Ketika Yang Kucintai Berkhianat

Ketika Yang Kucintai Berkhianat
KYKB 260


__ADS_3

Sila dan Karina sudah tiba di depan kamar rawat Joseph. Mereka sempat saling pandang sebelum membuka pintu kamar rawat Joseph.


Dave yang melihat Sila masuk langsung menghampiri istrinya itu dan langsung memeluknya.


"Mas, kamu tidak apa-apa kan?" tanya Sila yang melihat wajah suaminya dengan seksama.


"Tidak apa-apa sayang, aku baik-baik saja. Jangan cemas!" jawab Dave langsung membelai wajah cantik Sila.


Namun Sila melihat tangan suaminya masih memakai sarung tangan. Sila pun langsung meraih tangan suaminya itu. Tapi Dave menahannya.


"Sayang, aku masih harus pakai ini. Jika ada yang di perlukan Jose...!"


Sila semakin curiga karena Dave melarangnya membuka sarung tangannya. Sila langsung menarik tangan Dave dan melihat ke arah Dave. Memandangnya dengan tatapan sangat dalam.


"Mas, tolong biarkan aku lihat dulu untuk memastikan kekhawatiran ku, oke?" tanya Sila.


Dave pun hanya bisa mengalah. Dia memang merasa sedikit perih di buku-buku luar punggung jari dan tangannya. Benar saja saat Sila membuka sarung tangan itu, tangan Dave memang benar terlihat kemerahan seperti memar.


Sila langsung menghela nafas sedih.


"Berapa banyak orang yang kamu pukul mas?" tanya Sila dengan wajah khawatir nya.


Meskipun Sila tahu itu sebenarnya suaminya ini lakukan untuk mempertahankan diri. Tapi tetap saja dia cemas, apalagi sampai Joseph pun terluka.


Sila langsung mengajak Dave duduk dan mengobati tangan suaminya itu. Karina juga sudah duduk di sebelah Randy. Dia melihat Shafa yang juga duduk di sebelah Randy tapi matanya terus ke arah Joseph.


'Apa dua pria ini tidak menyadari tatapan Shafa pada Joseph itu?' tanya Karina dalam hatinya.


"Mereka sangat romantis ya?" tanya Randy membuat pandangan Karina beralih dari Shafa ke Randy.


"Kamu bilang apa?" tanya Karina memastikan.


Randy langsung menggeser duduknya lebih dekat dengan Karina. Lalu merangkul pinggang Karina.


"Lihat mereka, jika kita sudah menikah nanti apakah kamu juga akan sangat mencemaskan ku seperti Sila mencemaskan Dave?" tanya Randy dengan suara pelan berbisik di telinga Karina.


Karina hanya menghela nafas panjang saja. Dia berpikir, di saat seperti ini. Randy masih memperhatikan dan mempertanyakan tentang keromantisan. Menurutnya itu sangat, apa ya... sangat tidak tepat.


"Oh ya mas, bagaimana Joseph bisa tertembak?" tanya Sila sambil mengoleskan krim di tangan suaminya.


Mata Dave langsung mengarah ke arah Joseph yang masih terbaring dan tertidur.


"Dia melindungi ku, dia berdiri di depanku dengan cepat saat Edgar Retz itu mengarahkan senjatanya padaku!" jelas Dave yang langsung terlihat sedih.


Sila langsung mengelus lengan suaminya dan merangkul Dave dengan sangat lembut.

__ADS_1


"Dia akan baik-baik saja, jangan cemas ya mas. Tapi, bukankah Joseph itu pria yang sangat baik?" tanya Sila yang langsung melihat ke arah Karina.


Karina yang mendengar Sila mengatakan itu, juga langsung melihat ke arah Sila.


"Hah, iya benar. Tidak kah kamu juga merasa kalau Joseph itu sangat setia dan pria yang sangat bertanggung jawab?" tanya Karina pada Randy.


Dave pun mengangguk, begitu pula Randy. Kinerja dan kesetiaan Joseph memang tidak perlu di pertanyakan lagi. Randy juga mengangguk setuju dengan Dave.


Sila lalu melanjutkan perkataannya.


"Beruntung sekali bukan wanita yang nantinya akan menjadi pendamping hidup Joseph?" tanya Sila sambil masih mengoles tangan Dave dengan perlahan dengan krim.


Dave mulai memandangi wajah Sila ketika Sila mengatakan hal itu. Dave mulai mencari tahu sebenarnya apa yang Sila sampaikan padanya. Selama ini bahkan Sila tidak pernah mengatakan tentang hal ini pada Dave sebelumnya.


"Sayang, apa yang ingin coba kamu sampaikan padaku?" tanya Dave pada Sila dengan suara lembut.


Sila pun melihat ke arah Shafa yang masih saja melamun dan tak mendengarkan apa yang sejak tadi berusaha untuk Sila dan Karina sampaikan untuk membantunya mengungkapkan perasaannya itu pada Joseph kepada kedua kakaknya.


Sila pun terdiam, dan masih melihat ke arah Karina.


"Kau punya calon untuk Joseph?" tanya Dave yang sudah mulai curiga kemana arah pembicaraan istri tercintanya itu.


Sila langsung tersentak kaget. Kenapa malah Dave bertanya begitu. Dia harus jawab apa. Sila pun melihat ke arah Karina.


"Maksud Sila bukan seperti itu, dia hanya ingin bilang kalau bukankah jika ada seorang wanita yang akan di nikahi Jose nanti, berarti wanita itu pasti sangat beruntung dan pasti di lindungi dengan baik. Begitu kan Sila?" tanya Karina dan Sila mengangguk.


"Kau benar! memang benar... tapi ada yang aneh dengan kalian berdua. Sebenarnya ada apa?" tanya Dave yang sudah mulai melihat gerak-gerik Sila dan Karina seperti sedang bekerja sama untuk mengatakan sesuatu.


Ceklek


Tapi sebelum Sila menjawab, Oman masuk ke dalam ruang rawat Joseph.


"Maaf tuan, tapi sudah saatnya saya menjemput nona Mika. Tapi Anita menghubungi saya, kalau di perusahaan ada klien dari perusahaan M yang ingin bertemu dengan anda!" jelas Oman.


Dave pun mengangguk paham.


"Kak, kau bisa kan jaga Joseph?" tanya Dave.


Randy pun mengangguk.


"Iya, urus dulu pekerjaan mu. Aku akan menjaganya di sini!" jawab Randy.


Dave pun lalu mengajak Sila untuk pergi dari rumah sakit itu bersama. Sila harus menjemput Mika dengan Oman sedangkan Dave akan langsung ke kantor.


Setelah mereka pergi, Karina yang ingin memperjelas semuanya meminta agar Randy membelikannya minuman ringan, adanya Karina haus dan sedang ingin jus atau minuman dingin yang lain.

__ADS_1


"Aku akan carikan untuk mu, Shafa apa kamu juga mau?" tanya Randy pada Shafa.


Shafa hanya menggelengkan kepalanya dengan tidak bersemangat.


"Baiklah, kalian tetap di sini ya. Jangan kemana-mana!" seru Randy dan Karina langsung mengangguk paham.


Setelah Randy pergi, baru Karina menggeser duduknya ke dekat Shafa dan berkata.


"Jika ingin memeluknya maka peluk saja!" ucap Karina membuat Shafa langsung menoleh ke arah Karina.


Shafa menatap Karina dengan bingung. Tapi Karina langsung tersenyum.


"Kamu begitu mencemaskan Joseph bukan? maka peluklah dia...!"


"Kak Karina, jadi kamu tahu kalau...!" belum Shafa menyelesaikan apa yang ingin dia sampaikan. Karina sudah menganggukkan kepalanya.


"Iya, kau tahu. Kalian berdua saling mencintai bukan. Tapi kenapa kalian merahasiakan hal ini dari semua orang? tidak ada yang salah kalau kalian berhubungan, Joseph single dan kamu juga. Lalu apa masalahnya?" tanya Karina dengan senyum tulus di wajahnya.


Shafa langsung memeluk Karina. Dia tidak menyangka kalau calon kakak iparnya ini begitu perhatian dan pengertian padanya.


"Aku akan peluk dia!" ucap Shafa yang langsung berlari memeluk Joseph.


Membuat Joseph yang awalnya masih tak sadar, langsung terbatuk.


"Uhukk... uhukk... !"


Shafa langsung mundur.


"Ah maafkan aku, aku tidak sengaja. Mana yang sakit?" tanya Shafa panik.


Joseph malah tersenyum.


"Aku senang bisa melihat mu lagi, ku pikir...!"


Sebelum Joseph menyelesaikan ucapannya, Shafa sudah meletakkan jari telunjuk kanannya di depan bibir Joseph.


"Jangan bicara yang tidak-tidak, kau tahu kan kalau terjadi sesuatu padamu, aku juga tak mau hidup lagi!" ucap Shafa membuat Joseph langsung merangkulnya ke dalam pelukannya.


Karina hanya tersenyum dengan mata berkaca-kaca melihat Shafa dan Joseph terlihat benar-benar saling mencintai. Karina menghela nafas nya panjang.


'Aku harap dia segera sampai di sini dan melihat ini semua!' gumam Karina dalam hati yang berharap Randy datang dan melihat kejadian ini.


***


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2