Ketika Yang Kucintai Berkhianat

Ketika Yang Kucintai Berkhianat
KYKB 43


__ADS_3

Cukup lama Sila membaca dan mempelajari dokumen yang merupakan proposal pengajuan kerja sama dari Perusahaan T yang di wakili oleh Hadi. Sila benar-benar fokus pada pekerjaan nya, sebelum berangkat tadi, Anita sudah memberitahukan padanya masalah kerja sama ini. Dan meskipun sebenarnya tugas Sila hanya menemani Dave dan menyiapkan segala keperluan Dave, tapi di dalam mobil saat perjalanan menuju ke hotel, Dave sudah memberitahu pada Sila, semua perincian tentang poin penting kerja sama ini.


Sila sudah selesai memeriksa, kemudian dia menunjukkan lembar ketiga dari proposal itu pada Dave.


"Tuan, semuanya sudah sesuai selain di bagian ini! kerja sama ini mereka yang mengawasi dengan alasan meringankan tugas kita, tapi sebagai penanam saham terbesar, tentu anda tidak akan membiarkan ini bukan?" tanya Sila pada Dave.


Susan terlihat mengepalkan tangannya.


'Perempuan ini, apa dia sengaja?' tanya Susan dalam hatinya.


"Ini kerja sama yang hanya bernilai ratusan juta dolar Sila, kamu benar! baiklah poin itu harus kalian rubah lagi. Aku akan tempatkan beberapa orang ku di perusahaan kalian untuk mengawasi pekerjaan kalian!" seru Dave.


Hadi hanya bisa menghela nafasnya, dia tidak menyangka kalau Sila bisa bersikap biasa saja seperti tidak terganggu sekali dengan kehadirannya. Padahal setahu Hadi, Sila sangat mencintainya. Dia pikir Sila akan gugup dan tidak teliti, tapi ternyata dirinya salah. Perusahaan T memang sedang dalam kondisi keuangan yang tidak baik. Direktur utama juga sedang sakit, hingga semua proyek di tangani oleh Hadi. Karena itu dia menambahkan poin itu agar perusahaan Hendrawan tidak mengawasi mereka, karena pasti kualitas akan sedikit di down grade oleh mereka. Namun jika di awasi, maka mereka harus meminimalisir semua keperluan yang tidak penting, dan itu akan sangat menyulitkan Hadi yang baru saja naik jabatan.


"Baiklah, tuan Dave. Kami akan merubah poin itu. Tapi bisakah besok kita bertemu dan segera menyelesaikan kerja sama ini?" tanya Hadi yang memang sudah menunggu lama untuk sekedar tanda tangan Dave saja.


"Tergantung jadwalku besok, bagaimana Sila. Apa besok aku punya waktu senggang?" tanya Dave pada Sila.


Sebelum Dave mengatakan itu, Sila sudah membuka note kecil yang selalu dia bawa.


"Tidak tuan, besok anda ada dua pertemuan penting di siang dan sore hari!" jawab Sila dengan cepat.


Hadi sejak tadi melihat Sila, dia merasa kalau mantan istrinya itu benar-benar sudah tidak menganggapnya lagi. Sejak tadi Sila bahkan sama sekali tidak menoleh bahkan hanya sekilas pada Hadi. Dan itu membuat Hadi merasa sangat penasaran padanya, karena saat Hadi ingin menceraikan nya Sila bahkan bersujud dan menyentuh kakinya sambil menangis. Hadi tahu benar kalau Sila sangat mencintainya dan tidak mungkin melupakannya dalam waktu yang begitu singkat.


Susan yang sejak tadi mengawasi situasi disini merasa kalau Sila lah kunci utama keberhasilan proyek ini. Sejak tadi Dave selalu bertanya kepada Sila dan selalu meminta pendapat Sila.


'Sepertinya tuan Dave sangat percaya pada mantan istri mas Hadi ini. Tidak heran dulu jabatannya lebih tinggi daripada mas Hadi, rupanya dia memang kompeten. Tapi aku harus mencari cara agar kerja sama ini cepat di tandatangani oleh tuan Dave, apa ya...!' pikir Susan.

__ADS_1


Susan berpikir sejenak, lalu dia teringat akan Mika. Sila pasti akan sangat tertarik kalau dia bisa melihat Mika. Karena sangat yakin rencana nya ini akan berhasil, Susan yang merasa kalau dia harus membantu Hadi pun berkata.


"Bagaimana kalau sambil makan malam tuan Dave? kebetulan besok malam ada acara syukuran kehamilan adik ipar mas Hadi. Bagaimana kalau kami mengundang tuan Dave sebagai tamu kehormatan, sekaligus membicarakan kembali kerja sama ini?" tanya Susan.


Dan dia benar, setelah dirinya berkata seperti itu. Sila langsung melihat ke arah Dave.


Dave yang tahu kalau Sila sangat ingin tahu alamat Hadi dan juga bertemu dengan Mika, merasa kalau ini adalah momentum yang tepat.


"Baiklah, kirim alamatnya pada Anita. Kami akan tiba sekitar pukul delapan malam!" ucap Dave lalu segera berdiri.


Melihat Dave berdiri dari duduknya, Sila, Susan dan Hadi juga ikut berdiri. Tapi Hadi berpikiran kalau tuan Dave itu sangat perfeksionis, setahunya juga banyak sekali makanan dan minuman yang tidak dia suka.


"Maaf tuan Dave, bolehkan aku bertanya pada sekertaris anda tentang apa saja yang bisa aku siapkan untuk anda besok malam?" tanya Hadi yang membuat Susan langsung melotot ke arah Hadi.


"Mas..!" geram Susan pelan.


Dave langsung melihat ke arah Sila yang hanya menatap ke arah depan.


Dave berpikir inilah saatnya dia mengetahui apakah Sila sudah move on atau belum dari mantan suaminya. Lagipula dia juga tidak perlu cemas, karena apa yang dia lakukan tadi juga sudah memastikan kalau semua proyek ini tergantung pada Sila, jadi Dave yakin kalau selingkuhan mantan suaminya itu dan juga mantan suaminya itu sendiri tidak akan berbuat macam-macam pada Sila.


"Sila, kamu bisa jelaskan pada mereka!" ucap Dave membuat Sila melihat ke arah Dave dengan tatapan heran.


Sebenarnya Sila sedang berusaha untuk bersikap sangat biasa. Padahal sejak tadi dia ingin sekali keluar dari ruangan itu, Sila bahkan tidak sekalipun menoleh ke arah Susan atau Hadi karena dia tak akan bisa menyembunyikan emosi hatinya kalau melihat ke arah mereka. Sila masih sangat sakit hati pada mantan suaminya dan juga wanita yang merusak rumah tangganya itu. Dan sekarang Dave menyuruhnya bicara langsung pada mereka? Sila langsung menghela nafasnya.


Tatapan mata Dave sama sekali tidak bisa di mengerti Sila. Dan dia hanya bisa menjawab,


"Baik tuan!" jawab Sila lalu menundukkan kepalanya.

__ADS_1


"Tuan, apakah saya perlu..?" Joseph yang khawatir pada Sila memberanikan dirinya bertanya pada Dave apakah dia bisa menemani Sila di sini. Tapi sebelum dia selesai bicara Dave malah mengajaknya untuk segera pergi meninggalkan ruangan itu.


"Kita keluar sekarang Jo!" seru Dave dan langsung pergi keluar.


Joseph melihat ke arah Sila sekilas lalu mengikuti langkah Dave untuk keluar dari ruangan itu. Meninggalkan Sila bersama dengan Susan dan juga Hadi.


Sila berbalik dan berjalan ke arah kursi.


"Saya akan jelaskan semua tentang yang disukai dan tidak disukai oleh tuan Dave!" ucapnya lalu mengeluarkan note kecilnya kembali.


Namun saat Susan akan duduk di sofa, ada seorang pelayan yang masuk dan membawa minuman, Hadi yang memang ingin bicara berdua dengan Sila lalu menyenggol lengan pelayan itu sehingga nampan berisi minuman menyenggol Susan dan salah satu gelas yang miring pun menumpahkan isinya ke rok mini yang di pakai Susan.


"Hei!" pekik Susan terkejut dan langsung melotot pada pelayan wanita yang sudah ketakutan itu.


"Maaf nyonya, saya tidak sengaja... tadi..!" pelayan itu langsung melihat ke arah Hadi karena dia merasa kalau Hadi tadi memang menyenggolnya.


"Sudah, sudah... jangan teriak Susan. Mungkin tuan Dave belum jauh dan masih bisa mendengar teriakan mu. Sebaiknya bersihkan dulu di toilet!" ucap Hadi pada Susan.


Meskipun kesal tapi Susan menurut pada Hadi. Seperti itulah cara Susan merayu Hadi, dia selalu menurut pada apapun yang di katakan Hadi.


'Ck... mau apa orang ini. Aku melihatnya menyenggol lengan pelayan itu tadi!' kesal Sila dalam hati yang tadi melihat Hadi sengaja menyenggol lengan pelayan itu.


Susan dan pelayan itu sudah keluar, Hadi pun duduk di sofa yang ada di depan Sila.


"Baik tuan Hadi, saya akan jelaskan mulai dari apa saja yang di sukai oleh tuan Dave...!"


"Sila, apa kamu benar-benar sudah melupakan aku?" tanya Hadi menyela ucapan Sila.

__ADS_1


***


Bersambung...


__ADS_2