
Di kediaman Prio Utomo, beberapa orang berpakaian hitam-hitam mendatangi rumah pria paruh baya yang juga sedang duduk di teras sendirian. Prio Utomo sedang memikirkan cara untuk melunasi semua hutangnya, semua kerja kerasnya sia-sia. Ternyata semua yang dia lakukan hasilnya sama sekali tidak sejalan dengan apa yang sudah dia rencanakan.
Awalnya dia meminjam uang pada seseorang yang memang sudah terkenal di pasar sebagai peminjam modal bagi para pedagang. Bukan hanya Prio Utomo saja yang saat itu kehilangan semua barang dagangan dan juga rukonya akibat kebakaran besar yang terjadi beberapa minggu yang lalu di pasar. Banyak pedagang lain yang juga bernasib sama seperti Prio Utomo. Dan kebanyakan dari mereka memang meminjam lagi modal pada Baron Cs yang merupakan kepala preman dan juga orang yang suka meminjamkan uang dengan bunga yang lumayan besar.
Tidak ada jalan lain lagi, saat itu Prio Utomo sedang mengajukan pinjaman ke bank dengan sertifikat rumahnya tapi sayangnya proses nya begitu lama dan berbelit-belit. Sedangkan ruko yang tersisa di pasar sudah tidak banyak lagi. Karena ajakan seorang teman yang juga adalah seorang pedagang juga akhirnya Prio Utomo memilih meminjam yang pada Baron Cs karena dapat langsung cair dalam waktu beberapa jam saja.
Namun semua tidak berjalan sesuai dengan harapan Prio Utomo. Meskipun dia mendapatkan ruko untuk berdagang tapi satu-satunya ruko yang tersisa saat itu adalah ruko yang letaknya paling pojok yang jarang sekali para pengunjung pasar akan datang ke sana. Tapi di usianya yang tak lagi muda, Prio Utomo tidak punya pilihan lain. Dia hanya punya keahlian berdagang saja, dan sejak lulus sekolah sampai sekarang dia memang hanya berdagang. Sekolahnya juga tidak tinggi, Prio Utomo hanya lulusan SMP pada masanya. Dan sang istri juga tidak bisa banyak membantu karena bahkan SMP saja dia tidak lulus.
Kakak Sila, Bima dia juga hanya lulusan SMA. Nasib baik yang membuat Sila bisa kuliah pada saat itu, karena saat Sila sekolah usaha Prio Utomo semakin maju dan bisa membangun rumah yang tadinya sederhana menjadi rumah yang lumayan besar. Bahkan bisa membeli sebuah mobil, dan membiayai kuliah Sila.
Hingga Sila juga bisa mendapatkan pekerjaan yang baik dan hidup sejahtera kala itu. Sebenarnya kalau peristiwa kebakaran itu tidak terjadi, sebenarnya kehidupan Prio Utomo dan istrinya juga masih akan baik-baik saja. Namun takdir siapa yang tahu, semua terjadi begitu saja.
Bukan hanya karena rukonya yang terletak paling pojok di pasar. Tapi sepertinya juga ada yang membuat usaha Prio menjadi semakin sulit, pengiriman barang pesanannya sering tak sesuai dan waktu sampai sering sekali terlambat, membuat para pelanggan menjadi beralih ke toko lain. Belum lagi biaya ini itu yang sepertinya memang sengaja di buat semakin besar oleh seseorang.
Semua hal itu membuat Prio Utomo hanya bisa mengumpulkan 25 persen saja dari total hutangnya pada Baron Cs. Bima anak tertuanya juga bukanlah orang kaya, jadi semakin sulit saja baginya, meskipun anaknya itu juga sudah banyak membantu tapi tetap saja Prio dan istrinya tidak enak pada Niken dan juga keluarganya kalau terus membantu sang ayah, Prio juga mengerti kalau anaknya itu pasti punya keperluan lain.
Ketika Prio Utomo sedang memikirkan bagaimana cara mengatasi masalahnya. Tiba-tiba saja dua orang yang berkepala botak langsung berdiri tepat di depannya.
__ADS_1
Prio Utomo pun langsung bangkit berdiri.
"Kalian... kalian anak buahnya Baron kan?" tanya pria tua itu dengan kening berkerut.
Salah satu dari dua pria botak itu tersenyum jahat pada Prio.
"Bagus kalau kamu sudah tahu itu pak tua, kami datang untuk memberikan peringatan padamu, jatuh tempo hutang mu adalah lima hari lagi. Saat kami datang lima hari lagi jangan bilang kalau tuan Baron tidak memberimu peringatan ya!" ucap pria itu dengan pandangan yang sangat meremehkan pak Prio. Seolah beliau tidak akan pernah bisa membayar hutang pada Baron Cs.
Setelah mengatakan hal itu pada pak Prio, orang-orang itu lantas meninggalkan pak Prio begitu saja. Pak Prio kembali terduduk lemas di kursinya. Pria tua itu pun memegang kepalanya yang terasa sangat berdenyut. Rasanya dia sudah putus asa, darimana dia akan mengumpulkan 500 juta lebih dalam waktu lima hari. Menjual mobil dan juga semua perhiasan istrinya saja dia baru dapat 250 juta, sementara barang-barang yang ada di tokonya, dia sudah sangat pesimis ada yang mau membelinya walaupun dia menjual dengan harga modal awal.
Pak Prio benar-benar sangat putus asa, dia menitikan air mata di salah satu matanya tapi cepat dia hapus sebelum istrinya melihatnya.
"Tidak ada, tidak ada Bu, sudahlah sebaiknya ibu masuk dan membereskan semua barang-barang kita. Mungkin kita hanya punya waktu lima hari lagi saja untuk bisa berada di rumah ini?" ucap pak Prio lalu masuk ke dalam rumah.
Pak Prio memandangi setiap sudut rumahnya, ada perasaan yang begitu pilu dalam hatinya, sejak lahir Prio sudah tinggal di rumah ini, sampai dia menikah lalu punya anak, hingga kedua anaknya menikah dan meninggalkan rumah ini. Banyak kenangan dalam setiap sudut rumah ini, meninggalkan nya begitu saja membuat hari pak Prio merasa sangat sedih.
"Ayah, apa memang sudah tidak ada jalan lain?" tanya istri pak Prio yang juga adalah ibu kandung Sila.
__ADS_1
"Tidak ada lagi Bu, kita sudah berusaha pinjam ke saudara, tapi uang sebanyak itu tidak ada yang mau meminjamkannya pada kita, mereka juga tahu usaha ku saat ini benar-benar sedang kacau bahkan mungkin tidak bisa di lanjutkan lagi, tidak ada yang akan membuat mereka percaya kalau kita bisa membayar uang pinjaman sebanyak itu!" ucap pak Prio sangat pesimis.
Istri pak Prio termenung dan tanpa sadar dia pun berkata dengan pelan.
"Seandainya saja Sila ada di sini...!"
Mendengar nama Sila disebut oleh istrinya, pak Prio terduduk lemas di sofa ruang tamunya. Dia memegang kepalanya yang terasa sakit. Air matanya menetes dari sudut mata renta nya.
"Kamu benar Bu, seandainya ada Sila di sini. Setidaknya kita punya kekuatan untuk menghadapi semua ini!" lirih pak Prio yang bisa terdengar jelas oleh istrinya meski hanya bicara pelan.
"Tapi aku, ayah yang jahat ini malah mengusirnya. Seberapa pun besar kesalahan Sila, dia tetaplah anakku!" lirih pak Prio yang benar-benar menyesali keputusan yang dia ambil karena emosi saat itu.
Istri pak Prio langsung ikut duduk di samping pak Prio lalu menepuk punggung tangan suaminya itu.
"Sabar ya yah, Sila pasti baik-baik saja!"
***
__ADS_1
Bersambung...