
Mobil Dave sudah tiba di depan rumah yang alamatnya di share located oleh Anita pada Joseph. Joseph sendiri yang mengemudikan mobil Dave, karena itu setelah tiba di depan gerbang rumah yang cukup besar itu, Joseph langsung membunyikan klakson mobil Dave.
Penjaga rumah pun langsung membukakan pintu gerbang, ketika mobil masuk ke dalam pekarangan rumah baru Hadi. Mata Sila terus melihat ke arah rumah berlantai dua dengan gaya eropa itu. Bukan karena bagusnya rumah itu yang menarik pandangan Sila, tapi karena Sila tahu kalau Mika pasti ada di dalam rumah itu.
'Mika, sebentar lagi mama akan melihat mu nak. Setelah hampir dua bulan, Mika sayang... mama sangat merindukan mu!' batin Sila yang matanya tiba-tiba saja berkaca-kaca.
Dave yang menoleh ke arah Sila yang sedang memandang rumah Hadi dengan mata yang berkaca-kaca pun ikut sedih. Tapi yang di pikirkan Dave sedikit berbeda.
'Kamu pasti sedih Sila, hasil kerja keras mu selama lima tahun, di pakai oleh mantan suami mu itu untuk membeli rumah ini. Bahkan dia akan tinggal bersama dengan wanita yang merebut semua kebahagiaan mu itu!' pikir Dave yang langsung menggenggam erat tangan Sila.
Ketika tangannya di genggam oleh Dave, Sila langsung menoleh ke arah suaminya yang sedang menatapnya itu.
"Kamu akan mendapatkan semua milikmu Sila, aku berjanji padamu!" tutur Dave dengan penuh keyakinan.
Sila pun tersenyum mendengar apa yang dikatakan oleh Sila.
Setelah mendengar suara klakson dan mobil berhenti di depan rumahnya. Hadi keluar bersama dengan Susan dan juga Zain, adik Hadi yang juga datang menghadiri sukuran rumah baru Hadi.
"Jo, bukakan pintu untuk Sila!" perintah Dave pada Joseph saat Joseph akan turun dari mobil.
Dave sengaja mengatakan itu karena Hadi terlihat berjalan menghampiri ke arah mobil. Jika Joseph membukakan pintu untuk Dave, Hadi secara otomatis akan membukakan pintu mobil untuk Sila, dan Dave tidak mau hal itu terjadi.
Dan seperti yang diperkirakan Dave, benar saja saat Joseph menuju ke arah pintu sebelah kiri, Hadi langsung bergegas ke arah pintu mobil Dave sebelah kanan.
Sementara dari depan pintu rumah, Susan dan juga Zain hanya melihat Hadi yang begitu antusias menyambut tamunya sampai-sampai dia ikut membukakan pintu mobil untuk mereka. Karena rasa penasaran, Zain pun bertanya pada Susan.
"Kak Susan, memangnya se istimewa apa tamu yang di undang kak Hadi, sampai dia sendiri menyambutnya seperti itu?" tanya Zain dengan ekspresi wajah penasaran.
"Dia itu CEO paling kaya di kota ini, lihat saja semua makanan dan minuman yang kakak mu pesan!" jawab Susan cuek.
Zain pun mengangguk paham, tapi ekspresi wajah penasaran nya langsung berubah dengan sangat cepat menjadi ekspresi wajah sangat terkejut ketika melihat seorang wanita cantik yang turun dari mobil yang sama dengan tamu yang begitu istimewa yang di sambut Hadi itu.
"Kak Sila ...!" ucap Zain membuat Susan menoleh ke arah Zain dengan pandangan tidak senang.
__ADS_1
'Oh astaga, aku lupa. Dia kan adik ipar yang kata Hadi sangat menyayangi mantan istri Hadi itu!' gumam Susan dalam hati.
Apa yang di gumam kan oleh Susan dalam hatinya itu memang benar. Zain sangat menyayangi Sila, karena sebagian besar biaya kuliah Zain itu juga adalah uang Sila, hasil kerja Sila. Dan Zain sangat menghargai itu, selain dia memang sangat menyukai Sila yang baik dan menganggapnya seperti adiknya sendiri.
Melihat kedatangan Sila yang sudah beberapa bulan tidak bertemu dengannya. Zain pun refleks melangkah menghampiri mantan kakak iparnya itu.
"Kak Sila, apa kabar kak?" tanya Zain dengan senyuman tulus di wajahnya.
Sila juga tersenyum melihat ke arah Zain.
"Zain!" sapa Sila dengan suara yang lembut.
Melihat percakapan yang terjadi antara Sila dan Zain, mata kedua pria yang ada di sisi sebelah kiri mobil langsung menoleh secara bersamaan ke arah Sila dan juga Zain.
'Sila!' seru Hadi dalam hati.
Mata Hadi terus menatap Sila yang sedang berdiri menyamping karena sedang bicara pada Zain.
'Kenapa sekarang kamu terlihat begitu... cantik!' batin Hadi yang tak melepaskan pandangannya sama sekali dari Sila.
"Tuan Hadi Tama, siapa pria itu?" tanya Dave membuat Hadi tersadar dari lamunan nya.
"Oh tuan, mohon maaf sebelumnya karena aku baru mengatakan hal ini padamu. Sebenarnya Sila, sekertaris anda itu adalah mantan istriku. Dan itu adalah adikku, ku rasa hal yang wajar kalau seorang adik ipar menyapa kakak iparnya!" jelas Hadi yang terus melihat ke arah Sila.
Tatapan Hadi pada Sila itu juga cukup terbaca oleh Dave.
"Mantan kakak ipar kan?" tanya Dave meralat apa yang tadi jadi katakan.
Hadi terlihat canggung, karena tanpa sadar dia tadi mengatakan kalau Sila adalah kakak ipar Zain, bukan mantan kakak iparnya.
"Iya tuan, mantan kakak ipar. Silahkan tuan Dave... Sila... silahkan!" ucap Hadi yang mempersilahkan Dave dan kemudian melihat ke arah Sila dan juga mempersiapkan nya untuk masuk ke dalam rumah.
Sila hanya menoleh sekilas ke arah Hadi lalu mengangguk.
__ADS_1
"Ayo kak Sila!" ajak Zain pada Sila.
Pandangan Susan lalu beralih ke pakaian yang dipakai oleh Sila.
'Itu kan gaun yang ada di butik terkenal itu, yang kemarin baru launching. Kok bisa sih mantan istri mas Hadi itu beli gaun semahal itu. Berapa sih gaji jadi sekertaris tuan Dave, apa iya melebihi gaji mas Hadi lagi. Aku heran, kenapa dia selalu dapatkan pekerjaan yang bagus sih, menyebalkan!' gerutu Susan dalam hatinya ketika melihat Sila yang berjalan mendekatinya yang berdiri di depan pintu masuk bersama dengan Zain.
"Selamat malam tuan Dave, silahkan masuk!" sapa Susan dengan senyuman yang dia buat selebar mungkin.
Tapi senyuman itu harus hilang dalam sekejap mata, karena Dave bahkan tidak menoleh ke arahnya dan malah melewatinya begitu saja.
Hal yang sama juga langsung dilakukan Hadi karena harus berjalan beriring dengan Dave masuk ke dalam rumah.
Mendapatkan perlakuan seperti itu, Susan mengepalkan tangannya kesal.
Tapi dia tidak dapat berbuat apa-apa selain ikut masuk ke dalam rumah.
Saat masuk ke dalam rumah, dua orang yang tengah duduk di ruang tamu langsung berdiri, salah seorang dari mereka langsung maju dan menghampiri Sila.
"Sila!" panggilnya dengan suara pelan.
Mendengar mantan ayah mertuanya memanggil namanya, mata Sila berkaca-kaca, dia melihat ke arah Dave seolah meminta ijin pada suaminya itu untuk menghampiri sang mantan ayah mertua. Dave pun mengangguk pelan.
Wajah keriput nya terlihat sangat sedih melihat kedatangan Sila, tapi beberapa detik kemudian pria paruh baya itu malah tersenyum saat Sila menghampiri nya. Sila mengangkat tangannya meraih tangan kanan pria yang selama lima tahun telah menjadi ayah mertuanya itu.
Sila menyalami pria itu dan mencium punggung tangannya.
"Pak Haris, apa kabar?" tanya Sila menyebut nama pria paruh baya itu.
Kesedihan terlihat jelas di mata pria paruh baya itu.
'Rasanya begitu sedih ketika mendengarmu tak lagi menyebutku dengan panggilan ayah nak!' batin Haris sangat sedih.
***
__ADS_1
Bersambung...