Ketika Yang Kucintai Berkhianat

Ketika Yang Kucintai Berkhianat
KYKB 195


__ADS_3

Shafa bahkan mengusap punggung Karina, tapi kemudian tangan kirinya dia angkat dengan jari tengah dan jari telunjuk menunjuk ke arah matanya lalu ke arah Joseph. Shafa seperti menegaskan kalau dia berkata pada Joseph.


'Aku mengawasi mu pak tua, jangan macam-macam!'


Joseph pun mengernyitkan dahinya, karena memang dia hanya menjalankan pekerjaannya saja. Tidak lebih daripada itu.


Shafa lalu melepaskan pelukannya dari Karina.


"Aku mau mengatakan sesuatu paka kak Karina, tapi hanya berdua!" ucapnya yang langsung melirik ke arah Joseph.


Mengerti dirinya tidak seharusnya berada di tempat itu. Joseph pun langsung melangkahkan kakinya menuju ke arah pintu sambil berkata.


"Aku akan kembali ke ruangan ku!" dan tanpa menunggu jawaban dari Karina ataupun Shafa, Joseph keluar dari ruangan itu.


Langkah Joseph terburu-buru dan wajahnya terlihat tidak senang. Membuat beberapa orang yang berpapasan dengannya memilih tidak menyapanya karena takut Joseph sedang marah. Dan itu memang benar, dia memang sedang kesal, karena pandangan Shafa padanya begitu membuat perasaan nya tidak karuan.


Karina mempersilahkan Shafa untuk duduk.


"Kak Karina tidak bertanya kenapa aku bisa ada di perusahaan ini?" tanya Shafa mengawali perbincangan.


Karina hanya tersenyum dan menjawab.


"Kamu adik pemilik perusahaan ini, kenapa aku harus bertanya kenapa kamu ada di sini? bukankah seperti bertanya kenapa kamu ada di rumah tuan Rizal?" tanya Karina sambil terkekeh pelan.


"Kamu benar kak, ya ampun aku memang kalah jauh darimu!" celetuk Shafa begitu saja.


Tapi Karina malah bingung dengan apa yang barusan di katakan oleh Shafa.


"Maksud mu bagaimana ya?" tanya Karina yang tidak ingin ada kesalahpahaman di antara mereka.


Shafa mengangkat bahunya sekilas.


"Yah, aku hanya mengatakan kalau pikiran mu itu benar. Kamu memang pintar, apa kak Karina juga bisa memasak?" tanya Shafa lagi.


Karina yang tidak menaruh curiga apapun pada Shafa pun menjawab semua pertanyaan Shafa dengan jujur.


"Aku hidup sendirian di kontrakan, tentu harus bisa memasak!" jawab nya terus terang.


'Ya ampun, kenapa dia sempurna sekali sih. Sudah cantik, pekerja keras, mandiri, pintar memasak lagi. Hais, jangan tanya aku bisa masak atau tidak, masak mie instan saja gosong!' Shafa bergumam dalam hati sambil tertawa getir melihat ke arah Karina.


"Sekarang katakan sebenarnya ada apa kamu menemui ku?" tanya Karina penasaran kenapa Shafa mencarinya.


"Begini kak, aku ingin kak Karina menemani ku liburan. Aku merasa sangat bosan di rumah. Aku juga akan ajak kak Sila, pasti menyenangkan kalau kita bisa liburan bersama!" terang Shafa.

__ADS_1


Karina terdiam, Karina berpikir kalau ini pasti tidak sesederhana itu. Sila dan Shafa tidak mungkin pergi tanpa Dave, dan kalau ada Dave, kemungkinan besar juga akan ada Randy. Karina menghela nafasnya panjang.


"Maafkan aku Shafa, tapi aku rasa aku tidak bisa. Pekerjaan ku...!"


Shafa langsung menunduk sedih tanpa membiarkan Karina menyelesaikan perkataannya.


Shafa menghela nafas dengan cepat.


"Padahal aku hanya ingin mengajak kak Karina menemaniku menghabiskan masa skorsing ku. Baiklah kalau tidak bisa!" ucap Shafa yang langsung berdiri dari duduknya.


Karina jadi tidak enak, tapi dia juga tidak mau kalau liburan bersama Randy. Pria itu selalu berusaha menyentuhnya, dan Karina sama sekali tidak menyukai itu. Padahal Randy hanya ingin menyentuh tangan Karina, namun kenangan buruk di masa lalu membuat Karina jadi was-was dekat dengan Randy kalau hanya berdua saja. Saat berangkat dan pulang bersama pun, Karina akan langsung keluar dari mobil kalau sudah tiba di tujuan.


"Shafa maaf, tapi kenapa kamu di skorsing?" tanya Karina penasaran.


"Tidak apa-apa, aku hanya memberi pelajaran pada seorang karyawati yang menghina..! sudahlah! aku akan kembali ke ruangan ku!" ucap Shafa yang langsung pergi dari ruangan Shafa.


Karina merasa tidak enak, tapi semua juga sudah terlanjut. Jadi dia memilih melanjutkan pekerjaannya.


Tapi jangan di pikir Shafa sudah menyerah ya. Dia lalu pergi mencari Anita, di dalam ruang sekertaris saat Anita dan Joseph bekerja di meja mereka masing-masing. Shafa menghampiri Anita.


"Hei Anita, ikut aku sebentar!" ajak Shafa yang menarik lengan Anita agar mengikutinya.


Joseph hanya bisa mengernyit bingung dengan kelakuan Shafa. Dalam pikiran Joseph, Shafa sepertinya ingin menjauhkan semua wanita dari sisinya.


Shafa mengajak Anita ke ruangan Karina, sepanjang jalan dia menjelaskan apa yang harus dia lakukan.


"Wah, nona rencana mu ekslusif sekali!" puji Anita yang memang ingin mengambil hati Shafa yang menjanjikan oleh-oleh untuk Anita kalau dia berhasil.


"Ck... jangan memujiku, kalau gagal akan ku minta kak Dave memotong gaji mu!" ucap Shafa.


Anita langsung cemberut.


"Jangan dong nona!" pintanya.


"Karena itu lakukan dengan benar!" sahut Shafa.


Anita pun mengangguk, sesuai yang dikatakan oleh Shafa. Anita harus pergi menemui Karina di ruangannya sementara Shafa akan menunggu di ruang sekertaris. Shafa pun kembali ke ruang sekertaris setelah mengatur rencana dengan Anita.


Begitu dia masuk ke ruangannya. Joseph terus menatapnya heran. Sementara Shafa yang harap-harap cemas rencananya akan berhasil pun tidak memperhatikan Joseph yang sedang mengawasinya.


Shafa duduk di kursinya lalu kembali membaca dokumen yang ada di mejanya dengan serius, saat dia menoleh ke arah Joseph. Pria yang sejak tadi memperhatikan nya itu langsung berpaling melihat ke arah layar laptopnya.


"Ck... pak tua. Aku tahu sejak tadi kamu memandangiku!" celetuk Shafa yang membuat Joseph langsung menutup akses pandangannya ke Shafa dengan memindahkan laptopnya hingga menutupi akses pandangan Shafa padanya.

__ADS_1


Bukannya kesal, Shafa malah terkekeh melihat tingkah Joseph yang tidak biasa itu.


Sementara itu Anita yang telah tiba di ruangan Karina langsung berseru.


"Karina, dimana nona Shafa. Tadi dia bilang mau ke ruangan mu?" tanya Anita yang melihat ke sana sini, menyempurnakan aktingnya.


Karina langsung berdiri dari duduknya.


"Tadi dia di sini, tapi sudah keluar. Apa ada masalah?" tanya Karina.


Anita langsung mendekat ke arah meja kerja Karina.


"Apa kamu tahu, dia itu baru saja di skorsing!" jelas Anita.


Karina mengangguk.


"Iya dia bilang, tapi kenapa dia di skorsing?" tanya Karina.


"Eh apa kamu tidak tahu, itu karena kamu!" ujar Anita dengan ekspresi tak bisa deskripsi kan sangking menghayati perannya.


"Karena aku?" tanya Karina bingung.


"Iya, dia di skorsing 3 hari oleh tuan Dave karena telah membelamu yang dikatai mata duit4n oleh salah seorang karyawati bagian penjualan, dia adu mulut bahkan adu jambak dengan karyawati itu karena tidak terima karyawati itu menghina mu!" jelas Anita.


Karina jadi merasa sangat bersalah pada Shafa.


'Ya ampun, dia di skorsing karena membela ku. Dan saat dia minta di temani liburan aku malah menolaknya. Bodoh sekali aku ini!' batin Karina menyesal sudah menolak permintaan Shafa.


Dengan perasaan amat bersalah, Karina langsung bertanya pada Anita.


"Anita, dimana ruangan Shafa?" tanya Karina.


"Di ruang sekertaris, bersamaku. Apa mungkin dia sudah kembali ke...?" tanya Anita.


Namun sebelum Anita selesai dengan pertanyaan nya itu, Karina sudah keluar dari ruangannya dengan tergesa-gesa.


Anita langsung menekuk tangannya.


"Yes, aku berhasil. Aku akan dapat hadiah dari nona Shafa!" gumam Anita senang.


***


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2