
Saat Oman membantu untuk membawa Haris menuju ke mobilnya, lebih tepatnya mobil Dave. Dave mengajak Sila untuk menemui Jeremy Darrow terlebih dahulu untuk mengucapkan terima kasih.
"Tuan Darrow terimakasih banyak atas bantuan mu, Sila mendapatkan keadilan dan gak asuh atas anaknya!" ucap Dave pada Jeremy Darrow yang juga ikut melihat apa yang terjadi pada Haris.
"Terimakasih banyak tuan Darrow!" ucap Sila dengan penuh rasa hormat.
"Tidak usah formal begitu tuan Dave, sejak aku membaca kasusnya, dan istriku minta harus membantu nyonya Sila maka sudah tugas ku menyesuaikan semuanya. Aku juga hanya membantu mencari bukti perselingkuhan mereka bukan? yang lainnya tuan Dave yang mengusahakan nya!" sahut Jeremy Darrow.
"Baiklah kalau begitu kami harus cepat menyusul Oman, sekali terimakasih banyak tuan Darrow!" ucap Dave.
Jeremy Darrow pun menganggukkan kepalanya dan Dave bersama Sila segera menyusul Oman.
Ben yang berada di samping Jeremy pun bertanya.
"Bukankah seharusnya mereka bisa mengajukan tuntutan balik pada Hadi Tama itu, kenapa mereka tidak melakukan nya?" tanya Ben yang tidak mengerti dengan kedua klien atasannya itu.
"Mereka orang baik Ben, nyonya Sila terutama. Tuan Dave sudah berkali-kali membujuknya untuk memenjarakan pria jahat itu, tapi nyonya Sila tidak mau anaknya sampai di bully orang karena punya ayah seorang narapidana! nyonya Sila itu begitu lembut, hatinya sangat murah hati seperti istriku. Iya kan Ben?" tanya Jeremy pada Ben, asisten nya.
Ben hanya bisa tersenyum kikuk sambil mengangguk dan dengan tangan yang menggaruk tengkuknya meskipun sebenarnya tidak terasa gatal.
"Iya tuan, nyonya memang sangat lembut!" ucap Ben.
'Heh, darimana lembutnya nyonya. Dia jika bertemu denganku sehari saja tidak marah dan berteriak hidupnya kan terasa ada yang kurang!' batin Ben.
Sedangkan dari jauh Niken, Prio Utomo dan juga Tini hanya bisa menghela nafas mereka. Dave tadi meminta mereka untuk pulang dan beristirahat saja dan tak perlu ikut ke rumah sakit.
"Semoga pak Haris tidak apa-apa ya Bu!" ucap Prio Utomo yang terlihat sedih.
Tini juga langsung menganggukkan kepalanya perlahan.
__ADS_1
"Iya yah, kasihan sekali pak Haris. Hadi benar-benar sudah mencoreng wajahnya, dia benar-benar menyakiti kepercayaan ayah dan ibunya. Semoga Hadi cepat sadar ya!" ucap Tini yang berdoa untuk Haris dan juga Hadi.
"Ibu ngapain sih masih berdoa buat laki-laki super jahat dan gak tahu malu itu. Ibu lihat kan tadi, bukti kelakuan minusnya sudah terpampang di depan mata dia masih saja membela dirinya dan menghina Sila, dia yang menjebak Sila, dia malah menuduhnya sembarangan. Aku kesal sekali, kenapa kita tidak terima tawaran tuan Jeremy Darrow untuk menuntut balik laki-laki menjijikkan itu!" kesal Niken yang ingin sekali Hadi mendekam di penjara.
"Niken, sudahlah. Semua keputusan tetap ada di tangan Sila. Dan ibu pikir semua yang Sila katakan tadi benar. Lagipula semuanya sudah berlalu, Mika sudah kembali ke keluarga kita. Dan Sila sudah mendapatkan suami yang begitu baik dan perhatian seperti nak Dave!" sahut Tini yang selalu berusaha melihat segala hal dari sisi yang positif.
Meski masih kesal dengan Hadi, tapi Niken hanya bisa mengangguk paham pada penjelasan ibu mertuanya itu. Mereka pun memutuskan untuk pulang ke rumah Prio Utomo. Karena Mika akan di jemput oleh Sila dan Dave setelah mereka mengantarkan Haris ke rumah sakit dan juga memastikan keadaan nya.
Di dalam perjalanan menuju ke rumah sakit, Oman bersama dengan Haris dan juga Murti. Sementara Susan menyusul dengan mobil Hadi bersama dengan Hadi. Dave mengikuti mereka bersama Sila dengan mobil yang di kemudikan oleh Joseph. Sebab saat Oman membawa Haris ke mobil, Dave sempat menghubungi Joseph untuk segera ke pengadilan.
Mobil yang di tumpangi Oman sudah tiba terlebih dahulu di depan rumah sakit terdekat dari pengadilan. Dengan sigap Oman turun dari dalam mobil lalu memanggil para perawat yang cepat datang dan membawa ranjang dorong untuk pak Haris.
"Kami akan bawa ke rumah UGD, silahkan di lengkapi dulu administrasi nya!" ucap salah seorang perawat pada Oman.
Oman hanya mengangguk. Tapi dia tetap menunggu yang lain datang. Murti langsung ikut para suster mengiringi Haris yang akan di bawa masuk ke ruang UGD.
"Maaf Bu, sebaiknya menunggu di luar saja. Kami harus menangani pasien!" ucap salah seorang perawat membuat Murti hanya bisa menangis dan menunggu di luar ruang UGD.
Hadi dan Susan telah tiba, Oman yang memang sedang menunggu mereka langsung menghampiri Hadi.
"Ayah mu sedang di tangani di ruang UGD, ibu mu juga di sana. Dengar, perawat meminta agar kamu menyelesaikan administrasi di sebelah sana!" jelas Oman yang langsung menjelaskan pada Hadi tanpa sempat Hadi bertanya terlebih dahulu.
Begitu mendengarkan penjelasan Oman, Hadi langsung bergegas ke bagian administrasi dan Susan pun mengikuti nya.
Dave dan Sila juga sudah sampai, Oman juga langsung menghampiri mereka.
"Bagaimana pak Haris?" tanya Sila yang terlihat begitu panik.
Sila pernah menjadi menantunya, karena itu dia sangat tahu kalau pak Haris itu punya riwayat penyakit dalam. Terutama jantung dan ginjal yang bermasalah dan sering kambuh kalau dia mengalami penurunan kesehatan atau banyak pikiran.
__ADS_1
Dave yang mengerti apa yang Sila rasakan langsung mengusap lengan Sila dengan perlahan beberapa kali.
"Sedang di tangani di ruang UGD nyonya!" jawab Oman dengan cepat.
"Mas, kita tunggu dulu ya bagaimana keadaan pak Haris. Setelah itu baru kita jemput Mika!" ucap Sila yang langsung di balas anggukan kepala dari Dave.
Dave pun mengajak Sila ke ruang tunggu, dia juga tidak mau istrinya yang sedang hamil muda itu terlalu lelah dan terlalu kepikiran dengan masalah Hadi dan ayahnya.
"Sayang, sudah jangan terlalu di pikirkan ya!" ucap Dave.
Dave lalu meminta pada Oman untuk mencarikan Sila minuman agar dia lebih tenang. Oman pun segera melaksanakan perintah Dave. Sedangkan Joseph masih di luar memarkirkan mobil Dave.
Tak lama kemudian, ponsel Dave berdering. Saat Dave melihat ke layar ponsel itu panggilan dari salah seorang klien penting.
"Sayang sebentar ya, aku terima telepon dari klien!" ucap Dave yang menunjukkan latar ponselnya pada Sila.
Sila pun membaca nama yang tertera, direktur perusahaan M. Sila pun mengangguk lalu Dave menjauh sedikit ke arah teras rumah sakit agar suaranya tidak menganggu Sila ataupun pasien lain di dalam rumah sakit.
Tapi saat Sila masih menoleh ke arah pintu dimana Dave baru saja keluar. Dia di kejutkan dengan suara seseorang yang memanggil m
namanya dengan keras.
"Susilawati, apa kamu puas sekarang?" tanya Hadi yang menghampiri nya dengan mata merah. Jelas sekali dia sangat kesal pada Sila.
Sila pun berdiri dari duduknya.
"Apa maksud mu?" tanya Sila yang tidak mengerti kenapa Hadi malah marah dan berteriak padanya.
"Puas kamu sudah merebut Mika dariku, membuat ayah ku masuk ke rumah sakit, puas sudah mempermalukan aku?" tanya Hadi dengan nada suara yang kian meninggi.
__ADS_1
***
Bersambung...