Ketika Yang Kucintai Berkhianat

Ketika Yang Kucintai Berkhianat
KYKB 135


__ADS_3

Sementara itu di rumah Hadi, malam yang sepi di sekitar rumah Hadi malah berbanding terbalik dengan suasana rumah Hadi Tama.


Masalahnya ketika Haris sudah pulang dari rumah sakit sore hari tadi, Susan masih berada di rumah Hadi. Haris yang menganggap Susan lah penyebab keretakan rumah tangga Hadi dan Sila sangat marah pada Susan dan tak sudi kalau melihat perempuan itu masih ada di rumah anaknya.


Karena kesal, Hadi terkesan membela Susan. Haris memutuskan untuk meninggalkan rumah Hadi mengajak sang istri. Murti yang memang sudah sangat kecewa pada Hadi pun mendukung segala keputusan suaminya.


Namun Hadi yang memang sangat menyayangi orang tuanya tidak ingin mereka pergi, semua kerja keras Hadi ini untuk anak dan kedua orang tuanya. Anaknya sudah tak lagi bersamanya. Dia juga tidak ingin kalau orang tuanya pergi meninggalkan nya. Untuk apa semua yang dia upayakan selama ini, kalau orang tuanya meninggalkan dirinya dan memilih hidup susah di kampung.


"Ayah lebih senang makan sehari sekali, daripada makan enak dari hasil menipu!" pekik Haris.


Ucapan Haris membuat semua orang lantas terdiam. Murti dengan mata yang berkaca-kaca benar-benar merasa kecewa pada anaknya. Selama ini dia memihak Hadi dan menghina Sila, karena dia pikir anaknya suami terbaik yang bahkan rela memasak untuk istrinya, tanpa Murti ingat perjuangan dan pengorbanan Sila selama ini. Dan kenyataan bahwa putranya lah yang berkhianat membuat Murti tak punya muka lagi pada Prio Utomo dan Tini.


Murti yang biasanya akan membujuk Haris jika marah pada Hadi. Kali ini hanya diam, membiarkan Haris yang selama ini biasanya memilih diam dan bersabar mencurahkan segenap beban dan kesal yang ada di hatinya.


Hadi seperti tertampar oleh apa yang dikatakan oleh ayahnya. Tapi semua sudah sampai seperti ini, dia tidak mungkin meninggalkan Susan yang meskipun tahu kalau dia sudah berm4in dengan wanita lain tapi tetap ada di sisinya ketika dia di tinggalkan semua orang.


"Ayah, aku minta maaf. Aku akui aku salah, aku salah telah mengkhianati Sila. Tapi semua ini aku lakukan bukan tanpa alasan...!"


Plakkk


Sebuah tamparan dari tangan kanan Haris mendarat sempurna di wajah Hadi. Cap lima jari tertera di wajah Hadi yang memang putih sejak lahir.


"Tidak alasan yang membenarkan perselingkuhan, pengkhianatan. Jika memang kamu tidak lagi sanggup hidup dengan Sila, katakan baik-baik. Ceraikan dia baik-baik, pulangkan dia ke rumah ayahnya secara baik-baik seperti saat kamu melamarnya!" Haris benar-benar terlihat kesal.


Sebenarnya dia masih tidak rela, Hadi melepaskan Sila demi wanita yang hanya bersikap manis di awal seperti Susan. Semakin kesini sikap Susan semakin tidak baik, dan Haris tahu itu memang wajah asli wanita itu. Haris tidak habis pikir kenapa Hadi memilih wanita itu di bandingkan Sila yang menurut Haris wanita yang berhati baik luar dan dalam.


Dengan memegang pipinya, Hadi berkata.

__ADS_1


"Ayah, semua sudah terjadi. Aku mengaku salah, tapi meskipun ayah memukuli aku sampai m4ti semua tidak akan berubah. Aku memang lebih nyaman dengan Susan!" jelas Hadi yang membuat Haris makin jengah.


"Baiklah, seperti kata ayah tadi. Kalau kamu nekad menikah dengan wanita perusak rumah tangga orang itu, lebih baik ayah dan ibu pergi dari rumah ini!" seru Haris mengatakan keputusan finalnya.


Jadi terlihat sangat panik, gusar dan cemas bercampur menjadi satu. Sedangkan Susan yang mendengarkan di balik dinding yang membatasi ruang keluarga dan juga ruang makan malah tersenyum sangat senang.


'Yes, akhirnya dua orang tua itu akan meninggalkan rumah ini. Aku bisa bebas menguasai mas Hadi dan rumah ini tanpa campur tangan mereka lagi, dengan tidak adanya mereka disini aku malah senang, karena tidak perlu repot-repot mengurus mereka kan!' batin Susan bersorak senang ketika Haris sudah memutuskan untuk pergi dari rumah Hadi.


Tapi Hadi yang masih berat kalau sampai kedua orang tuanya pergi bahkan bersimpuh dengan lutut sebagai penopang tubuhnya di depan Haris.


"Susan, kemari!" seru Hadi.


Susan terkejut Hadi memanggilnya, tapi dengan cepat Susan berlari menghampiri Hadi. Dia terkejut melihat Hadi sudah dalam posisi seperti itu di depan ayahnya yang bahkan tidak mau melihat ke arahnya.


"Mas...!" panggil Susan yang tidak mengerti dengan apa yang dilakukan Hadi.


"Ayah, tolong jangan pergi. Tolong restui kami!" ucap Hadi yang matanya sudah berkaca-kaca.


Susan yang sebenarnya kesal pun hanya bisa memasang ekspresi sedih dan menyesal di depan Haris dan Murti.


Tapi setelah berusaha akting menangis Susan malah merasakan kepalanya pusing dan pandangan nya kabur. Susan memegang kepalanya, lalu mencoba memanggil Hadi.


"Mas...!"


Brukk


Susan terjatuh ke lantai dan tidak sadarkan diri. Hadi yang melihat hal itu langsung membangunkan Susan. Hadi terus menggoyangkan bahu Susan dan memanggil namanya tapi Susan tak sadar juga.

__ADS_1


Haris dan Murti masih diam, dia tahu kalau Susan pandai bersandiwara, mereka pikir mungkin saja itu salah satu aktingnya.


Tapi setelah Hadi berteriak memanggil pelayan untuk mengambil air, Cece datang membawa segelas air, Murti yang memang kesal pada Susan langsung mengguyur wajah Susan dengan segelas air pemberian Cece.


Byukk


Tapi setelah di guyur dengan segelas air, Susan tidak menunjukkan kalau dia akan sadar. Bahkan bola matanya diam tak bergerak. Hal itu membuat Murti lantas menyuruh Hadi membawa Susan ke rumah sakit.


Haris menghela nafas panjang, karena Murti membujuknya untuk ikut Hadi ke rumah sakit.


"Bu, untuk apa kita ikut dengan Hadi. Lebih baik kita berkemas, dan bersiap untuk pulang besok!" seru Haris.


"Ayah, Hadi sedang dalam keadaan panik. Apa ayah tega meninggalkan putra kita dalam keadaan seperti ini. Bagaimana kalau terjadi sesuatu pada Susan, dan Hadi di salahkan oleh keluarga Susan?" tanya Murti yang membuat Haris mau tak mau melangkah mengikuti langkah Murti yang menyusul Hadi.


Mobil yang di kemudian Haris pun sampai di rumah sakit. Hadi langsung dengan cepat membawa Susan ke dalam rumah sakit. Setelah beberapa orang suster datang membantunya, Susan segera di bawa ke UGD.


Hadi di temani Murti duduk di depan ruang UGD. Sedangkan Haris memilih duduk agak jauh dari ruangan itu.


Beberapa saat kemudian dokter keluar dari ruangan itu. Hadi langsung berdiri dan bertanya tentang keadaan Susan, kenapa dia tiba-tiba saja pingsan.


"Dok, bagaimana Susan?" tanya Hadi.


Dokter wanita itu malah tersenyum melihat wajah Hadi yang panik.


"Selamat ya pak, istri anda sedang hamil. Sudah masuk 2 bulan!" jawab dokter itu.


***

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2