
Sementara itu di apartemen Dave, Keluarga kecil itu sedang makan bersama.
"Sayang, aku tadi menghubungi Jimmy. Katanya dia tidak menyarankan untuk kehamilan mu bepergian menggunakan speed boat. Jadi aku berpikir untuk mengatakan pada Randy dan Shafa kalau kita tidak jadi ikut dengan mereka!" tutur Dave yang lebih mencemaskan kondisi kehamilan istrinya.
Sila pun mengangguk paham, dia juga tidak ingin terjadi apa-apa pada kandungannya.
"Jadi kita tidak jadi ke pulau ya Daddy?" tanya Mika yang menyimak obrolan kedua orang tuanya.
Dave pun tersenyum dan mengusap lembut kepala Mika yang memang duduk di sebelah kirinya.
"Maaf ya sayang, kata om Jimmy naik speed boat sangat tidak baik untuk dedek bayi!" jawab Dave lembut pada Mika.
Mika kecil itu pun langsung mengerutkan keningnya.
"Dedek bayi? mama mau punya dedek bayi lagi?" tanya Mika yang baru tahu karena baru kali ini mendengar kalau mama dan Daddy nya akan punya dedek bayi.
Sila sedikit terkesiap. Dia memang belum menjelaskannya pada Mika.
"Sayang...!" baru Sila akan menjelaskan Mika langsung berdiri dari duduknya.
"Mika gak mau mama sama Daddy punya dedek bayi, kata Aurel kalau ada bayi lain di rumah. Nanti Mika gak di sayang lagi!" ucap Mika yang sudah meneteskan beberapa bulir air mata di pipinya.
Deg
Hati Sila merasa sakit mendengar Mika bilang begitu. Dave yang melihat kesedihan istrinya dan juga Mika lantas bangun dari duduknya dan menepuk bahu Mika perlahan.
"Mika sayang, ikut Daddy ya. Daddy akan jelaskan!" ucap Dave yang langsung menggendong Mika dan mengajaknya ke kamar Mika.
Sila pun mengikuti langkah Dave. Sementara Diah juga terlihat sedih.
"Ya ampun, nona Aurel itu benar-benar ya. Umurnya baru mau enam tahun loh, tapi banyak sekali yang sudah di ketahui. Bahkan banyak sekali yang sudah dia ajarkan pada nona kecil, padahal tidak seharusnya seperti itu!" gumam Diah sambil membereskan meja makan.
Di dalam kamar Mika, Dave memangku dan memeluk anak sambungnya itu.
"Mika sayang, apa saja yang sudah di katakan Aurel tentang dedek bayi?" tanya Dave pelan.
Sila yang berdiri di dekat mereka pun tersenyum lega, karena sepertinya Dave akan bisa mengatasi semua ini. Kasih sayangnya pada Mika begitu tulus, dia bahkan sangat lembut saat bicara pada Mika.
"Aurel bilang, temannya punya adik bayi. Dia tidak di sayang lagi. Papa dan mamanya hanya sayang pada adik bayi, bahkan dia sudah tidak pernah di gendong dan di suapi lagi. Mainan pun tidak pernah di belikan lagi. Minta eskrim malah dimarahi. Pokoknya tidak menyenangkan punya adik bayi!" jawab Mika dengan raut wajah cemberut dan terlihat kesal.
__ADS_1
Dave pun terkekeh sejenak sebelum kembali menjelaskan.
"Mika lihat kak Dion dan kak Tasya? apa om Bima dan Tante Niken membedakan mereka? atau apa kak Dion kekurangan kasih sayang atau kekurangan mainan?" tanya Dave.
Mika kecil pun diam dan berpikir. Dan sebelum putri kecilnya itu bicara. Dave kembali mengecup puncak kepala Mika.
"Mika akan punya adik kecil yang sangat lucu loh. Nanti kalau Adik kecil sudah lahir, dan sudah bisa di ajak bermain. Maka Mika tidak akan sendirian lagi bermain banyak mainan Mika yang ada di kamar ini. Mika suka main rumah-rumahan kan?" tanya Dave dan Mika pun mengangguk.
"Mika bisa bermain dengan adik kecil, dan saat adik kecil lahir nanti, Mika yang akan memilih nama untuk adik kecil, Mika juga bisa membantu mama mengurus adik kecil, Mika bisa bantu mama ambilkan bedak, ambilkan pop0k untuk adik kecil. Dan bisa menyanyikan lagu nina bobo untuk adik kecil!" jelas Dave panjang lebar.
Tapi sejauh Dave menjelaskan, masih belum ada raut bahagia di wajah Mika.
"Dan yang pasti, kasih sayang mama dan Daddy tidak akan pernah berkurang untuk Mika!" Sila berkata sambil memeluk Mika dari belakang.
"Benar, kasih sayang Daddy dan mama akan tetap sebesar ini untuk Mika, meskipun ada dedek bayi nanti!" sambung Dave dengan tangan merentang sangat lebar.
"Benarkah?" tanya Mika.
Sila dan Dave mengangguk bersamaan dan memeluk erat Mika.
"Tentu saja, tidak akan berkurang sedikit pun. Bahkan akan bertambah, karena mama percaya Mika pasti akan jadi kakak yang baik dan menyayangi adik Mika nanti, iya kan?" tanya Sila.
"Sayang, sepertinya anak yang bernama Aurel itu terlalu banyak mengatakan hal-hal yang tidak sepantasnya di katakan anak kecil. Apa sebaiknya kita atur agar Mika pindah sekolah saja?" tanya Dave pada Sila yang sudah duduk di tepi ranjang mereka.
"Iya mas, sudah beberapa kali memang Mika menceritakan tentang Aurel yang mengajarinya banyak hal, aku juga berpikir begitu. Tapi dua bulan lagi kan ujian semester, lalu bagi raport. Setelah itu saja kita pindahkan Mika ke sekolah lain!" jelas Sila.
Dave duduk di sebelah Sila dan merangkul istrinya itu.
"Baiklah, menjelaskan pada orang dewas4 akan mudah, tapi kalau anak kecil seperti Mika sedikit sulit. Kamu jangan sampai terlalu kepikiran dan terbawa perasaan ya. Sebaiknya kita juga lebih sering menghabiskan waktu bersama Mika, agar dia tidak merasa kesal nanti pada kehadiran adiknya!" terang Dave dan Sila pun mengangguk setuju.
Sementara itu di apartemen Joseph, setelah makan malam bersama, Shafa berniat akan mencuci piring dan semua peralatan yang tadi dia pakai untuk memasak. Namun Joseph melarangnya.
"Nona, jarimu masih terluka. Tidak usah lakukan itu. Biar aku saja setelah mengantarmu pulang nanti!" seru Joseph.
Shafa mengangguk dan berbalik melihat ke arah Joseph.
"Pak tua, terima kasih untuk makan malamnya ya. Masakan mu sangat enak, boleh ya, kalau aku setiap hari makan malam disini!" ucap Shafa.
"Nona!" tegur Joseph.
__ADS_1
"Kenapa? hanya makan malam saja, pelit sekali!" keluh Shafa.
"Nona masihlah nona muda Oberen, sangat tidak pantas...!"
"Ck... sudahlah, iya iya. Tidak mau kasih makan terserah, kenapa bawa-bawa statusku segala. Menyebalkan!" kesal Shafa yang langsung meraih blazer nya kemudian memakainya dan meraih tasnya lalu berniat keluar dari apartemen Joseph.
Tapi karena pintu itu hanya bisa terbuka dengan sidik jari atau kata sandi, Shafa terlihat kesulitan membuka pintunya.
"Pak tua berapa kata sandinya?" tanya Shafa dengan nada kesal.
"00...!" Joseph tidak melanjutkan ucapannya dan malah bergegas membuka pintunya dengan sidik jarinya.
"Heh, kenapa tidak sebutkan saja sandinya, apa kamu takut jika kamu tidak ada aku akan merampok rumahmu?" tanya Shafa.
Joseph menggelengkan kepalanya dengan cepat.
"Bukan nona, aku tidak punya apa-apa!" jawab Joseph cepat.
"Kalau begitu cepat beritahu aku berapa kata sandinya?" tanya Shafa mendesak Joseph.
Joseph masih tak juga mau mengatakan kata sandi nya pada Shafa. Membuat Shafa kembali menutup pintu apartemen Joseph hingga membuat pintu itu tertutup secara otomatis.
"Kalau tidak mau bilang, biar kita terkunci di sini saja!" celetuk Shafa.
"Nona!"
"Berapa?" tanya Shafa yang sangat penasaran, kenapa hanya kata sandi saja dia tidak mau katakan.
Hampir lima menit mereka berdua terdiam dan saling pandang. Sampai Joseph mengangkat tangannya dan menekan tombol demi tombol yang merupakan kata sandi pintu apartemennya.
0.. 0.. 1.. 2.. 12, terdengar bunyi bip, dan kunci pintu pun terbuka.
Deg
Shafa terkejut bukan main, karena ternyata kata sandi yang dipakai Joseph itu adalah tanggal ulang tahunnya.
***
Bersambung...
__ADS_1