Ketika Yang Kucintai Berkhianat

Ketika Yang Kucintai Berkhianat
KYKB 249


__ADS_3

Sementara di tempat lain, Sila sedang menjemput Mika bersama dengan Oman. Tapi ketika dia sedang menunggu di tempat biasa, dimana dia menunggu dengan para wali murid yang lain. Seorang ibu-ibu yang sedang melihat layar ponselnya tiba-tiba langsung berteriak mengagetkan semua yang sedang menunggu di sana.


"Ya Tuhan! dia bunuh diri!" seru wanita yang biasa di panggil mama Intan itu. Karena anak ibu itu namanya Intan.


Mendengar kalimat seperti itu, tentu saja ibu-ibu yang lain yang duduk di dekat mama Intan itu terkejut dan langsung mendekat ke arahnya bahkan ada yang berdiri di belakangnya melihat apa yang sedang dia lihat di layar ponselnya.


"Siapa yang bunuh diri mama Intan?" tanya salah seorang ibu berambut pirang.


"Ini model terkenal, dia tewas bunuh diri di kamar apartemennya. Ya ampun, kasihan banget!" jawab mama Intan.


Mendengar kata model terkenal. Sila pun menjadi penasaran.


"Ya ampun, itukan Catherine Retz itu kan!" ujar salah seorang ibu berambut pirang yang berdiri di belakang mama Intan.


Dia bahkan langsung menutup mulutnya sangking tak percaya mendengar kabar itu. Mendengar nama yang disebutkan wanita itu, Sila terkejut bukan main.


'Catherine Rezt bukankah itu model yang menyukai mas Dave, bukankah dia wanita itu!' batin Sila begitu gusar.


Sila juga langsung meraih ponselnya dan mencari kabar itu dengan mengetik di pencarian internet nya nama Catherine Retz.


Dan setelah nama itu di ketik, benar saja. Foto cantik Chaterine Retz di hiasi dengan rangkaian bunga berbentuk bundar dan ada tulisan di bawahnya Rest In Peace Catherine Retz.


Sila juga langsung membaca artikel yang tertulis di bawahnya. Dimana saat ini model cantik itu sedang di semayamkan di rumah duka menunggu sang kakak Edgar Retz kembali dari luar negeri. Sila sampai meneteskan air mata dari sudut matanya, setelah membaca artikel kalau Catherine meninggal dunia karena bunuh diri. Dia bahkan meninggalkan sepucuk surat untuk seseorang yang sangat dia sayangi namun tak dapat dia gapai.


Tulisan tangan Catherine itu di zoom oleh Sila. Sangat sedih begitu dia membaca tulisan itu.


"Aku sudah berusaha melupakan mu, tapi aku tidak mampu. Aku tidak mampu"


Begitulah tulisan itu, dan yang membuat Sila semakin tak karuan perasaannya adalah ada inisial D di bawah kertas itu.


'Apakah maksudnya mas Dave, apa dia bunuh diri karena mas Dave?' tanya Sila dalam hatinya.

__ADS_1


Melihat Sila menangis, teman di sebelahnya pun bertanya.


"Mama Mika, ada apa? apa kamu sakit?" tanya salah satu ibu dari teman anaknya itu.


Sila baru menyadari kalau dirinya menangis. Tidak ingin membuat pertanyaan dari ibu-ibu yang lain, Sila segera menyeka air matanya.


"Em, iya aku minta tolong ya mama Cindy, kalau Mika dan pengasuhnya keluar. Katakan padanya aku menunggu di mobil ya!" ucap Sila meminta tolong pada mama Cindy.


Mama Cindy pun langsung mengangguk paham.


"Iya, mama Mika istirahat saja di mobil. Nanti aku kasih tahu sama mbak Iyahnya!" jawabnya membuat Sila tersenyum lalu meninggalkan tempat itu menuju ke mobilnya.


Oman yang melihat Sila seperti habis menangis langsung bertanya sambil membukakan pintu.


"Ada apa nyonya? nyonya baik-baik saja? apa perlu kita ke rumah sakit?" tanya Oman yang mencemaskan Sila.


Sila langsung masuk dan duduk di dalam mobil.


"Jadwal tuan Dave ini meeting dengan perusahaan Y nyonya!" jawab Oman dengan cepat.


"Oman... Catherine, dia bunuh diri!" ucap Sila dengan mata kembali berkaca-kaca.


Oman pun langsung meraih ponselnya lalu segera menghubungi Roy, agar mencari tahu tentang kabar itu.


"Nyonya tenanglah!" ucap Oman setelah menghubungi Roy.


"Ada inisial D, di surat yang di tinggalkan Chaterine. Di kantor sebelumnya Catherine juga bilang dia sangat mencintai mas Dave. Bagaimana kalau dia benar-benar bunuh diri karena mas Dave?" tanya Sila yang kembali menitikan air matanya.


"Nyonya tenang saja, inisial D itu juga tidak akan langsung menunjukkan kalau itu tuan Dave. Nyonya tenanglah, tuan tidak akan apa-apa. Ini kasus bunuh diri, tuan tidak akan apa-apa!" ucap Oman mencoba membuat Sila tenang.


Tapi Sila sama sekali tidak bisa tenang. Dia takut sekali kalau Dave sampai terkena masalah karena hal ini. Di sana, di surat itu jelas tertulis inisial D, semua orang juga tahu kalau beberapa bulan yang lalu, Chaterine Retz memang dekat dengan Dave. Meski itu hanya urusan bisnis. Tapi Sila benar-benar merasa khawatir akan hal itu.

__ADS_1


Dia sudah banyak mendengar berita yang sebenarnya hanya berita kecil, namun para netizen yang jemarinya begitu luar biasa menjadikan berita itu seperti bom yang besar. Sila benar-benar mencemaskan Dave. Belum lagi keluarga Chaterine yang pastinya tidak akan diam saja. Begitu banyak hal yang Sila cemaskan hingga lama-lama rasanya perutnya terasa sakit.


Melihat Sila meringis kesakitan, Oman pun panik.


"Nyonya, aku akan bawa nyonya ke rumah sakit sekarang ya?" tanya Oman yang langsung masuk ke dalam mobil.


"Oman, telepon Diah. Dan minta agar dia jangan kemana-mana. Setelah mengantar ku ke rumah sakit. Kembalilah dan jemput Mika dan Diah!" seru Sila sambil menahan rasa sakit di perutnya yang makin menjadi.


"Baik nyonya!" jawab Oman.


Dengan cepat Oman mengemudikan mobil menuju ke rumah sakit terdekat. Oman juga mengabarkan hal ini pada Joseph, karena teleponnya tidak kunjung di angkat karena mungkin Joseph dan Dave sedang meeting. Oman pun menyampaikan pesan kalau Sila ada di ruang sakit Kasih Bunda.


Oman segera kembali ke sekolah Mika, karena Sila bersikeras agar Oman cepat kembali ke sana karena seharusnya Mika memang sudah pulang.


Setelah di periksa oleh dokter. Dan rasa sakit di perut Sila mulai sedikit berkurang. Sila pun di beri minum oleh seorang suster.


"Bagaimana dok, kandungan saya baik-baik saja kan dok?" tanya cemas.


"Begini Bu Sila, trimester kedua memang sudah mulai kuat, tapi tetap saja anda tidak boleh terlalu stress. Urat syaraf anda yang menegang, akan menarik beberapa urat syaraf yang terhubung pada janin. Jadi kalau anda stress, panik, janin anda akan merasakan nya dan terpengaruh. Untuk saat ini sebaiknya jangan berdiri atau berjalan dulu ya Bu Sila, paling tidak untuk lima jam ke depan. Jadi sebaiknya Bu Sila tetap di sini lima jam ke depan. Setelah pulang juga Bu Sila paling tidak harus istirahat total ya Bu, jangan lakukan pekerjaan berat atau memikirkan hal yang berat, ya Bu!" terang dokter wanita itu panjang lebar.


Sila pun mengangguk paham.


"Iya dok terimakasih!" ucapnya.


Setelah dokter wanita itu pergi, Sila kembali terdiam dan mengelus perutnya.


"Sayang, maaf ya. Karena mama terlalu takut sesuatu terjadi pada daddy-mu kamu juga jadi ikut cemas. Kita doakan sama-sama ya nak, semoga daddy-mu benar-benar tidak akan terkena masalah apapun karena hal itu!" gumam Sila pelan.


Meskipun dia berkata seperti itu, tapi masih bisa terlihat dengan jelas raut khawatir di wajah wanita yang tiga bulan lagi berusia 26 tahun itu.


***

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2