
Karina yang tidak menyangka kalau setelah kembali dari makan siang bersama dengan Anita akan di beri pekerjaan yang lumayan banyak oleh atasannya, Feri. Saat ini sedang berusaha untuk dapat menyelesaikan semua pekerjaan itu dengan cepat.
Masalahnya di ruangan itu, satu persatu teman kerjanya sudah mulai pergi untuk pulang satu persatu karena pekerjaan mereka sudah selesai.
Karina tidak bisa menyembunyikan kegugupan nya karena tinggal beberapa orang lagi yang ada disana.
"Ayo Karina, dua lembar lagi dan kamu bisa pergi!" gumam Karina.
Padahal waktu pulang kerja baru lima menit yang lalu. Tapi dia tidak tahu kenapa rasanya sudah seperti satu jam lebih dan membuatnya sangat gugup dan ingin cepat-cepat mengerjakan pekerjaan nya.
"Tuan Joseph sudah datang belum ya?" tanya Karina sambil terus mempercepat gerakan jarinya mengetik laporan.
Tapi ketika Karina sedang sibuk, telepon yang ada di atas mejanya berdering.
Dengan sebelah tangannya dia mengangkat gagang telepon itu.
"Selamat sore, bagian keuangan perusahaan...!"
"Karina, tolong buatkan aku kopi ya. Pekerjaan ku masih banyak. Tadi sudah ku telepon kantor OB tapi tidak di angkat juga!" ucap Feri menyela ucapan Karina.
'Hah, masa iya tidak bisa di telepon? kan biasanya OB juga pulang setelah membereskan semua ruangan!' batin Karina.
"Oh baik pak!" jawab Karina.
Feri lalu memutuskan panggilan telepon. Karina juga meletakkan kembali gagang telepon di tempatnya.
"Masa sih gak bisa, coba deh aku telepon ke kantor OB!" gumam Karina yang kembali mengangkat gagang telepon dan menekan nomer ke kantor OB.
Tut... Tut... Tut... Tut...
"Eh, beneran gak bisa. Kenapa ya?" tanya Karina sambil bergumam.
Karina lalu menyimpan semua data yang sudah dia input ke dalam komputer nya. Setelah itu dia merapikan semua dokumen yang sudah selesai dia input, dan yang belum masih dia biarkan di atas meja.
Di dalam ruangan itu juga masih ada dua orang teman kerjanya, jadi Karina pikir semua akan baik-baik saja. Karina pun menuju ke pantry. Tapi tanpa sepengetahuan Karina, ternyata dua orang itu adalah dua orang pria yang tadi juga sempat mengawasi nya saat berada di kantin kantor. Mereka adalah Dani dan Ilyas, lelaki berdasi hitam dan satu lagi adalah pria berkacamata yang merupakan anak buah Feri.
Begitu melihat Karina sudah bergerak ke pantry, dua orang itu lalu mengikuti Karina.
__ADS_1
Sementara itu Anita yang juga masih sangat sibuk di ruangannya sama sekali tidak menaruh kecemasan terhadap Karina, karena selain dia belum melaporkan masalah ini pada Dave, dia juga mengira kalau Feri memang belum tahu kalau yang mendengarkan percakapan nya di gudang adalah Karina. Karena seperti yang telah di jelaskan oleh Karina, sikap Feri sangat biasa padanya.
Begitu sampai di pantry, Karina juga sedikit heran. Karena dia tidak melihat seorang pun di pantry, tidak ada OB satu orang pun disana.
Tapi karena Karina tidak ingin menambah ketakutan dalam dirinya, dia mencoba untuk tetap positif thinking.
"Mungkin mereka sedang membersihkan ruangan lain!" gumam Karina yang segera memanaskan air agar bisa cepat membuat kopi dan memberikannya pada Feri. Lalu dia bisa dengan cepat menyelesaikan pekerjaannya dan pulang.
Tapi baru akan meraih cangkir yang ada di salah satu rak. Karina di kejutkan dengan kedatangan dua orang rekan kerjanya ke pantry.
"Dani, Ilyas.. kalian mau bikin minuman juga?" tanya Karina yang sama sekali tidak menaruh kecurigaan pada kedua orang teman kerjanya itu.
Dani yang maju mendekati Karina sambil meraih sesuatu dari kantong celananya lalu berkata.
"Tidak Karina, tapi kami sedang berusaha menyelesaikan pekerjaan kami!" jawabnya.
Karina yang bingung kenapa Fani menjawab seperti itu pun bertanya.
"Pekerjaan apa? kalian di minta buat kopi juga?" tanya Karina menduga-duga.
Dani lalu menggelengkan kepalanya dengan cepat. Sedangkan Ilyas mengawasi dari pintu masuk pantry.
Tanpa sempat melawan karena gerakan Dani yang memang terlalu cepat. Karina pun pingsan hanya dalam hitungan detik saja. Kedua nya lalu membawa Karina melalui pintu belakang kantor, Karina di masukkan ke dalam sebuah mini bus yang langsung meninggalkan perusahaan Dave. Dan mereka berdua langsung kembali ke dalam kantor dan bersikap sangat biasa.
Setelah kembali ke kantor divisi keuangan, Ilyas dan Dani melapor ke Feri kalau pekerjaan mereka sudah beres. Feri tertawa terbahak-bahak.
"Ha ha ha, memangnya mudah mau membongkar apa yang aku lakukan. Mimpi saja perempuan lemah seperti dia akan segera berakhir hidupnya ha ha ha!" seru Feri terlihat begitu bangga pada dirinya sendiri.
Ilyas dan Dani juga tampak sangat senang. Karena mereka pasti akan mendapatkan imbalan atas pekerjaan mereka ini dari Feri.
Sementara itu Joseph yang baru saja selesai dengan pekerjaannya, langsung ke ruangan Karina. Tapi di sana dia tidak melihat siapapun, tas Karina juga sudah tidak ada. Karena Dani dan Ilyas sudah menyingkirkan tas Karina itu.
Tapi saat Joseph akan pergi bertanya pada orang lain, Joseph berhenti dan berbalik ke arah meja kerja Karina. Lembar kerjanya masih terbuka, Joseph tahu kalau Karina pasti belum pulang, tidak mungkin dia meninggalkan lembar kerjanya begitu saja.
Joseph lantas pergi ke ruang CCtv dan memeriksa rekaman CCtv. Tapi sayangnya rekaman itu berhenti di pukul 17.00 tepat. Dan pada pukul 17.00 itu, masih memperlihatkan rekaman Karina yang masih bekerja di meja kerjanya.
"Bagaimana mungkin, kalian tidak menyadari rekamannya berhenti?" tanya Joseph kesal pada petugas yang menjaga di ruangan CCtv.
__ADS_1
"Maaf tuan, sejak pukul lima sore sepertinya beberapa peralatan teknis mengalami masalah, telepon ke ruang OB saja tidak bisa di gunakan!" jawab petugas penjaga ruang CCtv.
Joseph mengusap kepalanya gusar, masalahnya tugas menjaga Karina adalah tugas langsung dari Dave. Dia tidak tahu akan semarah apa Dave kalau sampai terjadi sesuatu pada Karina.
Joseph pun keluar dari ruang CCtv dengan gusar, lalu Joseph mengeluarkan ponselnya yang satunya lagi. Yang ada nomer Karina nya, tapi begitu Joseph mengaktifkan ponselnya itu banyak panggilan tak terjawab dari Anita. Dia pun segera menghubungi Anita.
"Halo tuan Jo... akhirnya nomer mu aktif. Aku ingin memberitahukan sesuatu!" ucap Anita terburu-buru.
"Ada apa Anita?" tanya Joseph.
"Tuan dimana? aku akan menemui tuan?" tanya Anita lagi karena merasa hal seperti ini tidak bisa di bicarakan di telepon.
"Di bawah, aku menunggu mu di lobby!" jawab Joseph lalu memutuskan panggilan telepon dengan Anita.
Sambil berjalan ke arah lobby, Joseph terus mencoba untuk menghubungi Karina, tapi nomer ponselnya tidak aktif.
"Tuan Joseph!" panggil Anita yang menghampiri Joseph.
Anita melihat ke kanan dan ke kiri sebelum bicara dengan pelan pada Joseph.
"Tuan, ternyata masalah keuangan selama ini adalah perbuatan pak Feri!" ucap Anita pelan.
Joseph mengernyitkan keningnya.
"Darimana kamu tahu?" tanya Joseph.
"Tadi Karina tidak sengaja mendengar dia bicara dengan orang di telepon di gudang saat membuat minuman...!"
Mata Joseph langsung melebar.
'Karina, itu artinya dia dalam bahaya!' pikir Joseph yang langsung berlari ke arah luar perusahaan.
Anita yang belum selesai bicara tapi Joseph sudah meninggalkan nya menjadi bingung.
"Eh... !"
***
__ADS_1
Bersambung...