
Dave hanya bisa mendengus kesal, sebenarnya dia sudah tidak ingin melihat istrinya terlalu ikut campur lagi dengan urusan mantan suaminya itu atau keluarga dari mantan suaminya itu. Karena Dave merasa urusan mereka juga sudah beres, sudah selesai. Urusan mereka dengan Sila hanya sebatas masalah hak asuh Mika saja, begitu hak asuh Mika sudah Sila dapatkan. Dave merasa kalau seharusnya Sila tidak ada lagi urusan dengan keluarga Hadi Tama.
Tapi Murti terlihat enggan membiarkan Sila untuk pergi.
"Sila, ayah ingin bicara dengan mu!" ucap Murti yang kemudian menyeka air matanya.
Sila sebenarnya tidak enak hati pada Dave, karena demi menemani Sila, sudah dua hari Dave meninggalkan pekerjaan nya. Dia sangat tidak enak pada Dave, tapi kalau dia tidak menuruti permintaan Murti, rasanya dia lebih tidak enak lagi. Karena bisa jadi ini adalah pertemuan terakhir mereka, karena setelah ini Sila tidak akan lagi menemui mereka. Tentu saja, karena sudah tidak ada lagi urusan dengan keluarga Hadi Tama. Kecuali mungkin jika mereka rindu pada Mika dan ingin bertemu dengan cucu mereka itu.
Sila pun menoleh ke arah Dave. Dan suaminya itu pun sangat mengerti kenapa Sila menoleh ke arahnya. Meski dengan berat hati Dave menganggukkan kepalanya, sebagai isyarat kalau dia setuju kalau Sila ingin bertemu dengan Haris.
Setelah mendapatkan persetujuan dan ijin dari Dave, Sila pun pergi bersama dengan Murti menemui Haris.
"Jo, awasi nyonya mu!" ucap Dave yang segera meraih ponselnya dan menghubungi seseorang.
Sebenarnya saat Dave di telepon okeh klien tadi, sedang terjadi sedikit masalah di perusahaan. Tapi demi tidak membuat Sila cemas, Dave tidak memberitahu tentang hal itu pada Sila.
Joseph lalu mengangguk dan mengikuti Sila juga ibu Murti sementara Dave pergi ke arah teras rumah sakit dan menghubungi kliennya lagi.
Setelah tiba di ruangan Haris yang sudah di pindah ke ruang rawat. Sila berjalan perlahan masuk ke ruangan itu. Dia di tuntun Murti untuk mendekat ke arah ranjang pasien harus yang masih terbaring dengan bantuan selang oksigen di hidungnya dan juga infus di tangan kirinya. Dengan mata berkaca-kaca Haris yang sudah melihat kedatangan Sila langsung melambaikan tangan dan memanggil nama Sila.
"Sila, nak!" lirih Haris.
Sila tidak bisa menutupi kesedihannya melihat kondisi Haris. Bagaimana pun juga Harus sudah lima tahun menjadi ayah mertuanya, kebaikan Haris pada Sila bahkan seperti seorang ayah pada anak kandungnya.
Sila mendekat dan tersenyum pada Haris.
"Bagaimana keadaan pak Haris?" tanya Sila sambil tersenyum meski matanya berkaca-kaca.
__ADS_1
"Bolehkah panggil ayah nak?" tanya Haris yang memang sudah menganggap Sila sebagai putrinya sendiri.
Bagaimana pun Haris juga tidak lupa kalau perubahan ekonomi keluarga nya juga tidak lepas dari bantuan Sila. Kalau Sila tidak membantu biaya kuliah Hadi, tidak mungkin Hadi seperti sekarang ini. Dan sejak awal ketika Hadi menceraikan Sila dengan alasan Sila berselingkuh, Haris juga tidak sepenuhnya percaya pada anaknya itu, karena dia cukup mengenal Sila. Makanya saat semua orang bersikap kasar dan menghina Sila, Haris tidak melakukan hal yang sama dengan mereka. Haris tetap percaya pada Sila. Dan terbukti, firasat nya itu benar. Sila memang tidak bersalah dan putranya itu yang bersalah.
"Ayah!" ucap Sila membuat Haris dan juga Murti menangis.
Mereka benar-benar sangat menyesal telah percaya pada Hadi, mereka menyesal karena mendidik anak bodoh seperti Hadi yang melepaskan sebuah berlian seperti Sila demi wanita yang bahkan tidak tahu malu seperti Susan. Dia yang sudah jadi pelakor tapi masih bersikap sok suci dan malah menjelekkan Sila terus di depan Murti dan juga Haris.
"Ayah minta maaf ya nak, ayah tidak bisa mendidik anak dengan baik. Hingga dia menyakitimu sampai seperti ini!" lirih Haris dengan nafas yang sesekali seperti tersendat.
Sila lalu menggelengkan kepalanya dengan cepat.
"Ayah jangan bilang begitu, semua bukan salah ayah. Semua sudah takdir. Aku tidak pernah menyalahkan siapapun atas apa yang terjadi padaku. Semua sudah di gariskan sebelum terjadi. Ayah jangan berkata seperti itu!" ucap Sila yang tidak mau Harus menjadi semakin sedih dan menyesal.
Suasana haru menyelimuti ruangan itu, Hadi dan Susan memang sedang menunggu di luar. Karena Haris tidak mau anaknya itu masuk menemuinya apalagi dengan wanita selingkuhan nya.
Murti pun memeluk Sila sekali lagi, Murti merasakan kehilangan yang amat sangat. Meskipun selama ini dia tidak begitu menyukai Sila, tapi sebenarnya itu hanya karena Murti ingin Sila mengurus keluarganya dengan baik, mengurus Hadi dan Mika dengan baik. Hanya itu. Tapi dia tidak menyangka ternyata Hadi, anaknya lah yang tidak baik selama ini.
"Ayah cepat sembuh ya!" ucap Sila sebelum meninggalkan ruangan itu.
Murti hanya bisa menggenggam tangan Haris yang masih berlinangan air mata di matanya.
"Sudah ya yah, sudah!" ucap Murti yang tidak tahan melihat kesedihan suaminya.
"Kenapa anak kita begitu bodoh Bu, dia melepaskan permata berharga seperti Sila. Dia bahkan tega menjebaknya dan mengkhianati nya. Apa dosaku hingga punya anak seperti Hadi itu Bu?" tanya Haris pada Murti.
Murti hanya bisa menangis karena sesungguhnya apa yang suaminya rasakan saat ini, dia pun merasakannya. Dia begitu tidak mengerti dengan Hadi yang malah memilih Susan, wanita yang sudah meninggalkan nya dulu demi menikahi pria yang lebih kaya.
__ADS_1
Hadi yang sudah melihat Sila pergi pun segera masuk ke dalam ruang rawat Haris. Tapi begitu Susan mengikutinya dari belakang, Haris langsung berteriak.
"Suruh wanita perusak rumah tangga orang itu keluar dari sini!" teriak Haris yang sudah kehabisan kesabaran nya.
Jika selama ini dia hanya diam, membiarkan Susan dan Hadi berbuat semau mereka. Kali ini kesabaran nya sudah habis. Dia tidak mau wanita yang sudah membuatnya kehilangan menantu sebaik Sila mendekatinya, apalagi satu ruangan dengannya.
Mendengar bentakan dari Haris, Susan langsung mundur.
"Mas...!" ucap Susan mencoba meminta bantuan Hadi.
"Keluar dulu Susan!"
"Tapi mas...!"
"Keluar!" bentak Hadi yang memang sudah sangat frustasi hari ini.
Susan langsung berbalik dan keluar dengan cepat.
"Ayah, bagaimana keadaan ayah?" tanya Hadi yang tergambar raut cemas di wajahnya.
Haris langsung menatap tajam pada Hadi.
"Jangan panggil aku ayah, aku malu sudah membesarkan anak tidak tahu malu dan tidak tahu diri seperti mu Hadi. Coba pikir, apa kamu akan berada di posisi sekarang ini kalau bukan karena Sila membiayai mu kuliah? aku tanya padamu, apa mungkin Hadi?" tanya Haris yang begitu kesal pada kebodohan anaknya itu.
***
Bersambung...
__ADS_1