Ketika Yang Kucintai Berkhianat

Ketika Yang Kucintai Berkhianat
KYKB 231


__ADS_3

Plakkk


Sila memukul lengan Dave dan menatap tajam ke arahnya.


"Sayang, kenapa memukul ku?" tanya Dave bingung.


"Mas, katamu hanya aku yang pernah kamu lihat dalam two piece. Ternyata Catherine juga, menyebabkan!" kesal Sila lalu memutuskan untuk pergi meninggalkan Dave.


Jangan tanya tingkat sensinya Sila, semenjak hamil. Sila memang lebih sensitif dari biasanya. Bahkan memotong bawang merah saja dia akan menangis. Bukan cuma sekedar menangis satu atau dua tetes akibat pedasnya aroma bawang yang di potong. Tapi pasti akan menghabiskan puluhan helai tissue.


Perasaannya juga lebih sensitif, menonton serial ikan terbang saja bisa membuat dirinya baper dan menangis tersedu-sedu.


Dave yang tahu istrinya sedang merajuk pun langsung memeluknya dari belakang.


"Sayang, itu dulu. Sebelum aku bertemu denganmu. Karena hal itu juga, sekarang semua urusan tentang hal-hal semacam itu, aku sudah serahkan pada Joseph. Aku seorang CEO, dan setiap kesempatan dalam penandatanganan kontrak dengan pada model ataupun tentang hal-hal mengenai syuting dan semacamnya memang mau tidak mau ya, kau harus melihat beberapa model dengan pakaian minim bahan. Tapi itu bukan keinginan ku, itu kebutuhan produksi. Satu-satunya yang aku ingin lihat dalam two piece hanya dirimu sayang, ibu dari anak-anakku!" ucap Dave begitu romantis.


Ucapan Dave itu sebenarnya sudah membuat pipi Sila memerah.


"Mulai sekarang aku tidak akan berurusan dengan model wanita atau klien wanita, aku akan serahkan semua tugas itu pada Joseph! apa nyonya Dave sudah senang sekarang?" tanya Dave di telinga Sila. Membuat Sila semakin tersipu malu.


***


Di kampung, dimana Hadi Tama pernah di lahirkan. Di rumah itu sekarang harus dan juga Murti berada. Di rumah yang dulu selalu penuh dengan canda tawa, kini suasana rumah itu begitu sepi, hening. Tidak ada satu orang pun yang bicara setelah Haris dan Murti datang, dan duduk di sofa ruang tamu.


Ayu dengan perut besarnya, karena usia kandungannya sudah menginjak lima bulan membawakan minuman untuk ayah dan ibu mertuanya.


"Ayah, ibu ini minumnya!" ujar Ayu sopan.


Murti lalu menoleh ke arah Ayu.


"Bagaimana kandungan mu nak?" tanya Murti yang melihat perut Ayu yang sudah lumayan besar. Perutnya terlihat besar karena postur badan ayu yang memang kecil.


"Baik Bu, semua normal. Bang Zain juga selalu menemaniku periksa kandungan!" jawab Ayu.

__ADS_1


Murti kembali berkaca-kaca. Dia kembali ingat ketika dirinya hamil anak-anaknya dulu. Terutama Hadi, harapannya ketika Hadi lahir dan besar adalah putra sulungnya itu hidup bahagia, di jalan uang benar. Tapi harapan memang kadang tidak sesuai kenyataan.


Ayu yang melihat ibu mertuanya bersedih jadi ikut sedih, dia tahu semua masalah Hadi karena sudah di ceritakan semua masalahnya oleh Zain. Ayu pun langsung duduk di sebelah Murti dan merangkul ibu mertuanya itu.


"Sabar ya Bu, semua pasti bisa di lalui mas Hadi. Setelah ini mas Hadi pasti akan jadi orang yang lebih baik lagi. Karena kak Sila juga kan sudah memaafkannya!"


"Amin, amin nak!" sahut Murti memeluk Ayu.


Haris juga hanya diam melihat Murti dan Ayu. Tapi harapannya juga sama seperti mereka. Setelah semua ini berlalu, Hadi menjadi manusia yang lebih baik lagi.


***


Sementara itu di kediaman Hendrawan, Randy sudah memberitahu kepada kedua orang tuanya kalau sekarang dia dan Karina sudah resmi menjadi sepasang kekasih.


Mendengar hal itu Davina dan Rizal sangat senang. Lagipula akhir pekan ini memang mereka seharusnya ke kampungnya Karina untuk melar Karina pada ibunya, karena ayah Karina sudah meninggal sejak lama. Hanya tinggal ibunya, dan dua adik Karina yang masih sekolah saja keluarga yang Karina punya.


Davina langsung pindah ke samping Karina duduk lalu merangkul Karina dengan senang.


"Sudahlah Bu, jangan bicara begitu. Itu tidak akan pernah terjadi, cintaku hanya untuk Karina. Aku tidak akan pernah memberikan kesempatan menantu ibu itu mengeluh tentangku!" ujar Randy menyela Davina.


Karina tersipu mendengar apa yang dikatakan Randy. Dia memang tidak pernah berpacaran sebelumnya, dia mana pernah di gombali begitu. Apalagi di depan kedua orang tua Randy. Tentu saja Karina merasa tersanjung.


Setelah berbincang dan merencanakan semua acara dan apa saja yang mereka butuhkan. Randy pun mengantarkan Karina pulang.


Di perjalanan menuju rumah kontrakan Karina, Randy sempat menawarkan Karina untuk tinggal di tempat yang lebih baik. Di rumah yang lebih besar dan nyaman. Namun Karina menolak hal itu.


"Kita belum menikah, jangan beri aku hal-hal yang berlebihan seperti itu!" bantah Karina.


"Pernikahan kita hanya tinggal hitungan hari saja, aku hanya ingin membuatmu nyaman!" ucap Randy.


"Aku nyaman Randy, aku sudah tinggal di rumah kontrakan itu bertahun-tahun. Di sana orang-orangnya juga sangat ramah dan perduli satu sama lainnya, tolong biarkan saja aku tinggal di sana ya!" pinta Karina.


Randy pun hanya bisa mengangguk setuju. Karena memang tinggal beberapa hari lagi sebelum Randy bisa membawa Karina tinggal di kediaman Hendrawan. Karena sejak peristiwa meninggalnya Alisha, dan Randy saat itu depresi. Kedua orang tua Randy memang menjual semua rumah dan villa milik Randy, agar Randy bisa tinggal di kediaman Hendrawan, agar Davina bisa terus mengawasi anaknya itu.

__ADS_1


Beberapa saat kemudian, Randy dan Karina pun tiba di depan rumah kontrakan Karina. Randy mematikan mesin mobilnya lalu melepas sabuk pengamannya, saat Karina masih berusaha melepas sabuk pengaman nya, Karina terkejut karena Randy memegang tangannya.


"Aku bantu ya?" tanya Randy.


Karina yang awalnya terkejut pun akhirnya mengangguk. Setelah mendapatkan persetujuan Karina, Randy pun melepaskan sabuk pengaman Karina. Setelah itu Karina pun menyentuh handle pintu mobil, namun lagi-lagi dia terkejut karena Randy menahan tangannya.


"Biar aku yang buka pintu mobilnya untukmu?" tanya Randy lagi.


Karina sedikit menghela nafas tapi kemudian dia mengangguk lagi. Saat Randy keluar dari dalam mobil, dan berjalan di depan mobil ke arah pintu mobil penumpang bagian Karina. Karina sempat memperhatikan Randy dengan seksama.


'Terkadang dia memang tidak bisa di tebak!' batin Karina.


Pasalnya, tadi Karina sempat mengira Randy mau minta ijin melakukan hal yang lain. Seperti yang waktu itu, meminta ijin mencium keningnya. Tapi ternyata dugaan Karina salah, dia hanya minta untuk bisa membukakan pintu mobil untuk Karina saja. Itu membuat Karina terkekeh sendiri dengan apa yang sudah dia pikirkan.


Setelah Randy membukakan pintu mobil untuk Karina, Karina pun keluar dari dalam mobil. Randy tidak melepaskan tangan Karina, dia menggandengnya berjalan menuju ke depan pintu.


Karina hanya tersipu malu. Dia bahkan menoleh ke kanan dan ke kiri, takut kalau ada hansip lewat dan salah paham lagi padanya seperti waktu itu.


Tapi saat keduanya berada di dekat pintu, mata dan Randy tertuju pada sebuah kardus yang ada di depan pintu rumah kontrakan Karina.


"Kamu pesan paket?" tanya Randy dan Karina segera menggelengkan kepalanya.


"Tidak!" jawab Karina.


Randy pun menjaga Karina agar tetap berada di belakangnya. Randy kemudian membuka kardus yang tidak ada tulisan apapun di bagian luar itu. Hingga membuat mereka tidak tahu siapa yang meletakkan nya di sana. Tapi saat Randy membukanya, tercium bau yang tidak sedap.


Karina yang penasaran pun mendekat, betapa terkejutnya dia melihat isi di dalam kardus itu.


"Ya Tuhan !" pekik Karina.


***


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2