Ketika Yang Kucintai Berkhianat

Ketika Yang Kucintai Berkhianat
KYKB 204


__ADS_3

Selama kurang dari satu jam menaiki speed boat, mereka pun tiba di tepi dermaga sebuah pulau yang luasnya tidak terlalu besar namun banyak sekali pepohonan dan juga berbagai bangunan seperti gazebo dan sebuah paviliun yang indah terlihat dari tepi dermaga.


Dua orang penjaga paviliun yang tahu kalau tuan mereka datang pun sengaja menunggu di dermaga untuk membantu tuan mereka membawakan barang-barang yang di bawa Randy dan Shafa.


"Selamat datang tuan, nona!" sapa Lukman dan Agus.


"Apa kabar kalian, bagaimana kabar bibi Hasnah?" tanya Shafa.


Kedua penjaga itu adalah anak dari Hasnah, orang yang di tugaskan menjaga pulau ini dan juga membersihkan paviliun di sini.


"Kabar kami baik, ibu sedang menyiapkan makanan untuk tuan dan nona!" jelas Agus anak sulung Hasnah.


Shafa pun mengangguk paham. Rencana Shafa memang akan liburan ala camping. Tapi karena keadaan Karina sepertinya sangat tidak memungkinkan berada di luar ruangan di malam hari, karena dia sedang tidak enak badan karena mabuk laut. Randy merubah rencana Shafa itu. Mereka akan tinggal di paviliun.


Dengan sepeda motor yang di rancang khusus dengan roda tiga. Mereka pun bergegas ke paviliun. Cuaca juga ternyata sangat tidak mendukung. Langit pagi menjelang siang itu malah mendung.


Setibanya di paviliun, Randy langsung mengantarkan Karina ke kamarnya untuk istirahat.


"Ini kamar mu, apa perut mu masih tidak nyaman?" tanya Randy cemas melihat wajah Karina yang sedikit pucat.


"Aku minta maaf ya, karena aku rencana Shafa jadi berantakan. Aku juga malah merepotkan mu!" ucap Karina merasa bersalah.


Sebelumnya dia memang tidak pernah naik kapal atau semacamnya, dia sampai tidak tahu kalau dirinya akan mabuk laut seperti itu.


Randy langsung berjongkok di depan Karina sambil menggenggam kedua tangan Karina. Wajah Karina kembali memerah saat pandangannya bertemu dengan Randy.


"Jangan bicara begitu, kamu sama sekali tidak merusak rencana apapun. Kalau aku boleh jujur, aku sebenarnya lebih suka tinggal di paviliun saja. Aku bahkan tidak pernah membangun tenda, aku takut malah menjadi bahan tertawaan nanti!" ucap jujur Randy sambil menggaruk belakang kepalanya.


Karina terkekeh kecil.


"Benarkah?" tanya Karina.


Randy pun mengangguk yakin.


"Iya, jadi secara tidak langsung mabuk laut mu ini justru menyelamatkan aku dari rasa malu!" tambah Randy.


Karina yang fokus pada ucapan Randy bahkan tidak menyadari kalau sejak tadi itu tangan Randy masih memegang tangannya.


Randy senang Karina tidak menepis tangannya, dia pun mengangkat satu tangannya dan mengusap lembut kepala Karina.


"Kamu istirahat lah dulu, aku akan buatkan teh manis hangat untukmu!" ucap Randy.


Karina pun mengangguk setuju. Randy perlahan bangkit dan memberanikan dirinya untuk lebih mendekat ke arah Karina.


"Apa aku boleh mencium kening mu?" tanya Randy pelan.


Mendengar permintaan Randy itu, Karina langsung menarik tangannya dari genggaman Randy.


"Em.. maaf, tapi...!" Karina sedang mencari kata yang baik untuk menolak Randy.

__ADS_1


Tapi seperti sudah mengerti akan maksud Karina, Randy pun segera menjauh dari Karina.


"Baiklah, tidak apa-apa. Aku akan buatkan teh manis untukmu sekarang. Aku keluar dulu!" ucap Randy lalu keluar dari kamar Karina.


Pandangan Karina terus mengarah ke arah pintu yang tidak tertutup, dimana Randy tadi baru saja keluar.


'Aku belum bisa memberi mu ijin itu Randy, aku belum yakin pada perasaan ku!' batin Karina.


Sementara itu, Shafa yang memilih kamar di lantai dua di bantu oleh Lukman mengangkat barang-barang nya.


"Nona, apa kamu akan camping. Tenda-tenda ini untuk camping kan?" tanya Lukman yang memang seumuran dengan Shafa.


"Tadinya begitu, eh kakak ipar ku mabuk laut. Bisa di kutuk jadi Kendal Jenner aku kalau masih memaksakan camping sama kak Randy nanti!" jawab Shafa sambil bercanda.


Lukman pun terkekeh.


"Nona ada ada saja, suami nona tidak ikut?" tanya Lukman membuat Shafa yang sedang membongkar isi tasnya langsung terdiam.


"Tidak Lukman, dia sedang sibuk. Oh ya, bagaimana kabar istri dan anakmu?" tanya Shafa mengalihkan topik pembicaraan.


"Baik nona mereka ada di rumah, kami tinggal di paviliun belakang! ini semua sudah saya bawakan. Saya permisi dulu nona!" ucap Lukman yang akan melanjutkan pekerjaannya yang lain.


"Baiklah, terimakasih!" sahut Shafa tanpa melihat ke arah pintu.


Joseph yang berniat mengambil barangnya yang terbawa oleh Lukman ke kamar Shafa pun mengetuk pintu.


"Lukman, ada apa lagi...!" Shafa tertegun melihat yang ada di depan pintu kamarnya ternyata Joseph bukan Lukman.


"Nona, aku mau ambil tas ku. Tadi kata Agus, di bawa Lukman ke kamarmu?" tanya Joseph.


Shafa yang memang melihat tas Joseph langsung berjalan ke arah tas Joseph itu dan meraihnya lalu memberikannya pada Joseph.


"Ini, kamar mu yang mana?" tanya Joseph.


"Di sebelah kamar mu nona! ada apa?" tanya Joseph.


Shafa mengangguk paham, dia merasa memang seharusnya Joseph di sana agar yang berada di kamar yang ada di lantai satu itu Karina dan Randy saja. Akan lebih banyak kesempatan untuk Randy menunjukkan perhatian pada Karina.


Melihat Shafa tidak menjawab pertanyaan nya, dan malah bengong di depan Joseph. Joseph pun memanggil Shafa.


"Nona.. nona!"


"Eh, ada apa pak tua?" tanya Shafa yang terkejut dan baru tersadar dari lamunannya.


"Nona melamun, ada apa?" tanya Joseph.


"Tidak ada, Jo. Bagaimana kalau kita pergi memancing!" ajak Shafa yang ingin membiarkan Randy dan Karina berdua saja di paviliun ini.


Joseph hanya mengangguk. Shafa lalu meraih peralatan memancing dan menarik tangan Joseph keluar dari kamarnya. Joseph tidak menolak dan hanya mengikuti langkah Shafa.

__ADS_1


Saat akan keluar paviliun, Randy yang membawakan teh menuju kamar Karina memanggil Shafa.


"Shafa, mau kemana?" tanya Randy.


"Memancing kak, ke pantai!" jawab Shafa seraya berlalu.


Sepanjang jalan menuju pantai Shafa terus menarik tangan Joseph. Jika biasanya Joseph akan menepisnya, kali ini dia hanya diam saja.


Setelah sampai di pantai, Shafa baru melepaskan tangan Joseph. Dia lalu memberikan satu alat pancing pada Joseph, dan satu lagi dia pegang.


"Sekarang ajari aku, bagaimana cara memancing?" tanya Shafa.


"Bukankah kamu ahlinya nona!" sahut Joseph menyindir Shafa.


Mendengar jawaban Joseph, Shafa mendengus kesal. Dia naik ke papan kayu dermaga, lalu berkata.


"Ya sudah kalau tidak mau mengajariku, memangnya apa susahnya memancing, aku lihat di televisi anak umur 7 tahun juga pandai melakukannya!" kesal Shafa yang langsung melemparkan tali pancing ke arah laut.


Hingga sepuluh menit kemudian, Shafa mulai bosan karena tidak ada satu ekor pun ikan yang memakan umpan di ujung tali pancingnya.


Shafa pun melirik ke arah Joseph yang sejak tadi duduk diam sambil bersandar di tiang pembatas dermaga sambil memejamkan matanya.


'Hais, dia malah tidur lagi. Menyebalkan!' batin Shafa kesal.


"Akan ku kerjai dia!" gumam Shafa.


Shafa lalu berdiri dan menghampiri Joseph perlahan. Setelah sangat dekat dengan Joseph dia berjongkok di samping Joseph. Niat Shafa adalah ingin berteriak di telinga Joseph untuk mengagetkan nya.


Shafa sudah meletakkan kedua telapak tangannya di dekat mulutnya, persis di sebelah telinga kiri Joseph.


"Rampokkkkk!!!!!!" teriak Shafa di telinga Joseph.


Joseph refleks membuka matanya dan langsung menarik tubuh Shafa lalu menindihnya dengan kedua tangan Shafa yang dia tekan di belakang punggung nya.


"Aughkk!" pekik Shafa kesakitan karena bantingan Joseph padanya.


Mata Joseph langsung melebar, karena posisinya dia benar-benar ada di atas tubuh Shafa.


Deg deg deg


Dengan cepat Joseph melepaskan tangan Shafa.


"Nona, aku minta maaf. Apa kamu baik-baik saja?" tanya Joseph cemas karena dia tadi cukup kasar pada Shafa.


"Kenapa nona berteriak rampok! aku pikir benar-benar ada rampok! aku minta maaf nona!" ucap Joseph sangat menyesali perbuatannya.


"Memangnya aku harus teriak apa? aku mencintai mu, begitu?" tanya Shafa dengan wajah cemberut sambil mengusap-usap tangannya yang terasa sakit.


***

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2