
Dua puluh menit kemudian, Hadi sudah berada di ruangan meeting khusus para direksi. Setelah Anita mengirim kan surat yang yang menyatakan Dave Hendrawan menarik investasinya di perusahaan T. Semua dewan direksi seperti kebakaran jenggot, mereka semua bahkan sudah merencanakan banyak hal atas kerja sama ini. Dan begitu tahu investasi nya di tarik, tentu saja mereka sangat terkejut dan tidak bisa menerima hal ini.
Tatapan para dewan direksi sangat tajam pada Hadi, dari pintu masuk ruang meeting sampai dia duduk di kursinya. CEO perusahaan T, Kamaludin juga terlihat berwajah suram ketika Hadi menyapanya.
"Tidak susah basa-basi lagi, kita semua tentu tahu apa yang akan kita bahas sampai kita semua berada di sini saat ini!" Seorang pria berkacamata dengan badan kekar bicara. Meski sudah paruh baya tapi masih terlihat sangat bergaya.
Orang itu adalah Zaenal, salah satu pemegang saham di perusahaan T. Setelah Zaenal bicara Hadi terlihat menunduk sebentar sebelum dia melihat ke arah Kamal yang terlihat menghela nafas panjang.
"Hadi Tama, jelaskan kepada semuanya kenapa investasi tuan Dave Hendrawan di tarik dengan jumlah yang begitu besar?" tanya Kamal yang sepertinya sangat lelah dan pusing menghadapi masalah ini.
'Apa yang harus aku katakan? tidak mungkin kan kalau aku katakan semua ini terjadi karena Susan menghina Sila?' tanya Hadi dalam hatinya.
"Hadi Tama, cepat bicara!" bentak salah seorang pemegang saham yang lain. Irsya, dia sudah sangat kesal sejak tadi.
"Begini rekan-rekan semuanya, dan para dewan direksi yang terhormat, pak Kamal... jujur saja saya juga tidak tahu kenapa tuan Dave menarik investasinya sebanyak itu, saya merasa ketika menjalin kerja sama dengannya semua sangat baik, berjalan sangat lancar. Tuan Dave Hendrawan bahkan menerima undangan saya untuk makan malam di rumah saat itu. Saya juga sudah berusaha sangat keras membuat proposal yang bisa di terima oleh tuan Dave Hendrawan, pertemuan yang di jadwalkan berkali-kali dan banyak lagi yang saya korbankan agar kerja sama ini bisa berhasil!" jelas Hadi panjang lebar.
Dari apa yang Hadi katakan, semua orang bisa menangkap kalau dia tidak sedang menjelaskan apa penyebab yang mungkin kenapa Dave Hendrawan menarik investasinya. Tapi Hadi sedang menjelaskan pada semua orang tentang usahanya agar kerja sama perusahaan T dengan Hendrawan grup bisa terjadi.
Kamal semakin di buat bingung, memang semua yang Hadi Tama katakan itu benar, dia yang telah membuat kerja sama ini berhasil.
"Dan setelah banyak hal yang sudah lakukan demi perusahaan ini, saat saya mendengar kalau tuan Dave Hendrawan menarik investasinya, saya pun terkejut dan sangat sedih mendengarnya!" lanjut Hadi lagi.
"Kamu bicara panjang lebar, tapi dari semua yang kamu katakan aku tidak mendengar alasan kenapa tuan Dave Hendrawan menarik investasinya?" sela Irsya yang memang tidak perduli dengan cerita Hadi tentang usahanya tadi.
__ADS_1
Berbeda dengan Kamal dan beberapa orang yang merasa Hadi adalah orang yang berjasa pada perusahaan T. Irsya punya pemikiran berbeda, yang namanya bisnis tentu semua mau untung, kalau rugi untuk apa berbisnis. Dan di dalam bisnis, tidak ada orang yang terlalu dekat atau jauh, tidak ada orang yang terlalu berjasa, yang ada hanya keuntungan semata.
Hadi jadi kesal pada apa yang dikatakan oleh Irsya.
"Tuan Irsya, saya sudah jelaskan kalau saya tidak tahu...!"
Irsya yang mulai kesal dengan penyangkalan Hadi juga mulai emosi.
"Lalu apa menurutmu Dave Hendrawan itu orang aneh, yang akan menarik investasinya tanpa alasan?" tanya Irsya dengan keras menyela Hadi Tama.
'Orang ini sangat merepotkan!' batin Hadi semakin kesal pada Irsya.
"Bahkan kemarin semua masih baik-baik saja tuan Irsya, semua laporan masih di kirim dengan baik kemarin pagi...!"
"Itu kemarin pagi, memangnya tidak ada siang, sore dan malam. Apa yang sudah kamu lakukan pada waktu-waktu itu, hingga semua kekacauan ini terjadi?" tanya Irsya yang tak mau memberi Hadi celah sama sekali.
"Tuan Irsya, saya sampai sore di perusahaan ini. Bahkan hingga waktunya pulang saya masih bicara dengan pak Kamal dan membicarakan rencana perusahaan ke depannya. Saya benar-benar tidak tahu alasan tuan Dave...!"
"Kalau tidak tahu, kenapa sekretaris pribadi tuan Dave Hendrawan bilang tanyakan alasannya padamu?" tanya Irsya lagi menyela apa yang akan di katakan oleh Hadi.
Hadi terus melihat ke arah Kamal dengan tatapan sedih dan berharap Kamal membantunya.
"Sudah.. sudah.. tuan Irsya, dan para pemegang saham lain. Hadi memang terus bersama ku kemarin hingga pulang. Bagaimana pun, Hadi lah yang berusaha untuk kerja sama ini bisa berhasil. Tapi meskipun begitu, tuan Dave mengatakan alasannya adalah Hadi, juga tidak bisa di anggap main-main!" ucap Kamal yang sudah sangat lelah.
__ADS_1
Dirinya baru juga pulang dari luar negeri untuk pemulihan penyakitnya. Setelah beberapa hari di perusahaan malah dihadapkan masalah seperti ini. Sangat melelahkan baginya.
"Agar tidak menjadi lebih rumit lagi, maka kita putuskan saja masalah ini sekarang!" lanjut Kamal dan berdiskusi dengan para pemegang saham yang lain.
Kamal bukan berarti membela Hadi, dia juga tahu Hadi bersalah. Tapi selama dia cuti dan berobat di luar negeri, Hadi yang mengurus perusahaan. Kamal juga mempertimbangkan hal itu.
Hadi sudah ketar-ketir, karena sejak tadi Zaenal dan Irsya terlihat terus tidak setuju pada apa yang dikatakan oleh Kamal. Hingga beberapa saat kemudian.
"Baiklah, keputusan sudah di ambil. Masalah ini memang adalah kesalahan Hadi Tama, tuan Dave mengatakan alasan utama dia menarik investasinya adalah karena Hadi Tama. Tapi kamu juga tidak memungkiri kalau Hadi Tama cukup berperan dalam kerja sama ini. Oleh karena itu, Perusahaan memutuskan untuk menskors Hadi Tama, selama 3 hari. Setelah itu gaji Hadi Tama akan di potong sebesar 60 persen tiap bulannya selama 1 tahun!" tegas Kamal yang langsung berdiri dan meninggalkan ruangan.
Semua orang pun terlihat meninggalkan ruangan, meski masih ada raut kesal dan tidak puas dari Zaenal dan Irsya, tapi keputusan sudah final. Sedangkan bagi Hadi, keputusan Kamal barusan bahkan sangat-sangat berat baginya.
Setelah semua orang keluar, Hadi bahkan tidak beranjak dari kursinya. Kakinya lemas, kalau dia bangun mungkin saja kakinya tidak akan mampu menopang tubuhnya yang juga sudah tidak bertenaga.
Hadi mengusap wajahnya kasar.
"Siall, Siall, Siall...!" geramnya sambil memukul meja yang ada di depannya.
"Gajiku di potong 60 persen, itu sama saja dengan gaji wakil manager. Bahkan lebih menyedihkan dari jabatan ku yang lama. Susan... kamu benar-benar membuat masalah besar!" geram Hadi yang terus merasa kesal pada Susan.
***
Bersambung...
__ADS_1