Ketika Yang Kucintai Berkhianat

Ketika Yang Kucintai Berkhianat
KYKB 190


__ADS_3

Dave yang mendengar permintaan sang ibu langsung menggelengkan kepalanya dengan cepat.


"Tidak bisa Bu, kami para pria yang di pegang itu janjinya!" ucap Dave memberi alasan tidak mau membatalkan taruhannya dengan Randy.


Padahal selain alasan yang dia ucapkan tadi, sebenarnya dia juga tidak ingin Sila marah padanya karena mendukung keluarganya, apalagi ibunya yang mendesak Karina untuk menerima lamaran Randy.


'Kalau Karina menikah karena sudah cinta pada Randy, hubungan ku dengan istri tercinta ku akan baik-baik saja. Tapi kalau Karina terpaksa menikahi Randy, bisa-bisa Sila marah dan kami bisa pisah ranjang beberapa waktu. Itu mengerikan, masa' ada istri yang cantik aku peluk guling tiap malam. Itu sungguh mengerikan!' batin Dave.


Mendengar jawaban Dave, Davina mendengus kesal. Sementara Rizal malah terkekeh.


"Dave benar Bu, pria itu yang di pegang janjinya. Percayalah pada Randy, Bu. Ayah rasa pengalaman nya selama beberapa tahun ini harusnya bisa berguna!" sahut Rizal.


Davina malah berdecak kesal kembali.


"Ck... itu akan berguna untuk wanita komersil dan matre, mana bisa dipakai untuk menaklukkan wanita baik dan pekerja keras seperti Karina. Ya ampun, Randy... kamu ini ada-ada saja. Pokoknya kalau dua minggu lagi kamu gagal, ibu akan mencoret mu dari kartu keluarga. Astaga! bikin pusing saja. Aku sudah susah payah membujuk Karina, dia malah mengacaukan segalanya...!" Davina terus mengomel sambil meninggalkan ruang tamu dan memilih masuk ke kamarnya.


Randy pun hanya bisa mengusap wajahnya kasar.


"Ck... Dave, pagi-pagi kedatangan mu sudah membuat ibu ku ceramah. Pusing kepala ku!" protes Randy.


"Bagaimana kabar pencarian Vincent?" tanya Rizal membuat kedua anak laki-lakinya langsung menoleh bersamaan ke arah Rizal.


"Belum ada perkembangan ayah, tapi Joseph sedang mengawasi sebuah daerah perkampungan nelayan yang belum kita periksa. Sore nanti aku rasa sudah akan ada hasilnya, ada atau tidak Vincent di sana. Kalau tidak ada juga, kemungkinan dia memang sudah ke luar kota sebelum kita jaga ketat terminal, dermaga, bandara dan yang lainnya!" jelas Dave.


Rizal menghela nafasnya panjang.


"Senin adalah hari persidangan. Aku harap kalian cepat menemukan Vincent sebelum hari Senin, agar proses persidangan tidak terlalu berbelit-belit!" seru Rizal.


Dave dan Randy mengangguk paham. Rizal pun meninggalkan rumah untuk pergi ke kantor. Saat Dave akan menemui Shafa dan akan berjalan ke kamar adiknya itu, Randy memanggil Dave.


"Dave!" panggil Randy.


Dave pun menghentikan langkahnya.

__ADS_1


"Ada apa?" tanya Dave.


Randy pun berdiri dari duduknya di sofa, lalu berjalan menghampiri adiknya itu.


"Sebenarnya hubungan ku dengan Karina belum ada perkembangan sama sekali. Dave, istrimu kan teman baiknya. Bisakah kalian sedikit membantu ku?" tanya Randy yang sudah kehabisan ide membujuk Karina.


Karina memang berbeda, bunga, barang-barang mahal tak cukup manjur bagi Randy untuk bisa mendapat perhatiannya.


Dave menaikkan kedua alisnya, sesungguhnya dia juga melihat perubahan besar pada Randy. Sudah hampir sebulan ini Randy sama sekali tidak membuat masalah. Dan dia yakin kalau itu terjadi karena Karina. Dave juga ingin kakaknya jadi Randy yang dulu lagi, yang baik, pekerja keras dan bisa menjadi kakak yang bisa jadi kebanggaan bagi dirinya dan Shafa. Jadi Dave pikir memang tidak ada salahnya untuknya membantu Randy. Toh, tetap saja yang menentukan segalanya berhasil atau tidak adalah tetap usaha Randy sendiri.


"Baiklah, jadi apa yang bisa aku lakukan untukmu?" tanya Dave.


Randy langsung tersenyum mendengar apa yang dikatakan oleh Dave.


"Terimakasih Dave, selama ini aku dan Karina hanya bisa berbincang sebentar saja saat berangkat dan pulang kerja. Dia selalu menolak aku ajak makan di luar, atau sekedar menonton film. Maksudku, jika aku bisa lebih lama bersama dengannya, aku yakin aku bisa meyakinkan nya kalau aku benar-benar serius padanya!" jelas Randy panjang lebar.


"Jadi...?" tanya Dave karena Randy tidak langsung mengatakan apa yang harus dia lakukan untuk membantunya.


"Jadi, bisakah kamu dan Sila membujuk Karina agar kita bisa pergi liburan bersama. Lusa kan hari Sabtu. Kurasa dua hari di pulau pribadi kita akan bisa membuatku lebih dekat dengan Karina!" jelas Randy lagi.


"Mau apa kamu di pulau pribadi? kamu mau bulan madu sebelum menikah?" tanya Dave curiga pada Randy.


Randy pun menghela nafas berat mendengar kecurigaan Dave padanya.


"Tidak Dave, aku hanya ingin bisa mengobrol dengannya lebih lama. Menunjukkan kalau aku bisa di andalkan di tempat itu, disana kan tidak ada fasilitas mewah dan sebagainya. Aku akan tunjukkan perhatian ku padanya, itu saja! lagian aku juga mengajakmu dan Sila kan, mana bisa aku macam-macam pada Karina, dan jujur saja aku juga tidak berniat macam-macam padanya!" terang Randy lagi.


Dave pun mengangguk paham. Lagipula dia juga bisa mengajak Shafa, itu juga bisa jadi hiburan untuknya.


"Baiklah, aku akan bicarakan ini pada Sila!" ucap Dave.


Randy tersenyum senang.


"Baiklah, aku akan pergi ke perusahaan ku. Aku tunggu kabar baik darimu!" ucap Randy yang langsung pergi meninggalkan Dave.

__ADS_1


"Heh, bersikap baik kalau ada maunya saja. Dasar buaya darat, ck... tapi kasihan juga dia!" gumam Dave melihat kepergian Randy dari rumah.


Setelah Randy pergi, Dave pun menuju kamar Shafa. Saat akan membuka pintu kamar Shafa. Pintunya terkunci.


Tok tok tok


"Shafa, bangun! ini sudah siang!" pekik Dave.


Setelah Dave berkata begitu, tak kunjung terdengar jawaban dari dalam kamar Shafa. Dave pun kepikiran pada apa yang dikatakan Sila kemarin, Shafa sedang menangis di atas tempat tidur dan ada pecahan gelas di lantai. Dave yang panik pun langsung kembali mengetuk pintu kamar Shafa, kali ketukan Dave lebih kuat dan tidak beraturan.


Tok tok tok tok tok


"Shafa buka pintunya!" seru Dave dengan suara keras.


Davina yang mendengar Dave berteriak dan mengetuk pintu kamar Shafa dengan kencang pun keluar dari kamarnya dan menghampiri Dave.


"Dave, apa yang kamu lakukan?" tanya Davina.


"Shafa Bu, dia tidak membuka pintunya. Tak ada jawaban dari dalam juga!" kata Dave dengan ekspresi wajah panik.


Davina pun hanya geleng-geleng kepala.


"Makanya kalau mau apa-apa tanya dulu. Shafa tidak ada di kamarnya, dia ada di kolam renang, dia berenang sejak pagi tadi setelah sarapan!" jelas Davina membuat Dave menghembuskan nafas panjang.


"Astaga, kenapa pintunya di kunci?" tanya Dave.


Davina pun mengangkat bahunya sekilas.


"Mana ibu tahu, mungkin dia menyembunyikan harta karun di kamarnya!" jawab Davina lalu pergi meninggalkan Dave dan kembali ke kamarnya karena dia sedang membereskan isi lemari nya.


Dave hanya bisa geleng-geleng kepala saja. Untung saja hanya ibunya, kalau ada Randy juga di sini, pasti Dave akan menjadi bahan ejekannya.


***

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2