
Di tempat lain, masih di waktu yang sama. Rumah sakit yang seharusnya tenang suasananya agar para pasien yang di rawat di sana cepat sembuh dari sakit mereka. Malah berubah menjadi sangat berisik dan ribut akibat ulah seorang pasien yang menolak untuk di bawa ke kantor polisi.
Pasien wanita itu tidak lain tidak bukan adalah Susan. Karena kondisinya yang sudah membaik setelah perawatan selama beberapa hari di rumah sakit. Akhirnya para petugas polisi pun datang ke rumah sakit untuk membawa Susan ke kantor polisi. Proses penyelidikan sudah selesai dan Susan sudah di tetapkan sebagai tersangka atas penggelapan dana perusahaan juga atas pencemaran nama baik dari para pesaing kandidat wakil CEO di perusahaan pak Kamal.
Namun bukan Susan namanya kalau dua menyerah begitu saja dan membiarkan dirinya di bawa dengan mudah ke kantor polisi meskipun sudah di tetapkan sebagai tersangka.
"Lepaskan, aku tidak bersalah. Semua itu Hadi Tama yang melakukan nya. Aku tidak tahu apa-apa. Lepaskan aku!" teriak Susan histeris.
Pak Hilman juga tidak dapat berbuat apa-apa. Dia bahkan tidak bisa meninggalkan Mila yang tak kalah menyedihkan nasibnya dari Susan. Mila bahkan tidak mau makan dan terus menangis karena harus kehilangan salah satu kakinya. Juga harus selamanya memakai tongkat untuk membantunya berjalan.
Hingga pada akhirnya Hilman hanya bisa pasrah atas apa yang terjadi pada Susan. Karena mau bagaimana juga dia juga sudah tidak bisa menasehati anaknya itu. Sejak kemarin dia berusaha meyakinkan Susan untuk mengakui semua kesalahannya dan menanggung hukuman atas apa yang sudah dia perbuat. Tapi Susan malah emosi bahkan berkata kasar pada Hilman. Sebagai orang tua, Hilman tidak mempermasalahkan marah Susan padanya. Tapi dia juga sudah tidak bisa banyak membantu lagi. Karena sehalus apapun dia menasehati Susan, anaknya satu-satunya itu malah semakin tidak terima di salahkan.
Hingga Hilman memilih untuk menyerahkan semua pada petugas dan memilih untuk menjaga Mila yang begitu sedih karena apa yang menimpa dirinya, apalagi saat dia mendengar semua hartanya sudah habis untuk biaya operasi. Mila sungguh berada dalam posisi tersulit dan paling menyedihkan dalam hidup nya saat ini.
"Nyonya Susan, jangan paksa kami berbuat kasar pada anda!" ujar salah satu petugas polisi wanita yang bernama Salma.
Susan yang sudah kebingungan karena semakin banyak petugas wanita yang masuk ke ruangannya pun merasa semakin tertekan. Dari emosi yang berlebihan, akhirnya Susan menangis hingga terisak. Bahkan meraung-raung.
Salma dan para petugas lainnya saling pandang. Mereka bingung dengan sikap Susan.
"Apa yang terjadi padanya?" tanya Salma.
"Ha ha ha, anakku... hiks .. hiks... aku kehilangan anakku ha ha ha...!" Susan benar-benar bersikap di luar nalar.
Sebentar dia menangis, sebentar dia tertawa bahkan sebentar kemudian dia marah dan kembali menangis lagi.
"Cepat panggil dokter!" perintah Salma pada dua orang perawat yang menemani di ruangan rawat Susan.
Perawat yang di perintahkan itu langsung berlari keluar dari ruang rawat Susan. Benar-benar berlari.
__ADS_1
Setelah beberapa petugas yang memegang tangan Susan untuk membawanya keluar dari ruang rawat melepaskan tangan Susan. Susan pun terduduk di lantai.
Dia kembali menangis sambil menggaruk-garuk kepalanya.
"Anakku... dimana anakku?" tanya nya sambil melihat ke sekeliling.
Membuat Salma dan petugas polisi wanita yang lain jadi saling memandang dan juga berbisik-bisik.
"Jangan-jangan dia sudah gil4!" bisik petugas wanita yang ada di belakang Salma.
Salma masih terus memperhatikan Susan, dia sudah banyak menangani kasus dimana tersangka pura-pura gil4 agar terhindar dari hukuman pidana.
Tapi Susan memang tidak pura-pura. Dia benar-benar depresi karena rasa takut yang sangat berlebihan. Membuat pikirannya menjadi tidak karuan. Sebentar-sebentar dia bahkan mendengar suara anak kecil menangis. Membuatnya mencari keberadaan anak itu dimana.
Susan mencari suara tangis itu, bahkan dia berdiri dan melihat bantal yang ada di atas tempat tidur pasiennya. Matanya berhalusinasi kalau itu adalah seorang bayi kecil yang menangisi.
"Sayang, jangan menangis... cup cup cup!" ucapnya sambil memeluk dan menciumi bantal itu.
Salma pun menghela nafasnya. Dia rasa Susan sedang tidak berpura-pura. Karena saat dia mencari sesuatu tadi. Dia nyaris tidak melihat ke arah para petugas dan juga dirinya. Benar-benar hanya fokus mencari sesuatu.
Setelah dokter tiba, dokter itu juga sempat menghela nafasnya. Sebenarnya dari awal Susan sadar dari koma, dia juga sudah merasa ada yang tidak beres pada Susan.
Dokter itu pun kemudian mendekati Susan.
"Bu, Susan! saya periksa sebentar ya?" ucap sang dokter dengan lembut.
Susan yang masih menepuk-nepuk bagian bawah bantal pun menoleh.
"Siapa kamu, kamu mau ambil anak aku ya?" tanya Susan yang kemudian langsung memeluk erat bantal itu.
__ADS_1
Susan menggendong bantal itu dan menjauh dari dokter yang ingin memeriksanya.
"Bukan Bu Susan, saya tidak mau ambil anak Bu Susan. Saya cuma mau periksa Bu Susan sebentar, kalau Bu Susan sakit kan nanti anaknya bisa ketularan. Kasihan kan?" tanya dokter itu masih dengan suara yang sangat lembut.
Beberapa petugas mulai saling pandang dan kembali berbisik-bisik.
"Dia benar-benar gil4 ya sepertinya?" tanya salah satu petugas pada petugas lain yang hanya bisa mengangkat bahunya sekilas.
Mendengar bujukan sang dokter akhirnya Susan mau di periksa. Setelah beberapa saat, dia kemudian mencocokkan hasil pemeriksaannya dengan hasil scan yang sebelumnya sudah di lakukan pada Susan.
Setelah selesai memastikan apa yang terjadi pada Susan. Dokter itu mendekati Salma.
"Maaf Bu polisi. Sepertinya pasien dalam keadaan tidak baik. Kami menemukan ada pergeseran syaraf di kepalanya. Untuk memastikan apakah pasien mengalami gangguan kejiwaan, kami akan meminta dokter spesialis untuk memeriksanya. Sepertinya, Bu Susan belum bisa di bawa keluar dari rumah sakit dulu. Bagaimana pendapat anda Bu Salma?" tanya dokter itu.
Salma pun melihat ke arah Susan.
"Baiklah, saya akan laporkan masalah ini pada atasan saya. Akan ada dua petugas yang berjaga di ruangan ini. Apa tidak masalah?" tanya Salma pada dokter.
"Iya, sepertinya tidak. Asal tidak mengajak Bu Susan bicara. Sepertinya kalau tidak di ajak bicara dia tidak akan menyadari ada orang di sekelilingnya!" jelas sang dokter.
Salma pun menugaskan dua orang untuk tinggal, sementara dia dan yang lain kembali ke kantor polisi.
Susan masih menggendong bantal sambil duduk di tempat tidur pasiennya.
"Sayang... jangan nangis ya. Ibu di sini nak!" gumamnya sambil cekikikan sendiri.
***
Bersambung...
__ADS_1