
Dave yang masih sangat emosi kembali akan mengangkat tangannya untuk memukul Vincent. Oman sudah sangat takut kalau tuannya itu akan mengotori tangannya. Tapi dia benar-benar tidak bisa membantah perintah Dave.
"Jangan pukul lagi Dave!" seru Rizal yang baru saja masuk ke dalam rumah kecil itu.
Mendengar suara Rizal Hendrawan, Oman segera menghela nafas lega. Setidaknya Dave tidak akan benar-benar menghabisi Vincent. Karena Rizal tidak akan membiarkan hal itu terjadi.
'Syukurlah tuan besar, anda datang tepat waktu!' batin Oman sangat lega.
Beruntungnya juga suasana di dalam rumah itu tidak terdengar dari luar oleh orang lain, atau tetangga lain karena jarak rumah yang memang sangat jauh dari tetangga lainnya. Rumah itu letaknya memang sedikit terpencil.
Selain Rizal, ada juga seorang pria yang membawa tas berukuran sedang masuk mengikuti langkah Rizal ke dalam rumah itu.
"Ya Tuhan, Dave! apa yang kamu lakukan?" pekik Jimmy yang langsung menutup mulutnya tak percaya melihat kebrutal4n Dave sahabatnya.
"Jimmy, periksa dia. Obati lukanya!" seru Rizal.
Jimmy yang masih geleng-geleng kepala karena tindakan Dave pun menghampiri Vincent yang sudah terkulai lemas di lantai yang beralaskan pasir itu. Melihat begitu banyak darah di wajah Vincent membuat Jimmy menghela nafasnya panjang.
"Makanya Vincent, kamu itu jangan nakal. Punya istri cantik malah di buat trauma dan ketakutan. Belajar dari singa itu bagaimana menaklukkan wanita!" ucap Jimmy melirik ke arah Dave yang juga menatap tajam dirinya.
Mendapatkan tatapan setajam katana dari Dave, Jimmy pun menggidikkan bahunya sekilas lalu kembali membersihkan mengobati luka di wajah Vincent.
Rizal tahu Dave masih emosi, Rizal langsung menarik lengan Dave dan mengajaknya untuk duduk di kursi yang ada di sana.
Ibu Vincent yang masih terisak melihat kondisi anaknya pun terlihat melempar tatapan kesal pada Rizal.
"Sungguh sandiwara yang luar biasa, anaknya ingin menghabisi putraku dengan memukulnya sampai babak belur seperti itu, dan tiba-tiba ayahnya datang menjadi pahlawan. Kalian benar-benar licik!" pekik ibunya Vincent mulai geram pada keluarga Hendrawan.
Oman yang tengah memegang kedua lengan ibunya Vincent dan menguncinya di belakang punggungnya menepuk punggung perempuan paruh baya itu.
"Nyonya kalau aku jadi kau, aku akan memilih diam!" gumam Oman.
__ADS_1
Mendengar apa yang di katakan Oman, ibunya Vincent malah semakin kesal dan berteriak-teriak.
"Lepaskan aku! lepaskan! dasar kalian penjahat berkedok orang suci. Kalian akan aku laporkan ke polisi. Lihat saja, kau akan membusuk di penjara Dava Hendrawan!" teriak ibunya Vincent yang sudah sangat frustasi.
Brakkk
Rizal pun menggebrak meja yang ada di hadapannya dengan kuat.
"Diam! putra ku hanya membela kehormatan adiknya. Kamu bisa lapor polisi kalau kamu masih punya kaki untuk berjalan ke kantor polisi setelah keluar dari rumah ini!" gertak Rizal dengan wajah yang sangat dingin.
Mendengar Rizal berseru seperti itu, ibunya Vincent langsung terdiam mematung, dia bahkan menelan salivanya dengan susah payah karena tekanan aura Rizal begitu kuat dan mencekam.
"Sudah ku bilang kan nyonya, lebih baik kau diam. Kalau anaknya saja seperti singa, kau pikir ayahnya apa?" tanya Oman dengan suara pelan pada ibunya Vincent.
Ayahnya Vincent yang berada di samping Oman dan ibunya Vincent bisa mendengar jelas apa yang Oman katakan. Dia pun mulai cemas, takut kalau istrinya terus membuat ulah. Maka itu tidak akan baik baginya, istrinya dan juga Vincent.
"Bu, diam lah. Apa kamu ingin kita semua celaka!" bisik ayah Vincent dengan wajah serius.
Meski masih sangat kesal dan terima dengan perlakuan Dave Hendrawan dan semua yang ada di tempat ini. Ibunya Vincent hanya bisa diam sambil mengepalkan tangannya yang terkunci oleh tangan Vincent di belakang punggungnya.
"Heh, apa yang kamu suntik4n pada anakku. Kamu mau bunuh dia hah??" pekik ibunya Vincent lagi.
Rizal sampai harus memegang kepalanya karena teriakan ibunya Vincent.
"Sudah sadar kan? melihat anakmu yang bahkan sedang di obati saja, kamu berteriak seperti itu! bagaimana dengan anakku?" tanya Rizal mulai geram.
Ibunya Vincent baru akan membuka mulutnya, tapi ayahnya Vincent terlebih dahulu menyela.
"Tuan Hendrawan, aku sangat minta maaf padamu. Aku akui apa yang di lakukan Vincent pada Shafa itu salah, tapi mereka sudah menikah tuan. Selama tiga bulan Shafa tidak memberikan hak Vincent, itu juga tidak dapat di benarkan bukan?" tanya ayah Vincent
Ayah Vincent ini sedang mencoba membuat situasinya terbalik dan menyalahkan Shafa atas apa yang terjadi. Dave sudah mengepalkan tangannya dengan kuat namun Rizal lagi-lagi menepuk bahu anak keduanya itu.
__ADS_1
"Sebelum kau bisa bicara begitu, baiknya kau tanyakan dulu pada putramu itu tentang perjanjian pernikahan mereka, apa saja yang ada di dalamnya. Putriku menikah karena ingin mengabulkan permintaan terakhir ibu mu yang katanya umurnya kurang dari satu bulan lagi, tapi apa? sudah hampir empat bulan dan dia masih baik-baik saja. Aku bukan bermaksud menyump4hi atau apa? tapi sejak awal saja, Vincent sudah menipu putriku. Lalu hak yang kau bicarakan tadi, tanyakan sendiri pada putramu, Shafa punya kewajiban atau tidak untuk memberikan hak putramu?" tanya Rizal membuat ayah Vincent terdiam.
Rizal menghela nafasnya panjang, menurut nya meski dia bicara panjang lebar. Hasilnya akan tetap sama, keluarga Oberen tidak merasa mereka bersalah dan tidak pernah mau di salahkan.
"Jimmy, bantu Vincent duduk di sini!" ujar Rizal pada Jimmy.
Jimmy langsung memapah Vincent duduk di kursi yang berseberangan dengan Dave. Dave masih menatap tajam pada pria yang pernah menjadi adik iparnya itu.
"Dave, berikan suratnya!" seru Rizal.
Dave langsung meminta surat itu pada salah satu anak buah Oman yang membawa nya. Dia langsung meletakkan nya di atas meja, Rizal pun mendorong surat itu ke hadapan Vincent.
"Tanda tangani surat perceraian itu, lalu menjauh lah sejauh-jauhnya dari kota ini!" ucap Rizal dengan suara pelan namun begitu penuh dengan penekanan.
Mata Vincent yang sudah lebam nampak berkaca-kaca. Sesungguhnya saat ini dia benar-benar menyesal. Dia mendengar apa yang tadi sempat Dave katakan, seharusnya dia lebih bersabar mendapatkan hari Shafa. Tapi apa daya, nasi sudah menjadi bubur. Dia juga sudah tidak punya pilihan lain. Keluarga Hendrawan bukanlah yang bisa dia lawan.
Dengan tangan gemetar, Vincent meraih pulpen yang ada di atas meja dan menandatangani surat cerai itu. Kedua orang tua Vincent juga hanya bisa diam. Sementara Rizal sudah merasa kalau ini adalah keputusan yang tepat. Wajah babak belur Vincent itu juga akan membuat publik bertanya-tanya kalau sampai dia datang ke pengadilan. Jadi menurut nya hal ini sudah cukup.
Tak lama kemudian, mobil box jemputan dari kakak ayahnya Vincent datang. Mereka pun pergi keluar kota.
Dave pun berniat pergi setelah memastikan keluarga Oberen sudah pergi dari kota ini. Tapi Rizal menepuk bahunya.
"Jangan pernah lakukan hal seperti itu lagi Dave, pikirkan akibatnya. Jangan menuruti emosi!" nasehat Rizal sebelum meninggalkan Dave.
Setelah Rizal pergi, Dave menghampiri Oman.
"Oman, jangan bilang pada Sila ya apa yang aku lakukan tadi. Aku sudah berjanji padanya tidak akan menghajar Vincent!" ucap Dave lalu masuk ke dalam mobil.
Oman hanya menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Hem, di luar bu4s seperti singa! Di dalam rumah tetap saja anak kucing manis, hi hi!" kekeh Oman lalu ikut masuk ke dalam mobil dan meninggalkan tempat itu.
__ADS_1
***
Bersambung...