
Dave masih terus menggenggam tangan Sila yang belum sadarkan diri.
Kata Jimmy, kemungkinan Sila akan sadar sebentar lagi, dia tadi hanya begitu syok dan itu menambah tekanan di batinnya.
Jimmy juga masih berada di ruangan yang sama dengan Dave. Dengan raut wajah cemas karena Dave tidak akan mengijinkan Jimmy keluar dari ruangan ini kalau Sila belum sadar.
"Jo, katamu bos mu sudah berubah. Dia tidak lagi galak dan arogan? mana buktinya? dia masih saja bersikap semena-mena dan mendominasi?" tanya Jimmy pada Joseph.
Sebab Jimmy sebagai dokter pribadi Dave juga sering bertukar kabar dengan Joseph mengenai perkembangan Dave dan juga keadaan nya sehari-hari. Joseph adalah orang yang tepat untuk mengetahui segala informasi itu menurut Jimmy. Karena Joseph adalah orang yang hampir selama 24 jam berada di sisi Dave.
"Aku tidak bohong dokter, akhir-akhir sikapnya sudah melunak. Dan dia tidak sering marah-marah dan membanting barang lagi!" jelas Joseph.
"Apa maksud mu dia hanya bersikap seperti ini padaku?" tanya Jimmy dengan wajah tak percaya.
Tapi Joseph malah menanggapi apa yang dikatakan oleh Jimmy dengan sebuah anggukan. Membuat Jimmy menjadi kesal.
"Hei Jimmy, kenapa istriku belum sadar? katamu hanya beberapa menit tapi ini sudah lewat setengah jam?" tanya Dave yang melayangkan protes pada Jimmy.
Mendengar protes dari Dave, dokter Jimmy lalu menegakkan posisi duduknya.
"Tuan Dave yang terhormat, setengah jam itu kan 30 menit, 1 jam juga 60 menit. Lalu dimana salahku?" tanya Jimmy tak terima.
Mendengar apa yang dikatakan oleh Jimmy, Joseph berusaha untuk tidak tertawa padahal dia ingin sekali tertawa. Beginilah kalau dokter Jimmy sudah bersama Dave. Mereka akan seperti anak remaja yang saling bercanda, melempar ejekan dan juga saling mengatai satu sama lain. Tapi selama puluhan tahun mereka bersahabat mereka juga tidak pernah benar-benar bertengkar selain pertengkaran kecil yang akan hilang saat mereka sudah bertemu lagi.
Saat Dave ingin memarahi dokter Jimmy lagi, tiba-tiba saja tangan Sila yang dia genggam bergerak. Mata Dave langsung melihat ke arah Sila yang masih terbaring di pangkuannya. Perlahan Sila pun membuka matanya.
"Sayang, kamu sudah sadar!" ucap Dave terdengar sangat lega dan senang.
Sementara dokter Jimmy yang tak pernah mendengar Dave memanggil sayang pada seorang wanita selama ini di buat menganga.
Dokter Jimmy lantas menoleh ke arah Joseph.
"Jo, apa aku tidak salah dengar tadi? Penggila kebersihan ini memanggil seorang wanita dengan panggilan sayang?" tanya dokter Jimmy yang masih tidak percaya dengan apa yang dia dengar.
__ADS_1
Joseph lagi-lagi terkekeh pelan.
"Apa mungkin telinga dokter bermasalah?" tanya Joseph yang membuat dokter Jimmy berpikir.
Tapi tak lama kemudian dia menepuk lengan Joseph dengan kuat, sialnya saat dia memukul Joseph yang sakit malah telapak tangannya.
"Aghk.. itu tangan atau besi Jo?" tanya dokter Jimmy kesal.
'Salah sendiri!' batin Joseph puas melihat dokter Jimmy meringis kesakitan sambil mengibas-ngibaskan tangannya yang terasa panas setelah memukul lengan Joseph.
Kembali pada Sila dan Dave. Saat ini Dave sudah membantu Sila untuk duduk dan memberikannya air minum.
"Apa yang kamu rasakan? apa ada yang terasa sakit?" tanya Dave memeriksa kondis tubuh Sila.
"Aku tidak apa-apa tuan!" jawab Sila dengan suara yang masih terdengar lemah dan gemetaran.
Mata Sila lalu mengarah ke tempat dimana tadi pria gendut setengah botak itu di ikat. Tapi dia sudah tidak ada disana.
"Tuan, dimana pria itu?" tanya Sila yang membuat Dave mengernyitkan kening.
"Aku mau tahu apa yang sudah dia lakukan padaku, aku sama sekali tidak ingat apapun tentang yang terjadi malam itu, tapi aku mendengar suaranya. Aku mau dia bicara dan meyakinkan kalau itu memang dia!" ucap Sila yang sepertinya sudah sangat emosional.
Deg
Jantung Dave seperti berhenti berdetak. Joseph dan juga Jimmy yang berada di belakang Dave pun melihat ke arah Sila dengan tatapan cemas.
'Dia mendengar suaraku, apa benar dia mendengar suaraku. Tapi kenapa dia tidak pernah mengatakan nya!' batin Dave gusar.
"Sila, seperti apa suaranya?" tanya Dave pada Sila.
Sila menunduk, dia tidak tahu bagaimana mengatakannya.
"Aku tidak bisa mendeskripsikan nya, dimana orang itu tuan. Aku ingin dengar suaranya!" ucap Sila lagi yang bahkan saat ini sudah memegang kedua lengan Dave dengan kuat.
__ADS_1
Jimmy yang tidak mau Sila kembali emosional dan melihat gerak-gerik Dave yang begitu gelisah pun mendekati Sila dan juga Dave.
"Seperti siapa suaranya, Sila kamu bisa mendengar suara kami bertiga kan, sangat berbeda. Coba katakan seperti siapa suara pria pada malam itu?" tanya Jimmy yang ingin mewakili apa yang ingin Dave ketahui.
Sila kemudian melihat ke arah Dave.
"Seperti tuan!"
Deg
Dave kembali terkejut. Ternyata benar Sila mengenali suaranya.
Tapi setelah mengatakan itu Sila langsung melambaikan tangannya di depan Dave beberapa kali.
"Tuan aku tidak bermaksud mengatakan kalau itu adalah tuan, tapi suaranya seperti tuan, berat dan serak. Tuan tidak mungkin kan melakukan hal itu padaku, tuan Dave sangat baik. Dia tidak akan pernah mengambil kesempatan, apalagi pada wanita yang tidak dia kenal!" ucap Sila panjang lebar agar Dave dan juga Jimmy tidak salah paham.
Tapi mendengar penjelasan Sila, Dave malah semakin gusar. Sepertinya Sila sangat yakin kalau pria yang tidur dengannya waktu itu pasti bukan pria yang baik. Jimmy juga ikut sedih saat Dave berada dalam dilema seperti itu. Karena yang mengetahui kalau Dave adalah pria pada malam itu hanya ketiga pria yang ada disini. Karena Dave hanya bercerita pada mereka ketika mereka bertanya alasan Dave memilih Sila menjadi istrinya.
Joseph yang melihat bos nya hanya diam, lalu mendekati mereka.
"Nona Sila, bukan pria itu yang bermalam di hotel bersama dengan anda. Pada malam itu pria itu mengalami kecelakaan, dan masuk ke rumah sakit. Kami juga sudah punya catatan kapan dia masuk rumah sakit dan kapan dia keluar. Jadi dapat di pastikan bukan dia pria itu!" jelas Joseph.
Tapi Sila masih terus cemas, dia melihat ke arah Dave yang masih diam seperti memikirkan sesuatu.
"Tuan, apakah tuan sekarang jijik dengan ku. Aku bahkan pernah tidur dengan pria yang aku sendiri tidak tahu siapa pria itu... hiks... hiks...!" Sila kembali menunduk dan menangis.
Dave langsung menarik Sila ke dalam pelukannya.
"Tidak Sila, jangan berkata seperti itu!" ucap Dave yang merasa bersalah pada Sila.
'Bagaimana ini, apa aku harus katakan yang sebenarnya kalau pria itu adalah aku, tapi bagaimana kalau Sila membenciku?" tanya Dave dalam hatinya yang sedang dilema.
***
__ADS_1
Bersambung...