
Dave sudah mengantarkan Sila dan Mika ke rumah Prio Utomo. Hari ini bahkan dia tidak ke kantornya sama sekali. Dia menghabiskan hari ini dengan Sila, dan baginya itu adalah hari terbaik baginya.
Mika sudah tertidur karena kelelahan, Sila pun meminta tolong pada baby sitter Mika untuk menggendong Mika ke kamar Sila. Karena memang biasanya kalau Mika menginap di rumah ayahnya, Mika akan tetap tidur bersama dengan Sila. Meskipun di rumah Prio Utomo juga ada kamar untuk Mika jika dia menginap.
Setelah Diah mengajak Sila masuk ke dalam, Sila menghampiri Dave di dekati mobilnya.
"Mas, terimakasih banyak untuk hari ini. Kami sudah membantu ku bertemu dengan Mika, bahkan kamu juga sudah mengajak kami jalan-jalan ke taman bermain!" ucap Sila dengan mata berbinar.
Sila tidak tahu bagaimana lagi cara berterima kasih pada Dave, pria itu benar-benar bak malaikat yang datang di kehidupan Sila yang mulai rapuh ketika suaminya selingkuh di belakangnya.
Dave lalu membelai lembut pipi Sila.
"Semua ini adalah kewajiban ku Sila, aku suamimu, tidak perlu berterimakasih padaku karena kebahagiaan mu adalah kebahagiaan ku!" ucap Dave lembut.
Mata Sila pun berkaca-kaca. Meskipun ini bukan kali pertamanya Dave berkata begitu manis, tapi setiap Dave mengatakan kalimat-kalimat itu, hati Sila benar-benar merasa tersentuh. Mungkin benar kata orang, apa yang di lakukan dari dan dengan hati, maka pasti akan sampai ke hati juga.
Dave begitu tulus pada Sila, maka Sila pun dapat merasakannya dengan hatinya.
"Besok pagi, aku akan menjemputmu. Mika juga harus pergi ke sekolahnya kan? aku akan antar kan kalian berdua. Sekarang masuk dan istirahat lah!" ucap Dave dan Sila pun mengangguk patuh.
Tapi baru saja Sila berbalik, Dave kembali memanggil nya.
"Sila!" panggil Dave membuat langkah Sila terhenti dan berbalik menghadap ke arah Dave lagi.
"Iya mas!" jawab Sila.
"Aku mencintai mu " ucap Dave membuat Sila kembali memperlihatkan senyuman yang merona.
Sila ingin membalas ucapan Dave itu, tapi rasanya sangat sulit bibirnya mengucapkan kata yang sudah tercekat di tenggorokannya.
Dave lalu tersenyum.
"Tidak apa-apa Sila, aku akan menunggu. Selamat malam!" ucap Dave yang langsung masuk ke dalam mobil karena sejak tadi Joseph juga sudah membuka pintu mobil Dave dan menunggu Dave untuk masuk ke dalam mobil.
__ADS_1
Setelah Joseph menutup pintu, dia juga memberi salam dan pamit pada Sila.
"Selamat malam nona Sila, permisi!" ucap Joseph dengan sedikit membungkukkan badannya.
Sila hanya mengangguk dan masih melihat ke arah kaca mobil tempat Dave duduk. Setelah mobil Dave berlalu, Sila menghela nafasnya.
"Aku juga mas, aku juga!" gumam Sila pelan.
Dia kembali menghela nafasnya panjang dan masuk ke dalam rumah. Meski sedikit sedih karena tidak bisa mengatakan isi hatinya pada Dave, tapi dia segera tersenyum karena sudah tidak sabar untuk bisa memeluk putri kecil nya itu saat tidur seperti dulu.
Sila berjalan ke kamarnya, tapi saat dia akan masuk ke dalam kamar, Niken memanggilnya.
"Sila!" panggil Niken, kakak ipar Sila. Istrinya Bima.
Sila pun menoleh ke arah sumber suara.
"Iya kak Niken, kak Niken sudah makan malam?" tanya Sila berbasa-basi.
Sila pun mengangguk. Mereka pun duduk di taman belakang rumah Prio Utomo.
"Ada apa kak? kenapa kakak mengajak ku bicara di sini. Bukankah kita bisa bicara di ruang tengah atau di kamar ku?" tanya Sila pada Niken.
"Di kamar mu, Mika sudah tidur kan? dan di ruang tengah, Tasya dan Dion masih belajar, mereka bisa saja mendengar nya, karena kamar mereka dekat ruang tengah!" jawab Niken mengemukakan alasannya bicara di teras belakang yang sepi.
Sementara Sila sepertinya mulai mengerti kalau kakak iparnya itu akan membicarakan hal yang serius. Karena mengajaknya bicara di teras belakang dan tidak ingin orang lain mendengarkan pembicaraan mereka berdua.
"Sila, sebenarnya apa hubungan mu dengan tuan Dave Hendrawan itu?" tanya Niken membuat Sila tercengang.
"Kak Niken kenapa bertanya seperti itu, maksud ku... aku dan tuan... !"
"Aku tadi dengar kamu panggil dia, mas?" tanya Niken.
Sila lagi-lagi termangu. Ternyata kakak iparnya mendengar Sila memanggil Dave dengan panggilan mas. Sila pun mulai bingung, haruskah dia mengatakan yang sebenarnya pada Niken. Tapi apakah mereka akan menerima hubungan Sila dan Dave, masalahnya mereka menikah hanya dalam waktu satu bulan setelah Sila resmi bercerai dengan Hadi. Sila tidak tahu apa yang akan di pikirkan oleh kakak iparnya itu.
__ADS_1
Melihat Sila hanya terdiam Niken langsung memegang tangan adik iparnya itu.
"Sila, aku kakak ipar mu. Tapi aku sudah menganggap mu seperti adik kandung ku sendiri. Kamu percaya padaku kan?" tanya Niken membuat Sila menatap kakak iparnya itu lalu menganggukkan kepalanya.
Sila merasa kalau mungkin dia memang harus menceritakan tentang hubungannya pada keluarganya cepat atau lambat. Tadinya memang dia baru akan bilang setelah dia mendapatkan hak asuh Mika. Tapi karena Niken sudah mendengarnya memanggil Dave dengan panggilan mas, maka Sila pun merasa lebih baik kalau dia bicara pada Niken.
"Kak, tapi aku sedang memperjuangkan hak asuh Mika. Aku harap kak Niken bisa merahasiakan semua ini dari siapapun dulu sampai aku mendapatkan hak asuh Mika, ya?" tanya Sila.
Dan Niken yang memang tidak akan mengatakan hal itu pada siapapun segera mengangguk paham. Melihat kakak iparnya bersedia merahasiakan apa yang ingin dia sampaikan, Sila pun menghela nafas lega.
"Sebenarnya, aku dan mas Dave sudah menikah!" ucap Sila yang langsung membuat Niken menutup mulutnya tak percaya.
"Menikah?" tanya Niken lagi. Dia ingin memastikan apa yang dia dengar tadi adalah benar. Dan dia tidak salah dengar.
Sila pun mengangguk sekali.
"Tapi Sila, masa Iddah mu saja seharusnya belum selesai kan?" tanya Niken yang mengingatkan Sila.
"Mas Hadi sudah menjatuhkan talak tiga padaku kak, tidak ada kesempatan lagi bagi kami untuk rujuk. Masa Iddah adalah masa menunggu, tapi memang sudah tidak ada yang bisa aku tunggu. Dan aku juga sudah tidak berhubungan dengan mas Hadi dua bulan sebelum dia menjatuhkan talak padaku! tapi terlepas dari semua itu, pria yang malam itu bersama ku saat aku di jebak itu adalah mas Dave!" jelas Sila.
Lagi-lagi Niken harus menutup mulutnya tak percaya.
"Jadi pria itu tuan Dave, apa kamu juga sudah tahu siapa yang menjebak mu. Siapa yang sudah melakukan semua perbuatan keji itu padamu Sila?" tanya Niken.
Mata Sila kembali berkaca-kaca. Dia lalu menganggukkan kepalanya perlahan.
"Iya kak, yang menjebak ku adalah mas Hadi!"
"Ya Tuhan!" pekik Niken begitu terkejut dengan jawaban Sila.
***
Bersambung...
__ADS_1