
Mila dan Hilman masih terus berusaha menghubungi Hadi. Puluhan pesan bahkan sudah Mila kirimkan ke ponsel Hadi memakai ponsel Susan dan juga ponselnya.
Sudah beberapa jam Susan berada di ruang UGD, dan lampu yang ada di atas ruangan itu sejak tadi masih menyala. Mila bahkan tak hentinya menangis, dan tak berhenti mem4ki-m4ki Hadi yang sudah menyebabkan putrinya celaka seperti itu.
Hilman juga panik, tadi dia sempat melihat ada darah mengalir di kaki Susan saat menggendongnya ke atas tempat tidur dorong pasien ketika mereka tiba di rumah sakit ini tadi. Dia semakin panik, karena Susan tak sadarkan diri ketika dia hampir masuk ke ruang UGD.
"Kemana laki-laki bren9sek itu, awas saja kalau terjadi apa-apa pada Susan. Aku akan menuntutnya, aku tidak akan melepaskannya dengan mudah. Sial4n, bisa-bisanya dia menikah di belakang Susan!" omel Mila.
***
Sementara itu Hadi yang memang baru selesai mengobrol dengan beberapa tamu yang datang, memutuskan untuk kembali ke kamarnya, lebih tepatnya kamar pengantinnya dengan Rosa.
Rosa pun sudah berada di dalam kamar dengan mengenakan baju tidur yang tipis, dia mendekati Hadi sambil membawakan Hadi handuk bersih.
"Mas, ini handuk mu. Kamu mandilah dulu, aku akan siapkan pakaian ganti untuk mu!" ucap Rosa dengan lembut sambil melihat ke arah bawah.
Rosa bersikap malu-malu dan perhatian. Sepertinya dia memang sudah mengerti wanita seperti apa yang di sukai Hadi. Sedangkan Hadi yang melihat sikap Rosa itu tersenyum, dia bahkan meraih dagu Rosa hingga Rosa harus menatap Hadi.
"Kamu sangat perhatian, aku harap kamu bisa mengerti keadaan ku setelah ini. Aku memang harus tetap menikahi Susan karena dia sedang hamil anakku" jelas Hadi.
Rosa pun tersenyum dan mengangguk sekali tanda dia paham apa yang sedang di alami Hadi.
"Iya mas, aku tahu seharusnya aku memang tidak hadir di antara mas dan mbak Susan, aku akan berusaha menerima posisi ku memang istri pertama, tapi mungkin aku akan menerima hak sebagai istri kedua!" ucap Rosa dengan suara yang terdengar sedih, dia bahkan menundukkan kelopak matanya. Seolah memang dia harus menerima semua ini dengan lapang dada.
Hadi menghela nafas panjang.
"Maafkan aku Rosa, aku akui aku memang salah. Tapi percayalah, aku akan berusaha mencintaimu dan memberimu hak sebagai istriku dan aku akan adil pada kalian berdua nantinya!" ucap Hadi.
Rosa masih terdiam, dia sedang berakting. Padahal dalam hatinya.
'Hais, cepat singkirkan tangan mu dari dagu ku. Pegal sekali bersikap manis seperti ini, dan cepat buka ponsel mu, pasti sudah banyak panggilan dari wanita licik itu!' batin Rosa yang sudah mulai jengah berakting sebagai wanita pengertian dan penyabar di depan Hadi.
"Mas, tapi aku boleh tetap bekerja kan setelah kita kembali ke kota. Aku juga masih harus mengirim uang pada ibu, aku tidak mau terlalu menyulitkan mu!" tambah Rosa melengkapi sandiwara nya.
__ADS_1
Hadi pun mengangguk setuju, sesungguhnya dia mulai menyukai Rosa yang begitu pengertian. Rosa bahkan masih semangat bekerja setelah menikah dengannya. Tidak seperti Susan yang memang sudah sejak awal ingin berhenti bekerja kalau sudah menikah dengan alasan ingin mengurus Hadi dengan baik. Padahal, selama ini yang dilakukan Susan malah lebih sibuk mengurus dan memanjakan dirinya sendiri, bukan Hadi.
"Terimakasih mas, oh ya sejak tadi aku lihat ponsel mu menyala. Tapi aku tidak berani melihatnya. Apa kamu tidak ingin memeriksa ponselmu? sejak sore kamu kan sangat sibuk. Siapa tahu anak mu yang menghubungi mu mas?" tanya Rosa pada Hadi.
Hadi pun mengangguk.
"Kamu benar, tadi siang dia juga menghubungi ku. Aku akan lihat dulu!" ucap Hadi yang menjauh dari Rosa dan berjalan ke arah meja untuk mengambil ponselnya.
Rosa tersenyum senang di belakang Hadi.
'Lihatlah mas, dan jangan harap kamu bisa menyentuh ku malam ini. Karena nenek sihir itu pasti akan memintamu pulang dengan berbagai alasan!' batin Rosa senang karena tak harus menghabiskan malam pengantin dengan Hadi.
Rosa juga sebenarnya sangat enggan melakukan hal itu.
Setelah melihat ponselnya, mata Hadi melebar melihat begitu banyak notifikasi panggilan telepon tak terjawab dari nomer Susan dan juga Mila, calon ibu mertuanya.
"Ada apa ini?" gumam Hadi.
Hadi langsung melihat ke arah Rosa. Rosa yang memang sudah tahu apa yang mungkin Susan kirimkan pada Hadi pun kembali berakting.
"Mas, kenapa? kamu terlihat cemas? anak mu baik-baik saja kan?" tanya Rosa berlagak bingung dan mengira kalau Hadi cemas karena Mika.
"Rosa, lihat ini!" pekik Hadi yang sudah mulai panik.
Rosa mendekat, dia lalu melihat foto pernikahan dirinya dan Hadi yang di kirimkan Susan pada Hadi.
"Astaga mas, bagaimana ini. Pasti mbak Susan sangat marah, dan bagaimana dia mendapatkan foto itu?" tanya Rosa yang berlagak sangat bingung.
Melihat ekspresi Rosa yang seolah tak tahu apa-apa, dan sangat terlihat bingung. Hadi langsung mengusap kepalanya kasar. Dia sudah tidak berpikir lagi untuk membaca pesan Susan yang lain lagi. Padahal dia pesan setelah itu adalah pesan dari Mila yang mengabarkan kalau Susan masuk ke rumah sakit.
Hadi langsung menelpon nomer Susan untuk menjelaskan semuanya pada Susan agar calon istri dan wanita yang sudah menjadi kekasih gelapnya selama satu tahun sebelum mereka bisa go publik itu tidak melakukan hal-hal di luar nalar. Karena Hadi tahu betul Susan itu wanita yang nekat.
"Halo Su...!"
__ADS_1
"Dasar laki-laki bren9sek, kemana saja kamu? hoh... jangan katakan kamu sedang bersenang-senang dengan wanita pelakor itu ya. Akan ku habisi kamu kalau terjadi apa-apa pada Susan!" Mila benar-benar sangat marah pada Hadi.
Sedangkan Hadi masih bingung, dia pikir dia akan bicara pada Susan. Tapi ternyata uang mengangkat telepon malah calon ibu mertuanya.
"Ibu, tolong jangan marah-marah dulu. Aku akan jelaskan semuanya pada kalian...!"
"Mau jelaskan apa lagi? seharusnya aku tahu kamu itu pengkhianat selamanya akan jadi pria pengkhianat. Tahu begitu aku tidak akan biarkan Susan bersama mu lagi, awas saja kamu sampai terjadi sesuatu pada calon cucuku ya!" pekik Mila lagi.
"Maksud ibu apa? kenapa dengan calon anakku? dimana Susan Bu?" tanya Hadi yang mulai panik.
"Masih bisa bertanya kamu dasar laki-laki bren9sek! Susan pendarahan! dia sekarang di rumah sakit, sudah hampir tiga jam dia di ruang UGD. Kalau sampai terjadi apa-apa pada Susan, aku akan menuntut mu!" kesal Mila.
Hadi terlihat panik.
"Su... Susan pendarahan?" tanya Hadi gelagapan.
"Apa kamu tulli? semua ini gara-gara kamu!" pekik Mila.
"Aku... aku akan segera ke sana Bu. Di rumah sakit mana?" tanya Hadi.
"Medika Intan!" ucap Mila yang langsung memutuskan panggilan telepon karena dokter memanggilnya.
Rosa langsung berlagak panik melihat Hadi panik.
"Mas, ada apa? siapa yang pendarahan?" tanya Rosa.
"Rosa dengar, kamu di sini dulu. Aku harus pulang, Susan masuk UGD. Maafkan aku karena harus meninggalkan mu di malam pertama pernikahan kita, aku pergi!" ucap Hadi yang tanpa mengganti pakaiannya dan langsung mengambil kunci mobil.
'Oh kenapa minta maaf mas, aku malah senang. Karena aku juga tidak mau kamu menyentuhku!' batin Rosa.
***
Bersambung..
__ADS_1