Ketika Yang Kucintai Berkhianat

Ketika Yang Kucintai Berkhianat
KYKB 99


__ADS_3

Sementara itu, Sila dan Dave sudah membawa ayah Sila pulang dari rumah sakit. Oman yang menyetir mobil Dave, karena Dave memang menugaskan Oman untuk berjaga di rumah sakit. Mengawasi dan membantu ayah Sila kalau perawat dan dokter memeriksa ayah mertua Dave itu.


Dave masih tetap memakai sarung tangan, meskipun dirinya sudah berusaha namun tetap saja dia merasa sangat tidak nyaman. Dan itu membuatnya mual. Prio Utomo dan Tini juga mengerti kesulitan Dave itu, jadi mereka sangat maklum. Bantuan Dave untuk mereka saja sudah sangat berarti hal semacam itu saja mereka tidak akan ambil hati.


Setelah tiba di ruang tamu, Dave duduk di dekat Sila. Semua tampak heran, namun tidak dengan Niken yang memang sudah di beritahu oleh Sila kalau dirinya memang sudah menikah dengan Dave.


"Mas, mau minum apa?" tanya Sila tanpa sadar telah membuat mata semua orang disana menoleh ke arahnya.


Prio Utomo, Tini dan Bima merasa heran, kenapa tiba-tiba Sila memanggil Dave dengan panggilan mas. Bukankah seharusnya Sila memanggilnya tuan, atau pak. Karena Dave adalah atasan Sila.


"Sila, nak. Yang sopan!" seru Tini yang merasa kalau panggilan Sila pada Dave itu terlalu akrab dan sangat kurang sopan antara atasan dan bawahan.


Sila tampak kikuk, namun berbeda dengan Dave yang merasa kalau inilah saatnya dia mengungkapkan semua kebenaran tentang Sila yang dijebak oleh Hadi, dan juga tentang pernikahan nya dengan Sila. Dave berani melakukan itu karena tadi di rumah sakit, dia sudah memastikan kondisi Prio Utomo yang memang sudah pulih total.


"Pak, Bu... ada yang ingin aku sampaikan pada kalian!" ucap Dave dengan wajah serius.


Sila malah menjadi gugup mendengar Dave bicara serius begitu pada orang tuanya. Sebaliknya, Niken malah senyum-senyum sendiri. Dia sudah tidak sabar mendengar kalau sebenarnya Sila itu adalah Nyonya Dave Hendrawan yang menurutnya sangat membanggakan kalau semua anggota keluarganya mendengar kabar baik itu.


Melihat istrinya senyum-senyum sendiri, Bima pun menyenggol lengan Niken.


"Dek, kamu kenapa senyum-senyum sendiri gitu. Aku tahu kamu senang ayah sudah pulang dan mobil kita sudah kembali, tapi kamu gak str*ess kan sampai senyum-senyum sendiri gitu sangking bahagianya?" tanya Bima pada Niken sambil berbisik.


Niken yang di kira sudah tidak waras oleh suaminya sendiri menjadi cemberut. Dia langsung balas menyenggol lengan Bima.


"Mas, kalau bicara jangan sembarangan ya. Masa iya bilang istrinya sendiri gak waras!" protes Niken pada Bima.

__ADS_1


"Habis kamu aneh!" balas Bima lagi.


Niken makin cemberut.


"Mas itu yang aneh, sudah dengerin aja apa kata adek i... eh tuan Dave bicara!" ucap Niken yang hampir saja keceplosan menyebut Dave sebagai adik ipar Bima.


Prio Utomo dan juga Tini saling pandang. Mereka sudah cukup pengalaman dan cukup makan asam garam kehidupan. Nada suara dan juga ekspresi wajah yang di tunjukkan oleh Dave itu benar-benar serius. Mereka pun jadi sangat penasaran dengan apa yang akan mereka dengar selanjutnya.


"Oman, bawa semua dokumen dan laptop ku kemari!" seru Dave memberi perintah pada Oman yang langsung membungkukkan badannya dan pergi melaksanakan perintah dari Dave.


Dave pun melihat sekilas ke arah kedua orang tua Sila, ke arah kakak Sila yaitu Bima. Mereka terlihat sangat penasaran dengan apa yang akan di katakan oleh Dave.


"Ini tuan!" ucap Oman sopan sambil meletakkan laptop Dave di meja tamu yang ada di hadapan Dave. Lalu meletakkan dokumen dokumen yang lain di samping laptop itu.


"Oh iya, tentu!" jawab Niken yang langsung mengajak kedua anaknya ke kamar mereka yang ada di dekat ruang tengah.


Niken juga sudah tahu kebenaran nya dari apa yang sudah di ceritakan Sila semalam. Dia sangat percaya pada Sila, hingga dia tidak perlu bukti untuk bisa mempercayai adik iparnya itu kalau Sila memang di jebak dan tidak bersalah sama sekali.


Dave mulai menghidupkan laptop nya, dia mengetik sesuatu dan setelah itu dia memutar laptop nya ke arah Prio Utomo dan Tini yang duduk di satu sofa yang sama. Bima yang penasaran pun langsung berdiri dan berjalan ke arah belakang sofa yang di duduki kedua orang tuanya agar bisa melihat apa yang ada di layar monitor laptop Dave.


Seorang pria tambun, dengan kepala yang sudah setengah botak dan pakaian yang lusuh sedang memberikan pernyataan kalau dirinya adalah orang yang telah di bayar oleh Hadi Tama untuk tidur dengan Sila.


Tini seketika menangis dan menutup mulutnya. Prio Utomo juga matanya sudah merah, bahkan dia sudah mengepalkan tangannya dengan kuat. Hatinya hancur, ternyata menantu yang selama ini dia banggakan dan percayai melebihi putrinya sendiri malah tega melakukan kal sekeji itu pada Sila, istrinya sendiri.


Sedangkan Bima, dia yang paling terlihat emosi. Selain mengepalkan tangannya sampai buku-buku tangannya terlihat memutih. Rahang Bima juga mengeras, terlihat jelas dia sedang menggertakkan gigi di antara kedua rahang nya itu. Pertanda kalau dia sangat marah setelah mendengar pernyataan dari pria berbadan gemuk yang ada di layar monitor laptop Dave.

__ADS_1


Dave lalu berkata.


"Ini adalah bukti transfer bank yang dilakukan oleh Hadi Tama. Memang benar Hadi telah membayar pria itu untuk menjebak Sila!" jelas Dave yang membuka beberapa dokumen dan menunjukkan nya pada ayah, ibu dan juga kakak Sila.


Tini langsung berdiri dan memeluk Sila, Dave pun sedikit menjauh dari Sila. Memberikan ruang untuk ibu Sila memeluk dan menumpahkan rasa sedih dan simpatinya pada Sila.


"Nak, kasihan sekali kamu. Tega sekali Hadi Tama itu. Ya Tuhan! ibu sudah menganggapnya anak sendiri, kenapa dia bisa melakukan itu?" tanya Tini yang terlihat sangat syok mengetahui kebe*jatan dari mantan menantunya itu.


"Dasar pria breng*sek. Aku akan buat perhitungan dengannya!" pekik Bima yang sudah tidak sanggup menahan amarahnya. Dia bahkan segera melangkah dengan cepat menuju pintu rumah.


Dave yang tahu kalau Bima pasti akan mencari Hadi dan memberi pelajaran pada mantan adik iparnya itu lalu menyuruh Oman menahan Bima.


"Oman, hentikan Bima!" seru Dave.


Dan dengan langkah cepat, Oman langsung menghadang Bima yang sudah hampir memegang handel pintu.


"Tuan, duduk dulu. Dengarkan dulu semua yang ingin dikatakan tuan Dave!" ucap Oman dengan sopan.


"Tuan Dave, aku tahu kamu telah banyak membantu keluarga kami. Tapi pria breng*sek bernama Hadi Tama itu, kalau aku tidak membuatnya babak belur dengan tangan ku, aku tidak akan tenang!" bantah Bima yang sudah sangat ingin menghajar Hadi.


"Setelah itu apa? kamu buat dia babak belur? dia menuntut mu? dan kamu masuk penjara?" tanya Dave yang membuat Bima langsung diam.


***


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2