
Keesokan harinya, Sila dan juga Karina sudah bersiap-siap akan berangkat kerja. Sila jadi ingat ucapan Karina kemarin kalau perusahaan tempat Karina bekerja sekarang sedang dalam keadaan tidak baik-baik saja. Sila pun sambil membereskan peralatan makan mereka tadi saat sarapan bertanya pada Karina.
"Oh ya, kemarin kamu bilang perusahaan dalam masalah? apa yang terjadi sebenarnya?" tanya Sila sambil merapikan piring yang sudah dia cuci.
Sila juga pernah bekerja di perusahaan itu, dan dia rasa perusahaan itu bisa sangat berkembang. Tapi kenapa malah saat ini bermasalah, dia sungguh penasaran apa yang sebenarnya terjadi pada perusahaan tempat Karina bekerja yang merupakan perusahaan tempat Sila dulu juga bekerja sebelum di pecat secara tidak hormat karena ulah mantan suaminya, Hadi Tama.
Karina yang juga sudah selesai mengelap meja pun menghela nafas berat.
"Semuanya berawal ketika CEO perusahaan itu meninggal lalu perusahaan di pegang oleh anaknya...!"
"Innalilahi wa innailaihi rojiun, Pak Murtam meninggal?" tanya Sila yang tidak mengetahui kabar itu.
Karina pun mengangguk sedih.
"Iya Sila, baru satu minggu yang lalu. Dan apa kamu tahu, anak pak Murtam itu benar-benar pintar sekali menghancurkan perusahaan. Seenaknya dia mengganti semua vendor dan para klien yang sudah bekerja sama dengan kita selama bertahun-tahun menjadi kesal dan memutuskan kontrak begitu saja, lebih parah lagi dia itu sangat genit, dia hanya mendengarkan pegawai pria yang tampan. Menyebalkan!" keluh Karina.
Sila pun menghela nafas dalam, dia mang tidak begitu mengenal anak dari mantan CEO nya itu. Tapi dia mendengar kalau wanita itu selalu tinggal di luar negeri dan mungkin dia hanya kembali ke negeri ini karena ayahnya sudah meninggal untuk mengurus perusahaan. Sila sangat menyayangkan kalau sampai apa yang di katakan oleh Karina itu benar. Perusahaan yang di bangun susah payah oleh sang ayah bertahun-tahun harus hancur di tangan anaknya dalam hitungan hari.
"Sayang sekali ya, kita tahu bagaimana almarhum pak Murtam membuat perusahaan menjadi salah satu perusahaan iklan terbesar di kota ini, sangat di sayangkan!" sesal Sila meskipun dia tidak lagi bekerja di sana. Tapi perusahaan itu telah memberinya pendapatan dan penghidupan yang layak selama kurang lebih lima tahun. Meskipun hasilnya sekarang juga sudah di ambil oleh mantan suaminya.
"Mau bagaimana lagi Sila, aku juga merasa sangat tidak senang. Rasanya aku ingin berhenti saja, kalau aku tidak memikirkan sekolah dua adikku di kampung.. ck..!" keluh Karina lagi.
Melihat sahabatnya itu, Sila sepertinya menangkap kalau Karina sepertinya sangat tidak senang. Sila mengira pasti ada masalah lain yang membuat Karina yang biasanya sangat sabar dan bersemangat untuk bekerja, hari ini begitu kesal dan beberapa kali menghela nafas seperti sangat jengah.
Sila pun mendekati Karina dan menepuk bahu Karina pelan.
__ADS_1
"Ada hal lain yang ingin kamu katakan padaku?" tanya Sila dengan sangat lembut.
Karina melihat ke arah Sila dengan tatapan ragu tapi kemudian dia duduk di kursi yang ada di sebelah meja makan dan mendengus kesal.
"Huh, Sila... kemarin itu sangat menyebalkan. Pacar nona Riyanti ck... dia ..!" Karina menghentikan ucapannya.
Wajah nya terlihat sangat kesal. Bahkan Sila bisa melihat kekesalan Karina karena saat dia menyebut pacar dari bos nya itu tangan Karina mengepal erat di atas meja makan.
Sila pun ikut duduk di depan Karina.
"Katakan Karina, ada apa? kenapa dengan pacar nona Riyanti?" tanya Sila.
"Ck... kemarin dia hampir saja mencium ku!" ungkap Karina dengan mata merah dan berkaca-kaca.
Sila sangat terkejut. Dia bahkan menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi.
"Percuma Sila, apa kamu tahu nona Riyanti begitu tergila-gila padanya. Dia juga orang yang sangat kaya raya. Aku kesal sekali, ingin rasanya aku mencakar wajahnya kemarin." kesal Karina yang menggerakkan tangannya seperti benar-benar akan mencakar seseorang di hadapannya.
Sial terdiam, dia tahu Karina sangat kesal tapi tidak bisa berbuat apa-apa. Karina sangat butuh pekerjaan karena dia adalah tulang punggung keluarga nya. Tapi Sila juga tidak mau kalau Karina bekerja di tempat yang bisa membahayakan dirinya. Bekerja dengan pria seperti itu lama-lama kalau Karina tidak hati-hati, bisa saja pria itu benar-benar berbuat hal tidak baik pada sahabatnya ini.
'Apa aku bisa minta tuan Dave untuk mempekerjakan Karina di perusahaan nya ya? tapi apa bisa ya? apa dia akan mengabulkan permintaan ku ini?' tanya Sila dalam hati.
Sementara Sila sedang berpikir untuk meminta pekerjaan untuk Karina pada Dave. Karina sudah meraih tasnya dan bersiap keluar dari rumah.
"Sila, aku duluan ya. Sudah jangan di pikirkan masalah ku tadi. Aku akan baik-baik saja, aku sudah bawa ini!" ucap Karina sambil mengeluarkan satu buah botol semprotan cabe dari dalam tas nya.
__ADS_1
Sila tersenyum melihat Karina, dia tahu sahabatnya itu sangat mandiri dan berhati-hati.
Setelah Karina pergi, Sila juga meraih tasnya. Saat memasukkan ponsel baru pemberian Dave ke dalam tasnya, dia baru ingat kalau kemarin Dave mengatakan akan menunggu Sila menghubungi nya.
Sila pun menepuk dahinya sendiri.
"Ya ampun, bagaimana ini. Kemarin aku sudah setuju menghubungi tuan Dave. Tapi aku malahan lupa karena sedih menceritakan tentang mas Hadi dan Mika. Bagaimana ini? tuan pasti sangat marah?" gumam Sila yang terlihat sangat panik.
Dia tahu kalau Dave pasti akan menunggunya menghubungi nya. Sila berjalan dengan cepat, dia tahu kalau Dave pasti sudah menunggu nya di luar rumah. Dan benar saja, ketika dia mengunci pintu, dia bisa melihat mobil Dave dan Joseph yang berdiri di samping mobil itu di seberang jalan rumah kontrakan Karina.
"Ya Tuhan, bagaimana ini? tuan Dave pasti akan sangat marah? bantu aku ya Tuhanku!" gumam Sila sepanjang jalan menuju ke arah mobil yang terparkir itu.
Melihat Suka mendekat, Joseph lalu bergegas membukakan pintu mobil.
"Selamat pagi nona!" sapa Joseph dengan sopan.
"Selamat pagi Joseph!" jawab Sila lalu masuk ke dalam mobil.
Joseph pun masuk ke dalam mobil, dan mereka pun meninggalkan tempat itu menuju ke kantor.
Dan benar saja, dari arah sebelah kanannya Sila merasakan aura dingin yang membuat bulu kuduk nya berdiri. Ketika Sila menoleh ke arah Dave, Sila tersentak kaget karena pria itu sedang menatap tajam ke arah Sila dengan wajah yang begitu dingin dan menyeramkan.
'Ya Tuhan, dia benar-benar marah! bagaimana ini?' tanya Sila dalam hati yang melihat ekspresi wajah Dave seperti mau menelan orang.
***
__ADS_1
Bersambung...