
Di suatu tempat, masih di waktu yang sama tepatnya di rumah Riyanti. Saat dia baru saja pulang kerja dan ingin masuk ke dalam kamarnya. Tiba-tiba saja dia mendengar Ema sedang bicara dengan seseorang di dekat dapur.
Riyanti sebenarnya ingin menyapa Ema. Tapi karena dia mendengar sesuatu yang membuatnya terkejut, dia pun mengurungkan niatnya itu lalu berhenti di belakang dinding dan mendengarkan apa saja yang Ema katakan dengan seseorang di telepon itu.
"Sayang, aku bicara benar. Riyanti sudah memaafkannya. Jadi lupakan semua rencana-rencana kita yang selanjutnya untuk meneror wanita bernama Karina itu...!"
"Jadi kamu yang meneror Karina?" tanya Riyanti dengan tatapan mata tak percaya Ema bisa melakukan semua itu.
"Harusnya aku sudah tahu ini, kamu yang lebih dulu tahu kalau Randy akan menikah dengan Karina. Aku juga lupa kalau pacarmu adalah orang yang sangat pintar dalam hal menyembunyikan atau mengubah rekaman CCtv dan membuat rencana. Ema, untuk apa semua itu? kamu membuat Randy menuduhku?" tanya Riyanti dengan mata yang berkaca-kaca.
Ema pun langsung memutuskan panggilan telepon dengan pacarnya lalu meletakkan ponselnya di atas meja makan kemudian Ema menghampiri Riyanti.
"Aku melakukan semua ini untuk mu. Aku hanya ingin membuat wanita bernama Karina itu menangis dan merasakan perasaan menderita seperti mu, tapi setelah melihat mu bisa bangkit seperti ini. Aku cukup lega, aku akan menghentikan semuanya!" ujar Ema.
Riyanti langsung memeluk sepupunya satu-satunya itu. Dia sangat terharu, sampai seperti itu Ema berusaha membela dirinya.
"Kau yakin Randy tidak akan menemukan kalau kau pelakunya?" tanya Riyanti yang mencemaskan Ema dan pacarnya.
"Kalau kamu tidak mengatakannya pada Randy, maka siapapun tidak akan pernah tahu. Erick bekerja sangat rapi. Itu adalah keahliannya. Aku juga akan minta maaf pada Karina nanti kalau aku bertemu dengannya. Aku rasa dia memang wanita yang baik. Kau bisa seperti ini karena dia bukan?" tanya Ema.
Riyanti mengangguk setuju sambil tersenyum. Dia juga tidak akan mengatakan hal ini pada siapapun. Karena dia tidak akan membiarkan Ema terlibat dalam masalah. Meskipun hal itu sempat membuat Karina ketakutan. Tapi justru karena hal itu, Randy menemukan dalang di balik siapa yang membunuh Alisha. Jadi Riyanti rasa, kalau Ema sebenarnya membuka jalan bagi Randy agar bisa menangkap pembunuh Alisha.
***
__ADS_1
Keesokan harinya...
Setelah perdebatan panjang antara keempatnya, Dave, Sila, Randy dan Shafa. Kalau Karina dia hanya memilih untuk diam dan menjaga Mika. Akhirnya Dave mengalah dan menurunkan sedikit egonya untuk bertemu Edgar Retz dan menjelaskan semua masalahnya kalau memang dia mengira Dave lah yang menjadi penyebab Catherine bunuh diri.
Di temani Randy dan juga Joseph, sementara Oman, Dave menyuruhnya untuk menjaga Sila dan Mika dengan baik.
Pukul sembilan pagi, sampailah mereka bertiga di apartemen Chaterine. Tak lupa Dave memakai sarung tangannya, karena dia juga tidak mau terlihat tidak tulus, setidaknya dia harus bersalaman dengan Edgar Retz kan.
Mendengar kedatangan Dave Hendrawan, Edgar yang berada di kamar Chaterine dan masih terus memandang potret adik tercintanya itu segera bangkit berdiri dan berjalan dengan cepat menuju ruang tamu.
Begitu melihat Dave, Edgar Retz langsung melayangkan tinjunya ke arah Dave. Namun dengan sigap, Joseph menangkap tinjunya itu. Kemarin memang Joseph tidak mau melawan karena merasa Edgar Retz masih dalam suasana duka dan tidak bisa bersikap dan bertindak dengan logika. Tapi kali ini jika Edgar Retz melakukan tindakan kasar pada Dave, Joseph pun tidak akan tinggal diam.
"Lepaskan tanganku pelayan sialann, dia harus membayar kematian adikku!" pekik Edgar Retz yang disusul dengan kepungan oleh anak buah Edgar Retz di sekeliling Dave, Randy dan Joseph.
"Apa harus orang lain yang bertanggung jawab atas tindakan seseorang. Adikmu bunuh diri, harus aku yang bertanggung jawab. Apa aku yang menyuruh adikmu bunuh diri?" tanya Dave mulai kesal.
Sejak awal sebenarnya Dave memang tidak ingin menjelaskan apapun pada Edgar Retz. Hanya saja untuk meyakinkan semua yang perduli padanya yang memintanya baik-baik bicara dan menjelaskan pada Edgar Retz dia mau datang kemari.
Tadinya Dave pikir jika Edgar mau mengancam atau melakukan tindakan yang mengancam keluarganya, Dave juga tidak akan tinggal diam. Karena sebenarnya Dave juga sudah tahu seperti apa pria di depannya itu, dia sangat keras kepala dan tak mau mendengarkan orang lain.
"Apa kau tahu dia mencintaimu, dia setiap hari membicarakan mu. Masih kurang jelas kah kalau dia memang sangat mencintai mu. Kenapa kamu mengabaikannya bahkan menikah dengan wanita lain?" tanya Edgar Retz.
"Karena aku dan istriku saling mencintai. Cinta itu haruslah dari dua arah. Aku sudah dengan jelas menolak adikmu. Itu bahkan sudah sepuluh tahun yang lalu. Aku selalu mengatakan hal yang sama sejak sepuluh tahun yang lalu!" jelas Dave.
__ADS_1
Edgar Retz dengan mata merah tak mau mendengar penjelasan Dave sama sekali.
"Omong kosong, kau harus menemani adikku di alam sana!" pekik Edgar Retz lalu mulai menyerang Dave.
Tapi Joseph yang masih berada di depan Dave segera melindungi nya. Perkelahian pun tak terelakkan, Randy juga sudah menghajar beberapa anak buah Edgar Retz dari arah belakang. Mereka bertiga melawan sekitar 30 anak buah Edgar Retz.
Sebenarnya Joseph juga sudah menginstruksikan pada anak buahnya yang lain yang di pimpin oleh Roy. Jika setengah jam mereka tidak turun ke bawah. Maka Roy dan anak buahnya yang jumlahnya lebih dari 20 orang lah yang harus naik ke atas. Jadi di basemen apartemen, Roy dan anak buahnya sudah bersiap-siap. Karena lima menit lagi Joseph dan tuannya tidak turun maka mereka yang naik ke atas, ke unit apartemen Chaterine.
Sementara itu perkelahian di apartemen Chaterine masih berlangsung. Dave sudah menduga hal ini jadi dia memang sudah pakai sarung tangan rangkap. Karena meskipun dia juga ahli bela diri, tapi Myshopobia nya juga pasti akan menjadi masalah nantinya kalau dia menyentuh kulit orang lain secara langsung.
Di sisi lain target Edgar Retz adalah Dave, melihat ada ruang sedikit atau celah yang mengarah ke Dave. Edgar Retz langsung mengeluarkan senjata apinya dari dalam sakunya.
Randy dan Joseph juga Dave sendiri masih sibuk meladeni beberapa anak buah Edgar Retz yang meskipun sudah terluka parah tapi masih tidak mau menyerah juga.
Edgar Retz langsung mengarahkan senjata apinya ke arah Dave.
Dengan mata merah dia bergumam.
"Matilah kau, dan temani adikku di alam sana. Kau harus menemaninya Dave!" gumamnya lalu mulai menarik pelatuk senjata apinya.
Dorrr
***
__ADS_1
Bersambung...