
Saat ini Sila sudah berada di depan pintu kayu bercat putih di dekat ruang tengah seperti yang tadi Hadi katakan. Sila mengembangkan senyum di wajahnya, perlahan tangannya memegang handel pintu dan perlahan membukanya.
Mata Sila langsung berkaca-kaca, ketika melihat wajah mungil Mika yang memang seperti malaikat baginya tengah tertidur dengan memeluk guling dengan posisi miring menghadap ke arah pintu.
Sila langsung berlari menghampiri putri kecilnya yang sedang tidur itu. Tanpa terasa air mata Sila pun mengalir begitu saja. Saat Sila sudah berdiri persis di sisi tempat tidur Mika.
"Mika!" lirih Sila.
Sila perlahan berjongkok dan membuatnya bisa sejajar dengan Mika. Sila langsung menyentuh kepala putrinya dengan lembut.
"Mika sayang, mama rindu!" ucap Sila pelan.
Dan air mata Sila kembali menetes, terus mengalir begitu deras karena kerinduannya pada putri kecilnya yang sudah hampir dua bulan tidak bisa dia temui.
Sila langsung menyeka air matanya dengan tangan, dan perlahan dia mencium pipi putri kecilnya itu. Mata Sila terpejam ketika dia mencium pipi kenyal Mika, aroma Mika yang sangat dia rindukan. Akhirnya Sila dapat menghirup aroma itu lagi. Sebelum air matanya kembali menetes, Sila langsung menarik dirinya menjauh sedikit dari Mika agar putri kecilnya itu tidak terbangun.
Karena jika Mika terbangun, maka akan sulit bagi Sila, dia tidak akan tahan jika melihat putri kecilnya itu menangis lagi seperti saat Hadi membawanya dulu. Sila tidak akan sanggup melihat putrinya berteriak memanggil kata 'mama jangan pergi'. Karena memang dirinya harus pergi dulu untuk saat ini.
Sila lagi-lagi menyeka air matanya, lalu perlahan kembali mencium Mika, dan kali ini Sila mencium lembut kening Mika.
"Sayang, mama berjanji tidak akan lama lagi. Kamu akan tinggal lagi bersama mama. Satu minggu lagi ya nak, satu minggu lagi mika dan mama akan bersama seperti dulu, mama akan membacakan cerita dan memeluk Mika sebelum tidur, mama akan menyuapi Mika saat Mika makan!" ucap Sila pelan, sangat pelan nyaris tak bersuara.
Sila lalu mencium tangan mungil Mika yang berada di atas guling.
Sila mencium tangan mungil itu beberapa kali, sambil sesekali menyeka air mata yang terus mengalir.
"Mama sayang Mika, mama sayang sekali pada Mika!" lirih Sila yang berderaian air mata.
"Sudah cukup, jika dia bangun nanti akan sangat sulit untuk membuatnya tidur lagi!" sebuah suara membuat Sila langsung menoleh ke belakang sambil menyeka air matanya.
Ternyata Susan sudah berdiri di depan pintu dengan satu tangan yang berkacak pinggang.
Sila pun kembali melihat ke arah Mika.
"Mama menyayangi mu nak!" ucap Sila lembut.
__ADS_1
Sila masih terus melihat ke arah malaikat kecilnya itu yang sedang tertidur pulas.
'Hari mu pasti melelahkan ya nak, sampai kamu tertidur pulas begitu. Tunggu sebentar lagi ya nak, hanya sebentar lagi!' lirih Sila dalam hati.
Sila pun berdiri dan berbalik, namun baru dua langkah Sila pun kembali menoleh ke arah Mika.
'Sayang mama, baik-baik ya nak. Mama janji, mama akan membawa mu dari sini, kita akan bersama lagi!' lirih Sila dalam hati lagi.
"Cepatlah!" seru Susan yang mulai meninggikan suaranya.
Sila yang takut kalau Mika terbangun pun akhirnya dengan cepat melangkah menuju ke arah pintu, dan sebelum dia benar-benar keluar, Sila kembali menoleh ke arah Mika.
Rasanya berat sekali untuk meninggalkan putri kecilnya itu. Apalagi Mika memang tidak akan makan jika tidak di suapi, rasa cemas juga terus membayangi Sila. Tapi dia tidak berdaya sekarang.
Setelah Sila keluar, Susan dengan cepat menutup pintu kamar Mika. Karena Sila juga malas meladeni Susan, Sila segera melangkah pergi menuju ke tempat Dave berada. Namun sebelum Sila bisa berjalan jauh, Susan menarik tangannya.
"Lepas!" pekik Sila lalu menghentakkan tangan Susan.
Sila menatap ke arah Susan yang sedang menatap ke arahnya dengan tatapan tajam.
Sila memang ingin mendapatkan kembali Mika, membawanya kembali bersamanya. Tapi kalau Hadi, Sila bahkan enggan untuk bertemu dan bicara lagi pada pria itu.
"Kamu tidak perlu khawatir, aku bukan perusak rumah tangga orang seperti mu!" ucap Sila menyindir Susan dan langsung berbalik hendak pergi meninggalkan Susan.
Tapi mendengar apa yang di katakan Sila, Susan merasa sangat marah. Dia kembali menahan Sila dan kali ini dia menarik lengan Sila dengan kuat.
"Dasar wanita tidak tahu diri, beraninya kamu berkata seperti itu padaku. Bercermin lah, kalau memang kamu lebih dariku, tidak mungkin mas Hadi berselingkuh darimu dan memilih aku!" ucap Susan tak terima pada apa yang tadi Sila katakan padanya.
Sila kembali menepis tangan Susan.
"Jika memang begitu kenapa kamu menggertak ku? hanya orang yang tidak punya rasa percaya diri yang menggertak, hanya orang yang merasa takut yang melakukan itu!" tegas Sila dengan pandangan tajam pada Susan.
Namun Susan yang menyadari kalau Dave dan Hadi sedang berjalan ke arah mereka, langsung menjatuhkan diri di depan Sila.
Awalnya Sila tidak mengerti dengan apa yang dilakukan Susan. Tapi setelah mendengar suara.
__ADS_1
"Susan, kamu kenapa?" tanya Hadi yang langsung menghampiri Susan yang sudah terduduk di lantai dan membantunya untuk berdiri.
"Mas, dia mendorongku. Aku hanya bilang kalau jangan bicara terlalu keras, karena Mika sedang tidur. Tapi dia malah tidak terima lalu berdebat dengan ku dan akhirat mendorong ku hingga aku jatuh!" ucap Susan yang menempelkan tubuhnya pada Hadi seperti biasanya.
Mendengar apa yang dikatakan Susan, Sila pun mengerti maksud Susan.
Dave yang melihat Susan pun merasa sangat jijik pada perempuan itu.
Dave langsung mendekati Sila tapi tidak terlalu dekat.
"Benarkah apa yang sekertaris tuan Hadi itu katakan, Sila?" tanya Dave pada Sila.
"Dia memang terjatuh, tapi bukan aku yang mendorongnya. Dia menjatuhkan dirinya sendiri!" jawab Sila tanpa ragu.
Wajah Susan langsung tak terima mendengar apa yang dikatakan Sila. Dia terus menggelengkan kepalanya dan menatap sedih pada Hadi.
"Tidak mas, dia bohong. Untuk apa aku menjatuhkan diriku sendiri?" tanya Susan berusaha meyakinkan Hadi.
Sila dengan berani berjalan ke hadapan Hadi.
"Aku tidak bohong, dia memang menjatuhkan dirinya sendiri. Lebih tepatnya dia menjatuhkan harga dirinya sendiri. Sekarang aku akan bertanya pada tuan Hadi, apa tuan Hadi pikir aku akan melakukan apa yang dia tuduhkan itu?" tanya Sila yang menatap Hadi dengan tatapan tegas namun dalam.
Hadi yang merasa Sila semakin berubah menjadi semakin tidak bisa berkata-kata lagi. Dia juga sudah melihat Dave mulai tidak senang. Akhirnya dia menatap tajam ke arah Susan.
"Susan, minta maaf pada tuan Dave dan Sila!" perintah Hadi pada Susan.
"Mas, tapi...!"
"Minta maaf!" tegas Hadi membuat Susan langsung bergegas pergi meninggalkan nya.
Susan yang sudah berada cukup jauh dari Hadi, Dave dan Sila pun berhenti dan berbalik.
"Ck... aku ingin mempermalukan nya, kenapa malah aku yang di suruh minta maaf dan dipermalukan? menyebalkan!" gerutu Susan lalu meninggalkan tempat itu.
***
__ADS_1
Bersambung...