
Murti memegang kuat tangan Haris yang terlihat sangat marah pada putra sulungnya itu. Dia juga tidak habis pikir kenapa putranya itu bisa berbuat seperti itu pada Sila. Murti juga tidak bisa memungkiri kenyataan bahwa yang membantu Hadi sampai titik seperti sekarang ini adalah Sila. Jika dulu Sila tidak membiayai kuliah Hadi, maka posisinya di perusahaan tempat Hadi bekerja tidak akan pernah berubah. Dengan ijazah SMA yang Hadi miliki kala itu dia hanya akan tetap berada pada posisi sebagai staf administrasi tidak mungkin bisa lebih dari itu.
Namun karena Sila ingin Hadi karirnya berkembang. Dia rela bekerja keras bahkan selalu mengambil lembur di perusahaannya untuk bisa membiayai kuliah Hadi yang memang hanya diambil satu tahun saja. Dan itu butuh biaya yang tidak sedikit karena dia harus mengambil kelas khusus. Padahal kala itu, Sila sedang hamil Mika.
"Sudah yah, ayah masih belum sehat. Jangan marah-marah seperti ini!" ucap Murti di sela isakan tangisnya. Hatinya juga sangat sakit melihat suaminya memarahi anaknya, tapi Murti juga tidak menyalahkan suaminya, karena Hadi memang sudah keterlaluan.
"Lalu ayah harus bagaimana Bu? anak ini memang tidak tahu diri, tidak tahu di untung. Kalau kamu lupa apa saja yang sudah Sila korbankan untuk mu, untuk keluarga kita. Ayah akan ingatkan kembali padamu!" tegas Haris yang masih tidak mau menyerah menyadarkan Hadi.
"Saat itu Sila bahkan sedang mengandung tiga bulan, dia datang ke rumah membawa selebaran dari universitas terbuka untukmu, apa kamu ingat?" tanya Haris pada Hadi yang hanya bisa menundukkan kepalanya di depan Haris.
Flashback On
Kurang dari lima tahun yang lalu, di rumah Sila dan Hadi yang masih sederhana. Belum di bangun dengan besar. Mereka juga belum memiliki mobil. Saat itu Haris dan juga Murti memang menginap di rumah Sila dan Hadi.
"Assalamualaikum!" sapa Sila yang baru saja pulang dari kantor.
"Waalaikumsalam, sudah pulang nak?" tanya Haris setelah menjawab salam dari Sila.
Sila mengangguk lalu menyalami kedua mertuanya.
"Waalaikumsalam, lembur lagi? gimana sih Sila, ibu kan sudah bilang, jangan sering-sering lembur. Kalau kamu lembur terus siapa yang mengurus suami mu?" tanya Murti dengan raut wajah tidak senang.
"Sudah Bu!" sela Haris.
"Maaf Bu!" jawab Sila sopan.
__ADS_1
"Sudah nak, kamu istirahat saja. Kamu sudah makan belum?" tanya Haris ramah.
"Belum yah, aku akan mandi dulu dan menemui mas Hadi, setelah itu aku akan makan!" ucap Sila lalu meninggalkan Haris dan juga Murti setelah mendapat anggukan kepala dari Haris.
Setelah Sila menjauh, Murti kembali mengomel.
"Ya ampun, lembur terus. Kasihan sekali Hadi, makan saja ibu yang masakan. Coba kalau tidak ada ibu, makan apa Hadi?" tanya Murti kesal pada Sila.
"Bu, jangan bicara begitu. Karir Sila sedang baik, kita harusnya mendukungnya. Lagipula nak Sila yang membantu kita membiayai sekolah Lia, dan juga Zain. Jangan bilang begitu!" tegur Haris pada istrinya.
Murti hanya berdecak kesal, dia memang tidak dapat memungkiri semua itu. Tapi dia juga ingin Hadi, anaknya di urus oleh istrinya. Kan sudah punya istri, masa Murti selalu melihat Hadi mengurus dirinya sendiri karena Sila yang begitu sibuk bekerja, berangkat pagi-pagi buta dan pulang larut malam.
Di dalam kamarnya, Sila tersenyum saat baru masuk. Sila melihat Hadi sedang merapikan pakaiannya dan juga pakaian Sila.
"Mas...!" sapa Sila.
"Sayang sudah pulang, pasti kamu lelah. Aku siapkan air hangat untuk kamu mandi ya?" tanya Hadi yang langsung menyentuh lembut kepala Sila.
Sila mengangguk dan tersenyum, tapi saat Hadi akan ke kamar mandi. Tangannya di pegang oleh Sila.
"Mas, ini!" ucap Sila sambil meyerahkan formulir pendaftaran kuliah Hadi.
Hadi menerima formulir itu dan membacanya.
"Sayang, tapi ini... ini biayanya tidak sedikit. Bagaimana mungkin?" tanya Hadi tak percaya Sila mendaftarkan dirinya kuliah di kelas khusus dengan biaya yang dia kali lipat lebih besar dari kuliah biasa.
__ADS_1
"Itu agar karir mu bisa berkembang, mas selalu bilang sudah lelah terus menerus di suruh ini dan itu karena mas hanya karyawan rendahan, staf biasa. Kalau mas kuliah lagi, mas bisa dapatkan promosi dan jabatan lebih tinggi. Mas tidak akan di suruh-suruh lagi!" jelas Sila menyampaikan alasannya membiayai kuliah Hadi.
Selama ini Hadi memang sering mengeluh tentang pekerjaan nya pada Sila. Karena itu, Sila yang merasa kasihan pada suaminya sengaja mengumpulkan lebih banyak uang, dengan bekerja lembur setiap hari agar bisa mendaftarkan Hadi kuliah.
Hadi langsung memeluk istrinya itu. Dia sangat terharu, Sila sudah sangat bekerja keras demi karirnya agar semakin bagus lagi. Hadi langsung mengecup kening Sila.
"Mas, aku belum mandi!" ucap Sila yang menghindari kecupan Hadi di keningnya.
"Tidak apa-apa sayang, terimakasih banyak ya!" ucap Hadi yang kembali memeluk Sila.
Sejak hari itu, Sila semakin keras bekerja. Dia bahkan terkadang membawa bekal makanan dari rumah untuk menghemat uang. Sebisa mungkin Sila tidak akan beli makanan di luar walaupun dengan lauk seadanya tapi dia tidak melupakan asupan nutrisi untuk kandungannya. Meski lauk sederhana dia selalu mengkonsumsi sayuran dan protein meski hanya dari tempe dan sayur bayam, hampir setiap hari hanya itu yang di konsumsi Sila. Tapi dia tak mengapa asal suaminya bisa mendapatkan pekerjaan lebih baik. Karina yang tahu betul bagaimana perjuangan Sila selama satu tahun menghemat uang demi kuliah Hadi dan untuk biaya persalinan nya.
Hingga satu tahun kemudian, empat bulan setelah Mika lahir, Hadi lulus dan dipromosikan di tempat kerjanya. Sejak saat itu hidupnya lebih baik.
Flashback Off
"Kamu bisa melupakan semua itu, tapi ayah tidak. Kamu ingat tidak bagaimana setiap hari Sila hanya makan sayur bening dan tempe untuk bekalnya, tapi dia masih tetap memberimu uang untuk bisa makan di kampus, agar saat orang lain makan enak di kampus kamu tidak hanya diam dan melihat. Ingat semua itu Hadi!" bentak Haris yang matanya sudah merah karena sangat marah.
Murti bahkan sudah terisak, dia juga sangat menyesal karena selama ini sudah bersikap tidak baik pada Sila. Mendengar semua yang dikatakan Haris yang mengingatkan bagaimana perjuangan Sila untuk keluarga mereka. Murti sangat menyesal.
Hadi juga sama, setelah bentakan ayahnya dia baru sadar kalau selama memang apa yang dikatakan oleh ayahnya itu benar. Dia tidak akan seperti ini kalau tidak karena Sila. Hadi mengusap wajahnya kasar.
'Bodohnya aku!' batin Hadi gusar.
***
__ADS_1
Bersambung...