
Susan dengan tergesa-gesa langsung pergi ke kamarnya dan dengan cepat membawa semua barang-barang miliknya. Dia bahkan berlari ke sana-kemari untuk mengambil semua perhiasan yang ada di laci lemari, di laci meja riasnya dan juga buku tabungan yang ada di laci lemarinya yang terkunci.
"Perempuan sialann itu, bagaimana dia bisa memikirkan hal itu. Merekam semua yang kulakukan, kalaupun aku tidak mengatakan semua kejahatan yang dilakukan mas Hadi dan juga aku sendiri. Perempuan itu juga pasti akan menjebak ku dan melaporkan aku ke polisi. Siall mas Hadi benar-benar membuat ku dalam kesulitan sekarang!" omel Susan sambil membereskan barang-barangnya.
Susan tidak membereskan banyak pakaian, hanya yang bermerek saja dan semua perhiasan, buku tabungan serta akta tanah yang di berikan Hadi padanya yang dia utamakan untuk di bawa di dalam koper ukuran sedangnya.
Setelah membereskan semua itu, dia bergegas keluar dari dalam kamarnya dan segera menghampiri Mila yang sudah berdiri di anak tangga paling bawah yang juga sedang cemas menunggu Susan.
"Susan, ayo cepat!" seru Mila.
Dan kebetulan, saat Mila berseru seperti itu. Hadi baru saja keluar dari kamarnya dan melihat Susan membawa koper dan terlihat terburu-buru tentu saja membuat Hadi kaget.
"Kamu mau kemana Susan?" tanya Hadi.
Mila langsung menoleh ke arah Hadi. Dengan kesal dia menatap ketus pada calon menantunya itu.
"Semua ini gara-gara kamu pria pengkhianat. Gara-gara perempuan yang kamu nikahi itu, Susan sekarang dalam bahaya!" kesal Mila.
Susan pun sudah sampai di anak tangga terakhir dimana Mila berada.
"Mas, aku mau pergi. Kita akhiri saja hubungan kita!" ucap Susan yang membuat Hadi sangat terkejut.
Hadi benar-benar di buat terkejut dengan perkataan Susan barusan. Masalahnya selama ini jika Hadi marah dan ingin mengakhiri hubungan mereka, Susan lah yang akan membujuk dan melakukan segala cara agar hal itu tidak sampai terjadi. Sekarang malah Susan yang memutuskan untuk mengakhiri hubungan mereka. Hadi benar-benar merasa ada yang tidak beres sekarang ini sedang terjadi.
"Apa yang kamu katakan? seminggu lagi kita menikah! anak dalam kandungan mu itu...!"
"Tidak usah cemaskan anak ini, aku akan mengurusnya. Sekarang aku pergi!" ucap Susan dengan tegas.
Hadi pun masih dalam kebingungannya, ketika tiba-tiba suara bel rumah itu berbunyi. Mendengar suara bel, wajah Susan dan Mila menjadi pucat. Mereka saling pandang, dan memutuskan untuk pergi lewat pintu belakang.
Namun ketika Mila dan Susan akan berjalan menuju ke pintu belakang, Hadi menahan tangan Susan.
__ADS_1
"Jangan bertingkah lagi Susan, jangan macam-macam lagi!" Hadi merasa kalau ada yang sedang Susan sembunyikan. Dan hal itu pasti bukan hal yang baik.
Jujur saja, Hadi juga sudah mulai lelah. Dia benar-benar sudah muak pada wanita yang pernah menjadi orang yang paling dia cintai di dunia melebihi siapapun itu. Tapi karena anak yang dikandung Susan, membuat Hadi masih mencoba untuk memperbaiki segalanya. Meski sekarang dia juga sangat menyesal karena menyakiti Sila.
Ketika Hadi menahannya, Susan menjadi panik. Mila yang tidak ingin membuang waktu pun langsung menarik tangan Susan agar terlepas dari pegangan Hadi.
"Sudahlah Hadi, semua ini karena mu. Sekarang biar Susan pergi, aku yang merawat anakku dan juga calon cucuku!" tegas Mila lalu menarik Susan menjauh dari Hadi dan mengajaknya bergegas menuju ke arah pintu belakang.
Ketika Hadi akan menahan Susan, salah satu asisten rumah tangga Hadi datang dengan terburu-buru. Wanita paruh baya itu bahkan setengah berlari ketika datang menghampiri Hadi.
"Tuan, di depan ada polisi. Mereka mau bertemu tuan!" ucap wanita paruh baya, asisten rumah tangga Hadi.
Wajah Hadi terkejut bukan main.
"Po.. polisi?" tanya Hadi.
Dan belum asisten rumah tangga Hadi itu menjawab pertanyaan Hadi. Sebuah suara sudah mengejutkan Hadi.
"Hadi Tama bren9sek!!!" pekik Malik. Adik kandung Anton.
"Malik.. ada apa ini?" tanya Hadi yang meskipun sudah tahu apa masalahnya dia masih ingin bardalih.
"Sudahlah Hadi, kamu bisa jelaskan semua perbuatan mu di kantor polisi!" sebuah suara membuat Hadi Tama langsung bertambah pucat.
Hadi Tama menelan salivanya dengan susah payah ketika melihat Kamal, atasan Hadi Tama itu berkata demikian.
"Pak Kamal... !" Hadi gelagapan. Dia sudah tidak bisa berkata-kata lagi.
Murti dan Haris yang mendengar keributan pun segera keluar dari kamar mereka dan menghampiri Hadi yang sudah di dekati seorang anggota polisi dan memakaikannya bor9ol.
"Hadi...!" pekik Murti yang langsung menarik tangan Hadi yang hendak di pakaikan gelang besi itu.
__ADS_1
"Pak, kenapa anak saya mau di bor9ol pak. Salah anak saya apa pak?" tanya Murti yang langsung menangis sambil memeluk lengan Hadi dengan erat.
Haris juga mendekat, dia juga langsung bertanya pada Kamal.
"Pak Kamal, anda bosnya Hadi kan? ada apa dengan anak saya pak. Apa Hadi melakukan kesalahan pak? kesalahan apa yang sudah Hadi lakukan pak?" tanya Haris dengan suara berat, serak dan terdengar sangat sedih.
Sungguh pemandangan yang menyayat hati. Dimana dua orang paruh baya berlinangan air mata karena tidak tahu anaknya sudah berbuat apa sampai dia akan di pakaikan gelang besi dan juga banyak polisi mengelilingi nya.
"Hadi sudah memfitnah, bahkan mencelakai beberapa orang kandidat wakil CEO, dia bahkan menggelapkan dana bansos yang seharusnya di berikan untuk orang yang sedang terkena musibah kebakaran pabrik kami di kota G. Dia dan Susan harus mempertanggungjawabkan semua perbuatan nya pak!" jawab pak Kamal yang merasa kalau Haris tidak tahu apa-apa tentang yang di lakukan anaknya itu.
Haris sampai terduduk di lantai sangking tidak percaya dengan apa yang sudah anak sulungnya itu perbuat.
"Hadi, katakan semua itu tidak benar nak. Katakan kamu tidak bersalah nak. Hadi, ibu tidak percaya anak ibu bisa sekejam itu, itu tidak benar kan Hadi?" tanya Murti.
"Katakan Hadi, itu tidak benar kan?" tanya Murti yang sudah menangis histeris bahkan memukul-mukul dada Hadi agar anaknya itu bicara.
Tapi Hadi hanya tertunduk diam, terhadap semua yang di tuduhkan pak Kamal padanya.
"Masya Allah Hadi, apa yang sudah kamu lakukan nak? kenapa kamu jadi seperti ini. Ibu dan ayah tidak membesarkan mu untuk menjadi penjahat seperti ini Hadi!" pekik Murti yang sangat kecewa pada anaknya itu.
Murti juga terduduk ke lantai, dia menangis sejadi-jadinya bahkan memukul-mukul lantai karena sangat kecewa pada apa yang telah Hadi lakukan.
"Bawa dia!" perintah dari salah seorang polisi yang berbadan tegap.
"Hadi...!" teriak Murti yang berusaha menghentikan para polisi membawa Hadi.
Tapi Haris langsung menahan Murti, Haris memeluk pinggang Murti dengan kuat.
"Hadi...!" teriak histeris Murti membuat Haris tak dapat menahan air matanya untuk tidak mengalir.
'Hadi, kenapa kamu melakukan semua itu nak? kenapa?' tanya Haris begitu pilu dalam hatinya.
__ADS_1
***
Bersambung...