
Sementara itu di pulau pribadi milik keluarga Hendrawan. Shafa hanya duduk diam di kursi yang ada di depan meja makan sambil memperhatikan Hasnah yang sedang menyiapkan makan siang untuk mereka.
Tangan Shafa semakin tidak nyaman, karena itu dia minta kompres di isi dengan air dingin untuk meminimalisir rasa nyerinya. Kenapa air dingin, sebab kompres air hangat justru akan memperbesar resiko peradangan terjadi.
"Huh, lebih baik. Seharusnya sejak tadi saja aku kompres begini!" gumam Shafa.
"Nona, apa mau bibi urut?" tanya Hasnah yang cemas pada keadaan Shafa.
"Memangnya bibi mengerti dunia urut mengurut?" tanya balik Shafa. Tentu saja dia tidak ingin sembarangan di urut, bisa-bisa tambah parah dan dia tambah merasakan sakit yang lebih lagi.
Hasnah menggelengkan kepalanya. Shafa pun mendengus kesal.
"Sudahlah bi, masak saja yang enak. Mungkin jika lidahku dan perutku senang, aku akan cepat lupa kalau tangan ku sakit, he he he!" kekeh Shafa.
Hasnah juga ikut tertawa, nona nya itu memang selalu bisa membuat suasana menjadi ceria.
Setelah setengah jam, Randy datang bersama dengan Karina.
"Shafa, kenapa tangan mu?" tanya Randy yang langsung melihat ke arah tangan adiknya yang sedang adiknya itu kompres.
"Tidak apa-apa kak, aku jatuh saat memancing tadi. Ternyata tidak mudah memancing ikan, lebih mudah memancing keributan!" celoteh Shafa membuat Randy yang tadinya cemas padanya jadi terkekeh karena ucapan ngelantur adiknya itu.
Randy bahkan mengacak-acak rambut Shafa. Membuat wanita muda itu mendorong kakaknya refleks.
Karena Randy juga dalam keadaan tak siap, Randy pun terhuyung ke belakang. Tanpa dia sadari kalau Karina masih berada disana. Alhasil keduanya pun saling berpelukan agar tidak jatuh ke lantai. Posisi Karina setengah miring dengan pinggang yang di peluk erat oleh kedua tangan Randy. Dan tangan Karina memeluk lengan Randy dengan erat karena secara naluri di saat seperti itu tentu saja dia ingin berpegangan agar tidak terjatuh.
Kedua pasang mata bahkan saling pandang penuh dengan rasa terkejut. Shafa yang melihat hal itu pun tersenyum senang. Hingga ada sebuah suara yang membuat pemandangan indah itu berakhir.
"Nona, sepertinya rencana....!" Joseph langsung menghentikan kalimat yang ingin dia ucapkan ketika melihat Karina langsung menjauh dari Randy dan melihat pandangan menusuk dari Shafa.
"Ck... pak tua, kamu mengacau!" keluh Shafa.
Joseph yang merasa tidak enak karena sepertinya Randy juga kecewa karena kedatangannya mengejutkan dan yang paling utama adalah dia sudah merusak suasana romantis Randy dan Karina pun hanya bisa meminta maaf.
"Maaf nona, tuan!" ucap Joseph canggung, dia sangat tidak enak hati.
Randy langsung menarik kursi untuk Karina.
"Tak apa Jo! kemari lah, kita makan siang dulu. Kamu mau bilang apa tadi?" tanya Randy yang mencoba bersikap sangat baik dan bijaksana di depan Karina.
Padahal di dalam hatinya Randy sedang mengomel pada Joseph.
'Dasar pengacau, seharusnya tadi ku kunci dia di luar rumah!' batin Randy.
__ADS_1
Joseph pun duduk di sebelah Shafa, karena dia merasa harus bertanggung jawab membantu Shafa memotong lauk bahkan menyuapinya karena tangan Shafa masih sakit.
"Di luar sedang gerimis, sepertinya kita tidak bisa menyiapkan barbeque seperti rencana nona!" jelas Joseph.
Randy dan yang lain pun hanya menganggukkan kepalanya paham. Sementara Hasnah yang mendengar kalau di luar mulai gerimis pun meminta ijin pada Randy untuk pulang dan mengangkat jemuran, mengingat Lukman dan istrinya sedang pergi berbelanja.
Di meja makan itu tinggal Randy, Joseph, Karina dan Shafa.
Randy menunjukkan perhatiannya dengan mengambilkan beberapa lauk untuk Karina. Sedangkan Shafa minta di suapi oleh Joseph.
"Jo, sudah berapa lama sejak terakhir kali kamu menyuapi bayi besar ini?" tanya Randy menyindir Shafa.
Mendengar kakaknya menggodanya, di kepala Shafa malah muncul sebuah ide.
"Ih, iri bilang bos!" balas Shafa.
Randy malah mengernyitkan keningnya.
"Siapa yang iri?" tanya Randy.
"Kakak lah, lihat aku! Joseph menyuapiku dengan penuh kasih sayang...!"
"Uhukk uhukk!" Joseph tersedak, padahal dia belum makan.
Setelah Joseph minum, Shafa melanjutkan aksinya.
"Nah, lihat kan. Di liburan ku ini sangat sempurna karena di suapi oleh Joseph, sedangkan kakak tidak akan pernah mendapatkan kesenangan seperti ku, tidak mungkin kak Karina menyuapi kakak kan?" tanya Shafa.
Wajah tengil Shafa membuat Karina yang tersedak sekarang.
"Uhukk uhukk!"
Randy langsung mendekatkan gelas minum Karina semakin dekat pada Karina.
"Minumlah Karina!" seru Randy dan Karina mengangguk paham.
Setelah memberikan minum untuknya, Karina bisa melihat wajah Randy yang semula sangat ceria perlahan menunduk sedih.
'Shafa ini, apa dia sengaja melakukannya. Tapi kasihan Randy kalau di ejek adiknya sendiri begitu di depan Joseph!' batin Karina.
"Em Randy, apa kamu mau makan ayam ini?" tanya Karina yang langsung membuat Randy yang tadinya tertunduk lesu menoleh ke arah Karina.
Bukan hanya Randy, tapi Shafa dan juga Joseph juga menoleh ke arah Karina. Dengan perlahan, Karina memotong ayam bakar yang ada di atas piringnya lalu menusuknya dengan garpu lalu mengarahkannya pada Randy.
__ADS_1
Randy senang bukan main, dia tersenyum dan membuka lebar mulutnya.
Randy pun menyadari kalau semua ini mang rencana Shafa.
'Dasar adik yang nakal, tapi terimakasih banyak sudah membantuku!' batin Randy mengedipkan kedua matanya sekali pada Shafa.
Sementara Karina hanya bisa menghela nafas panjang. Dia tahu semua ini rencana Shafa. Tapi dia juga merasa tidak keberatan sama sekali melakukan itu. Sementara Joseph yang mulai mengerti kalau Shafa sedang berusaha mendekatkan Randy dan Karina hanya bisa berharap kalau rencana Shafa berhasil.
Setelah makan siang, mereka pun berkumpul di ruang tengah.
"Kak Karina, apa kamu suka film twilight?" tanya Shafa.
Karina yang mang suka film itu mengangguk.
"Pak tua, putar film itu! setelah itu cari camilan dan minuman di dapur ya!" seru Shafa.
Shafa yang tadinya duduk di sebelah Karina, memutuskan berdiri setelah Randy datang.
"Kakak duduk sini, aku mau selonjor4n di kursi yang itu!" seru Shafa.
Randy pun akhirnya duduk di sebelah Karina. Setelah film mulai di putar, Joseph mengambil camilan dan minuman untuk semua orang.
"Pak tua, duduk sini!" seru Shafa meminta Joseph duduk di sebelahnya.
"Aku keluar saja nona..!"
"Di luar hujan Jo, duduk lah!" ujar Randy yang merasa kalau ini juga bisa jadi liburan untuk Joseph. Lagipula juga tidak akan bahaya kan di pulau kecil dan jauh seperti itu. Apalagi hati sedang hujan deras.
Mereka semua menonton dengan suasana tenang, sesekali bunyi keripik yang di gigit Shafa membuat suara lain selain suara dari layar televisi ukuran besar itu. Hingga di pertengahan, ada adegan dimana artis pria datang ke kamar artis wanita lalu menciumnya.
Blush
Karina memalingkan wajahnya karena merasa adegan itu membuatnya merasa gerah. Begitu pula Randy, dia berusaha untuk tenang padahal, dirinya juga sudah panas dingin.
Shafa yang memang sudah sering melihat adegan itu hanya bersikap biasa saja sambil terus mengunyah camilannya. Sedangkan Joseph juga berusaha keras menetralkan detak jantungnya, apalagi tanpa Shafa sadari ternyata kali Shafa malah bergerak menyentuh kaki Joseph. Kulit mereka bertemu, membuat Joseph semakin panas dingin
Merasakan kulit kaki Joseph agak panas. Shafa pun mengerti kalau Randy mungkin saja sedang merasakan hal yang sama seperti Joseph.
'Jika aku mengajak pak tua pergi, mungkin kak Randy dan kak Karina akan...!' batin Shafa.
***
Bersambung...
__ADS_1