
Setelah menjemput Mika, Sila langsung pergi ke Mall. Dia sudah tidak memikirkan lagi apa yang Murti katakan padanya di sekolah Mika tadi. Sila sudah benar-benar move on dari pria yang sudah lima tahun menjalin hubungan pernikahan dengan dirinya dulu itu.
Sila sudah sangat bahagia bersama Dave yang bisa menerima dirinya dan juga Mika. Sila juga akan datang di pernikahan Hadi dan Susan seperti permintaan Murti.
Setelah sampai di Mall, Oman langsung mengawal Sila, Mika dan Diah ke arah bioskop. Mereka pun menonton film kartun kesukaan Mika. Selama dua jam lebih mereka berada di dalam ruang bioskop. Setelah selesai, Sila mengajak Mika dan Diah makan di sebuah restoran yang cukup mewah di Mall itu. Dave sudah memberikan banyak kartu kredit dan debit pada Sila. Mau membeli semua barang yang ada di Mall itu pun bisa. Tapi itu pemborosan.
Oman memilih untuk tidak bergabung dengan mereka dan hanya minum kopi saja di meja yang terpisah dari mereka bertiga namun cukup dekat.
"Mbak Iyah, jaga Mika sebentar ya. Aku mau ke toilet!" ucap Sila.
Ketika Sila berdiri, Oman pun berdiri tapi Sila langsung memberikan isyarat pada Oman agar dia tetap disana untuk menjaga Mika. Oman mengangguk paham.
Sila pun pergi ke toilet yang ada di dalam restoran itu. Beberapa saat kemudian, Sila keluar dari toilet. Tapi dia melihat seseorang yang rasanya familiar.
"Wanita itu, aku seperti pernah melihatnya. Tapi dimana ya?" gumam Sila sambil mengingat-ingat seorang wanita cantik yang duduk dengan seorang pria tampan di sebelahnya.
Di depan mereka berdua ada dua orang paruh baya, satu wanita dan satu lagi pria.
Mata Sila melebar ketika ingat siapa wanita itu.
"Ah iya, itu dia Shafa. Adiknya mas Dave!" gumam Sila lagi.
Sila tersenyum melihat Shafa yang terlihat tersenyum pada kedua orang tua yang duduk di depannya.
'Itu pasti ayah dan ibu mertuanya. Dia terlihat bahagia. Pasti mertuanya sangat baik padanya!' batin Sila.
Tapi tak lama kemudian, kedua orang tua yang kemungkinan adalah mertua Shafa itu memeluk Shafa dan pergi keluar dari restoran. Sila juga berniat meninggalkan tempat itu dan kembali ke mejanya yang letaknya lumayan jauh dari meja Shafa dan suaminya. Tapi baru akan berbalik, Sila kembali memperhatikan ke arah meja Shafa. Masalahnya adalah Shafa menepis tangan suaminya yang mencoba menyentuh wajah Shafa.
Jiwa kepo Sila pun memaksa langkahnya mendekat ke arah meja mereka untuk bisa mendengarkan apa yang dikatakan Shafa kepada suaminya. Karena sepertinya Shafa sangat marah pada suaminya.
__ADS_1
Sila berdiri di dekat lemari hias yang ada di dekat meja Shafa hingga dia bisa mendengar perdebatan Shafa dan suaminya.
"Aku sudah bilang kan! jangan menyentuh ku! itu juga tertulis dalam perjanjian kita!" seru Shafa.
Sila yang mendengar itu menutup mulutnya tak percaya.
'Perjanjian, perjanjian apa yang Shafa buat dengan suaminya?' tanya Sila penasaran dalam hatinya.
"Kamu istriku, kenapa aku tidak boleh menyentuh mu. Pernikahan kita sah menurut hukum, kenapa kita tidak mencoba untuk saling membuka hati...!"
"Aku tidak mencintaimu, aku sudah jelas katakan itu sebelum kita menikah. Perjodohan yang di atur kedua orang tua kita aku sudah meminta mu menolaknya, aku juga akan menolaknya. Tapi kamu yang bersikeras ingin menikah dengan ku, aku juga sudah katakan aku menyukai orang lain kan! kamu bilang agar nenek mu yang sakit itu sembuh maka aku harus membantumu menyetujui pernikahan ini. Aku sudah membantumu, dan perjanjian itu, kamu sendiri yang mengatakan tidak akan menyentuh ku jika aku tidak mengijinkan. Kamu mau melanggar janji yang sudah kamu buat sendiri? tuan Vincent Oberen. Keterlaluan itu ada batasnya. Aku merasa kamu sedang berusaha mengambil kesempatan di dalam kesempitan. Dan aku tidak suka itu!" tegas Shafa dengan pandangan tidak senang pada Vincent.
Sila sangat terkejut mendengar apa yang Shafa katakan. Ternyata pernikahan mereka itu hanya sebuah perjanjian.
"Dan seperti kesepakatan kita, nenek mu sudah sembuh. Dan pernikahan ini sudah berjalan tiga bulan. Tiga bulan lagi, seperti perjanjian kita, kamu harus menceraikan aku!" tegas Shafa.
"Shafa, aku mencintaimu. Awalnya memang aku yang membuat perjanjian itu, tapi seiring waktu aku jatuh cinta padamu. Shafa apa kurangnya aku, apa aku tidak bisa menjadi suami yang sebenarnya untuk mu?" tanya Vincent yang sudah mulai tampak gusar.
Sebelum menjawab pertanyaan Vincent, Shafa melipat kedua tangannya di depan dada.
"Aku sudah mengatakan alasannya padamu sebelum kita menikah kan. Aku mencintai pria lain, dan kamu bilang itu tidak masalah karena pernikahan ini hanya untuk kesembuhan nenek mu dan kerja sama antar dua perusahaan. Lalu kenapa sekarang kamu yang malah baik bertanya padaku?" tanya Shafa yang sudah mulai jengah.
Vincent terdiam, dia terlihat sedih. Shafa langsung meraih tasnya dan pergi meninggalkan Vincent. Sila juga langsung menuju ke arah meja nya, Tapi dia penasaran siapa pria yang disukai Shafa.
Tak lama Shafa pergi, Karina pun datang. Karena Sila sudah mengirimkan lokasi dimana dia berada pada Karina.
"Karina!" panggil Sila yang langsung berdiri dan memeluknya.
"Hai Sila!" ucapnya membalas pelukan Sila.
__ADS_1
"Hai Mika sayang!" sapa Karina pada Mika lalu mencium pipi tembem menggemaskan Mika.
"Wah makan siang spesial ini!" seru Karina melihat hotpot yang sudah tertata rapi di atas meja.
"Ayo duduk!" ajak Sila.
Karena Diah dan Mika sudah makan duluan, Diah yang mengerti mungkin Sila ingin bicara serius dengan Karina. Maka Diah mengajak Mika untuk bermain di arena bermain anak yang letaknya tak jauh dari Mall. Sila juga minta Oman untuk ikut dengan Mika dan Diah.
"Makan dulu ya, setelah itu baru kita ngobrol!" ucap Sila.
"Penting banget ya?" tanya Karina.
Sila terdiam, bisa-bisanya Karina berlagak tidak mengerti tentang apa yang ingin dia bicarakan dengan sahabatnya itu. Tapi Sila coba untuk menunggu sampai Karina selesai makan.
"Datang sendiri, tidak kan?" tanya Sila.
"Aku tahu kamu sudah minta tuan Joseph mengantarku, tapi dia tidak mau ikut dia menunggu di mobil di tempat parkir!" jawab Karina sambil mengambil beberapa makanan ke atas mangkuknya. Dan Sila pun hanya menganggukkan kepalanya perlahan.
Sementara itu di tempat parkir, Shafa sedang berjalan menuju ke arah mobilnya. Tapi ketika dia mencari mobilnya, dia melihat mobil Joseph disana. Shafa pun menghampiri mobil Joseph dan mengetuk kaca jendela bagian pengemudi.
Tok tok tok
Joseph langsung membuka kaca begitu tahu siapa yang mengetuk.
"Nona Shafa!" sapa Joseph.
Shafa mendengus kesal mendengar Joseph berkata seperti itu.
"Tidak ada orang lain kan di sini, kenapa masih memanggilku nona?" tanya Shafa sedikit kesal.
__ADS_1
***
Bersambung...