
Kini semua orang sedang menyaksikan pasangan pengantin baru yang ada di lantai dansa. Iringan musik jazz juga lighting yang di tata dengan sedemikian rupa. Membuat suasana begitu romantis di tempat itu.
Randy memeluk pinggang Karina dan Karina mengalungkan tangannya di belakang leher Randy. Sejak tadi senyuman bahagia benar-benar tak luntur dari wajah Randy.
"Istriku, rasanya seperti mimpi. Tapi terimakasih Karina, kamu sudah mau memberikan aku kesempatan untuk berubah dan memberiku kesempatan untuk membuktikan padamu, kalau aku akan sangat mencintai mu melebihi siapapun di dunia ini!" ucap Randy pelan.
Karina hanya menundukkan kepalanya. Sesungguhnya dia merasa agak canggung. Dia belum pernah menjadi sorotan begitu banyak pasang mata seperti ini.
Setelah beberapa menit hanya milik pasangan pengantin baru. Pembawa acara pun mulai mempersilahkan para tamu dan keluarga untuk berdansa bersama. Beberapa pria yang sangat mencintai para istrinya juga turun ke lantai dansa. Termasuk Bima dan Niken.
Tapi saat Sila ingin mengajak Dave, suaminya itu malah menolak.
"Mas, kenapa?" tanya Sila bingung.
"Sayang kamu sedang hamil, aku tidak mau kamu sampai kenapa-napa. Lagipula kamu sudah lelah dari kemarin sibuk mengikuti prosesi ini itu, kita lihat saja mereka berdansa!" jelas Dave.
Sila malah semakin cemberut. Dave langsung merangkul pinggang sang istri dan berbisik padanya.
"Sayang, kita bisa berdansa di kamar saja nanti malam!" bisik Dave membuat Sila merinding.
Sila langsung menjauh dari suaminya. Lalu memutuskan untuk mengambil minum saja di meja yang memang menyajikan banyak sekali berbagai macam minuman.
Tapi saat Sila sedang mengambil minum. Dia mendengar Davina bicara pada sang suami yang juga adalah ayah mertuanya.
"Jadi kamu gagal lagi kan, sudahlah istriku, sayangku, Davina. Berhenti menjadi Mak comblang. Anak-anak jaman sekarang bukan lagi di jaman kita dulu. Aku saja dulu tidak mau di jodohkan, aku malah memilih wanita pilihan ku sendiri, dan lihat kan. Sampai sekarang aku bahagia bersamamu. Dengan ketiga anak-anak kita!" sahut Rizal.
"Mas, ini kan berbeda. Rebecca itu bukan wanita yang baik untukmu. Dia bahkan memamerkan pacarnya di depanku saat dia masih jadi tunangan mu. Dia pikir aku ini lemah dan bodoh, akan diam saja saat dia berbuat itu padamu. Tanpa bukti aku akan mengadu padamu, dan dia akan membuatku malu. Saat itu aku merekamnya dan menunjukkan padamu, aku pintar kan?" tanya Davina.
Rizal langsung merangkul Davina dan mencium pipinya. Meski sudah memiliki usia yang tidak lagi muda. Namun Rizal masihlah Rizal Hendrawan yang dulu. Masih sangat romantis dan menyayangi Davina sepenuh hatinya.
__ADS_1
"Kamu memang pintar. Karena itu aku sangat mencintaimu!" ucap Rizal membuat Sila yang tidak sengaja mendengarnya menjadi malu sendiri.
Setelah meraih satu gelas jus jeruk, Sila baru saja ingin beranjak dari sana. Tapi langkahnya terhenti saat mendengar ucapan Davina.
"Tapi kali ini aku yakin akan berhasil mas!" ucap Davina yang langsung membuat langkah Sila terhenti dan kembali menyimak, mendengarkan apa yang selanjutnya akan Davina katakan.
"Apa maksudmu?" tanya Rizal.
"Aku mau menjodohkan Shafa dan Jimmy!" ucap Davina.
Gelas yang ada di tangan Sila itu hampir saja terlepas dari tangannya karena apa yang baru saja dia dengar.
'Astaga, ibu mulai lagi!' batin Sila jengah.
"Yang benar saja, mereka itu berteman sejak kecil. Sudahlah Davina, ini tidak akan berhasil!" bantah Rizal.
"Mas, dengarkan aku. Jimmy itu sangat menurut pada Dave, dia tidak akan menolak apapun permintaan Dave. Dan lagi, Shafa juga sudah harus move on. Kedua kakaknya sudah menikah, aku tidak mau dia sampai berlarut-larut dalam kesendirian. Akan sangat menyenangkan kalau kita berbesanan dengan keluarga Jimmy bukan?" tanya Davina.
Sila langsung menghela nafasnya panjang. Benar apa yang dikatakan oleh Davina. Jimmy itu sangat penurut pada Dave.
Sila jadi cemas, karena setahunya Shafa mencintai Joseph. Karina juga mengatakan padanya kalau Shafa takut terjadi apa-apa pada ayah dan ibunya kalau terkejut mendengar berita itu. Tapi Sila berpikir, kalau seperti ini dan kalau hubungan Shafa dan Joseph tidak segera ada yang mengetahuinya selain Sila dan Karina. Maka persoalan akan semakin rumit nanti jadinya.
Tidak akan baik bagi dua keluarga, keluarga Hendrawan dan juga keluarga Jimmy kalau sampai perjodohan ini benar-benar terjadi tanpa cinta.
Sila kembali meletakkan gelas yang ada di tangannya ke atas meja. Hausnya mendadak hilang. Mau mengatakan hal ini pada Karina dan mendiskusikan nya dengan Karina juga tidak mungkin. Karena Karina sedang bersama Randy di lantai dansa.
Sila pun berpikir dengan cepat. Bukankah ini waktu yang tepat. Semua orang ada di sini. Sila pun kemudian menghampiri Joseph yang hanya duduk sambil melihat pasangan-pasangan lain yang sedang berdansa.
"Joseph, ikut aku!" ucap Sila.
__ADS_1
Joseph sedikit terkejut, tapi kemudian dia berdiri dan mengikuti Sila.
Di belakang sebuah dinding, Sila mengatakan semua yang dia dengar tadi pada Joseph. Tentang Davina yang akan menjodohkan Shafa dengan Jimmy.
Mendengar itu, Joseph hanya bisa menyandarkan punggungnya di dinding. Melihat respon Joseph yang seperti itu, Sila jadi gemas.
"Kalau kamu mang mencintai Shafa maka katakan pada ayah dan ibu mertua, Jo. Jangan sampai membuat semua orang tidak menyadari ini, dan melakukan kesalahan dengan memisahkan kalian karena mereka tidak tahu kalian saling mencintai!" ucap Sila sedikit emosional.
"Nyonya muda, tidak semudah itu... kedua orang tuanya menjodohkannya berarti mereka ingin jodoh terbaik untuk Shafa. Mungkin memang bukan aku...!"
"Diam!" pekik Sila membentak Joseph.
Sila sampai mengepalkan kedua tangannya sendiri di depan wajahnya.
"Uh, aku gemas sekali padamu. Kamu ini pria kan. Mau di terima atau tidak, mau mereka bilang pantas atau tidak, bagaimana kamu tahu kalau kamu tidak mengatakannya pada mereka!"
Sila benar-benar gemas bukan main pada Joseph dan Shafa yang masih main kucing-kucingan terus menerus.
"Aku hanya pengawal nyonya muda...!"
"Aku juga janda dengan satu anak, Jo!" sela Sila lagi bahkan sekarang Sila sudah melipat tangannya di depan dadanya.
Joseph terdiam.
"Memang awalnya reaksi ibu Davina kecewa, tapi akhirnya mas Dave bisa meyakinkannya bukan? ayolah Jo, katakan saja pada ayah dan ibu mertua, nanti Shafa pasti bisa meyakinkan mereka seperti mas Dave meyakinkan mereka dulu untuk menerimaku bahkan menerima Mika!" ucap Sila.
Sila benar-benar ingin Joseph mengatakan tentang hubungannya dengan Shafa saat ini juga. Dia tidak mau sampai Davina nanti keburu mengumumkan perjodohan Shafa dan Jimmy di depan semua orang. Saat itu terjadi, semuanya pasti sudah terlambat.
***
__ADS_1
Bersambung...