telah memaafkan mu!' seru Joseph dalam hati dan segera melajukan mobilnya meninggalkan tempat itu menuju ke apartemen Dave.
***
Bersambung...
__ADS_1