Ketika Yang Kucintai Berkhianat

Ketika Yang Kucintai Berkhianat
KYKB 224


__ADS_3

"Halo, siapa ini?" tanya Zain yang masih berada di perjalanan menuju rumah sakit dari kampungnya.


Zain memang selalu memegang ponselnya, dia sangat siaga. Zain takut kalau ibunya menghubunginya tiba-tiba, jika dia terus memegang ponselnya maka dia akan bisa menerima panggilan ibunya dengan cepat.


Berita tentang Hadi yang di bawa polisi, dan ayahnya yang masuk rumah sakit juga sangat membuat Zain panik. Dia langsung meninggalkan pekerjaannya dan menitipkan Ayu, istrinya yang tengah hamil bersama Lia, adik bungsunya.


"Zain, ini aku!" ucap Hadi di seberang sana dengan suara serak dan terdengar sangat sedih.


"Kak Hadi!" balas Zain dengan nada suara yang terdengar sangat sedih dan kecewa juga.


"Bagaimana semua ini bisa terjadi kak, bagaimana mungkin kakak...!" Zain tidak dapat melanjutkan apa yang ingin dia katakan.


Ketika Zain ingin bertanya pada Hadi bagaimana kakaknya itu bisa korups1, dia sama sekali tidak bisa mengatakan itu. Karena dia sedang berada di dalam kereta yang ramai. Di sebelahnya bahkan ada seorang nenek tua, dia tidak mau menimbulkan kesalahpahaman bagi orang lain.


"Aku salah Zain, aku juga minta maaf padamu. Karena sebagai kakakmu aku malah memberi contoh yang tidak patut di contoh olehmu, aku salah karena mengira aku akan bisa membahagiakan kalian dengan jalan itu, tapi aku salah Zain, aku malah mempermalukan kalian semua keluarga ku!" ucap Hadi penuh dengan rasa sesal.


Zain yang mendengar kakaknya bicara seperti itu pun ikut sedih. Tapi sepertinya Zain punya pemikiran lain tentang apa yang terjadi pada kakaknya itu. Pikiran itu muncul karena dulu kakaknya tidak seperti ini saat masih hidup bersama dengan Sila. Jadi Zain berpikir kalau semua kesalahan yang dilakukan oleh kakaknya itu pasti ada campur tangan dari wanita bernama Susan itu.


"Semua ini pasti karena hasut4n Susan kan kak?" tanya Zain terdengar kesal.


Hadi terdiam mendengar ucapan Zain. Tapi meskipun apa yang terjadi memang sebagian besar karena Susan, tapi Hadi juga merasa dirinya bersalah. Kalau dia tidak terpengaruh pada apapun yang di hasutkan Susan. Semua ini juga tidak akan terjadi.

__ADS_1


"Zain, ini salahku. Waktu ku untuk menghubungi mu, tidak banyak. Aku hanya ingin meminta bantuan mu. Aku mohon datanglah pada Sila, katakan padanya aku ingin bertemu dan meminta maaf padanya. Bisakah kau lakukan itu untukku Zain, aku mohon!" pinta Hadi di ujung telepon.


Tanpa terasa Zain meneteskan air matanya. Saat Hadi memutuskan berpisah dengan Sila, selain Haris, Zain lah yang paling sedih mendengar kabar itu. Dia bahkan dulu adalah satu-satunya orang selain Haris yang tidak percaya kalau Sila sudah berselingkuh. Saat bertemu pun, Zain masih menyapa Sila dengan sopan. Zain berbeda dengan Hadi, Murti dan Lia. Zain termasuk orang yang tidak akan lupa pada yang namanya balas budi.


Zain selalu ingat siapa yang sudah menyekolahkan dirinya sampai bisa bekerja di pabrik yang ada di kampung nya. Kalau hanya lulusan SMA saja, maka di kampungnya paling-paling hanya akan jadi kuli saja. Tapi karena dia kuliah, jabatannya bisa menjadi seorang mandor pabrik jagung.


"Aku akan berusaha kak!" jawab Zain.


"Baik, aku yakin kamu bisa melakukan nya. Sila juga sangat menyayangi mu, aku benar-benar ingin meminta maaf padanya secara langsung Zain. Aku mohon tolong aku!"


Itulah kalimat yang Hadi katakan sebelum Zain mendengar suara seseorang meminta telepon yang Hadi pegang dan mengatakan waktunya menelepon sudah habis.


Zain tidak bisa menahan air matanya lagi. Dia memandang ke arah foto Hadi yang tersenyum sambil menggendong Mika, dan di sisinya ada foto Sila yang memeluk lengan Hadi.


'Kak, jika saja kamu tidak terpedaya oleh cinta masa lalu mu dan tetap setia pada kak Sila. Keluarga kita akan tetap baik-baik saja!' batin Zain sangat sedih.


Tapi kali ini ada satu hal yang dapat di pelajari oleh Zain dan akan selalu dia ingat sampai kapan pun.


Wanita yang baik adalah wanita yang akan selalu ada di saat seorang pria itu ada di tempat paling buruk, atau saat dia sedang dalam keadaan terpuruk.


Zain akan selalu ingat hal itu, saat dia sedang sulit Ayu selalu setia mendampingi dirinya, dalam hatinya Zain berjanji, akan terus berusaha membahagiakan istrinya itu dan tetap setia padanya sampai kapanpun.

__ADS_1


Sementara itu di kantor polisi setelah menghubungi Zain, Hadi pun di masukkan kembali ke ruang tahanan. Di sana ada tiga orang tahanan yang lain.


Karena Hadi memang sudah mengakui semua perbuatannya, berkasnya pun tidak sulit di lengkapi.


Begitu penjaga meninggalkan Hadi, dia hanya duduk di dekat jeruj1 besi tanpa alas apapun. Dia benar-benar duduk di atas lantai dingin ruang tahanan, di pojok sebelah kiri menatap nanar keluar jeruj1 besi yang sebenarnya juga hanyalah tembok yang bercat putih yang sudah usang.


Mimpi pun Hadi tak pernah membayangkan dirinya berada di tempat pesakitan seperti itu. Mata Hadi berkaca-kaca. Penyesalan dan rasa bersalah lah yang sedang menyelimuti seluruh hati dan pikirannya saat ini.


Perasaan bersalah pada Sila, dan pada Mika putri kecilnya. Hadi tak sanggup membayangkan bagaimana kalau Mika tahu ayahnya adalah seorang penjah4t, penipu dan pengkhianat. Perasaan Hadi saat ini benar-benar seperti tertusuk ribuan duri tajam, rasa sesal membuat nafasnya seolah tercekat.


Dengan mata berkaca-kaca, dia membayangkan wajah polos Mika.


'Mika sayang, maafkan papa. Papa sudah membuat kesalahan besar nak, papa sudah membuat Mika harus menanggung malu!' batin Hadi menangis.


Hadi menyesal, karena perbuatannya dan harus mendekam di penjara. Dia akan meninggalkan jejak tidak baik, dan nanti Mika secara tidak langsung juga akan di cap sebagai anak seorang narapidana. Hadi memejamkan matanya dan memegang dadanya membayangkan betapa sedihnya Mika, betapa malunya putrinya itu jika ada orang yang berkata seperti itu padanya. Padahal putri kecilnya itu tidak berbuat apapun. Tidak melakukan kesalahan apapun, tapi dia juga akan ikut malu.


Air mata Hadi menetes, ketika dia membayangkan hal yang sama juga akan menimpa keluarganya, ayah, ibu dan kedua adiknya. Mereka semua juga akan malu akibat perbuatannya itu. Apalagi Hadi juga terus memikirkan bagaimana kehidupan kedua orang tuanya yang sudah tua dan tidak bekerja lagi. Bagaimana kehidupan mereka nanti. Penyesalan dan rasa bersalah Hadi benar-benar membuatnya sangat frustasi.


***


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2