
Wanita yang adalah mantan kekasih Randy itu tidak terima Karina mendorongnya. Apalagi di sana ada penumpang lain yang berada satu ruangan VIP dengan Randy dan Karina. Sontak saja wanita bangun dan langsung mengangkat tangannya berniat menampar wajah Karina.
Tapi baru tangannya terangkat dan bergerak ke arah Karina, Randy langsung berada di depan Karina. Hingga Randy yang terkena tamparan pramugari itu.
Plakkk
Sontak saja wanita itu terkejut, dia langsung terlihat pucat dan panik.
"Randy maafkan aku, tadinya aku mau tampar wanita itu. Maafkan aku...!" Wanita bernama Elisa itu langsung minta maaf dan berusaha menyentuh wajah Randy.
Namun dengan cepat Randy menepis tangan Elisa bahkan memukul kasar tangan Elisa agar tidak sampai menyentuh wajahnya.
"Anggap saja ini pantas untukku yang pernah salah mengejar wanita macam kamu. Aku ingatkan padamu, jangan berani menyentuh istriku. Karena aku tidak akan pernah memaafkan mu untuk itu!" tegas Randy yang langsung menggandeng tangan Karina meninggalkan Elisa.
Di depan Elisa, Karina memang membiarkan Randy memegang tangannya. Tapi saat Elisa sudah pergi dari ruangan itu sambil menangis karena kesal dan malu.
Saat kembali ke tempat duduk mereka, Karina juga langsung menghentakkan tangannya membuat tangan Randy terlepas dari tangannya.
"Sayang...!"
"Diam, aku sedang tidak ingin bicara denganmu!" ucap Karina dengan nada rendah namun penuh dengan penekanan.
Hampir 10 jam perjalanan, Karina hanya menghabiskan waktunya untuk tidur dan berpura-pura tidur kalau dia memang sudah terbangun. Dia sangat malas bicara dengan Randy apalagi kalau hanya mendengar Randy meminta maaf dan mengatakan tentang hubungan nya dengan Elisa.
Sementara itu di kantor Dave, setelah selesai menemani sang suami makan siang bersama Mika dan Diah. Sila pun memutuskan untuk pergi ke rumah orang tuanya. Dia ingin mengatakan pada ayahnya agar bisa menjadi perwakilan keluarga untuk Joseph saat melamar Shafa.
Tapi ketika dia menghubungi Niken ternyata kakak iparnya itu sedang berada di sebuah mall.
"Sila, aku sedang ada di mall dengan Tasya. Dia mau beli seragam sekolah. Tapi ayah dan ibu juga tidak ada di rumah. Saat aku berangkat tadi, ayah dan ibu ke kondangan anaknya Bu lurah. Mungkin nanti agak sore baru mereka pulang, hei... ke sini saja. Kita sudah lama tidak jalan-jalan bersama kan?" tanya Niken pada Sila.
Sila pun tersenyum. Kalau di pikir-pikir lagi. Benar juga kata kakak iparnya itu. Mereka berdua memang sudah tidak pernah berjalan-jalan bersama dan belanja bersama lagi sejak peristiwa pahit yang menghampiri Sila beberapa bulan yang lalu.
__ADS_1
"Baiklah kak kalau begitu, kak Niken ada di mall mana?" tanya Sila pada Niken.
"Aku di mall matahari, aku tunggu di restoran eskrim di lantai tiga ya?" tanya Niken pada Sila.
"Oke kak, kami akan kesana...!"
"Ada Mika juga ya, wah Tasya pasti senang. Baiklah kalau begitu, aku tunggu ya!" ucap Niken.
Sila hanya tersenyum lalu memutuskan panggilan telepon nya, Sila lalu melihat ke arah Oman yang sedang mengemudikan mobilnya yang tadinya menuju ke kediaman Prio Utomo.
"Oman, tidak jadi ke rumah ayah sekarang. Mereka sedang tidak ada di rumah. Kita ke mall matahari saja dulu, kak Niken ada di sana!" seru Sila memberi instruksi pada Oman.
Oman pun mengangguk paham, lalu dia menjawab.
"Baik nyonya!"
Mereka pun akhirnya mengarah ke mall matahari. Jarak lokasi mereka dari mall matahari sudah tak jauh. Jadi hanya dalam waktu kurang dari setengah jam saja, mereka sudah tiba di basemen mall tersebut.
Mereka semua yaitu Sila, Mika, Diah dan Oman sudah turun dari mobil. Kemudian mereka pun naik lift menuju ke lantai tiga. Begitu pintu lift terbuka, Mika langsung menarik tangan Sila.
Oman hanya tersenyum melihat Mika yang selalu bertingkah menggemaskan di depannya. Sedangkan Diah, dia hanya diam saja dan mengikuti langkah Sila dari belakang. Setibanya mereka di depan restoran yang di maksudkan Niken. Oman sedikit terkejut dan menghentikan langkahnya ketika melihat seseorang yang dia kenal sedang menangis di dekat dinding kaca restoran itu. Dia duduk di pojokan dan menyeka air matanya yang terus menetes meski sudah di sapu dengan tissue.
"Nyonya Sila...!" panggil Oman
Sila pun menghentikan langkahnya dan menahan tarikan tangan kecil Mika darinya.
"Iya Oman, kenapa?" tanya Sila.
"Nyonya Sila, itu bukankah itu Anita?" tanya Oman sambil menunjuk ke arah kanan Sila.
Sila pun langsung menoleh ke arah tangan Oman menunjuk. Dia sedikit mengernyitkan keningnya melihat Anita yang sepertinya sedang menangis.
__ADS_1
"Iya Oman, itu Anita. Dia seperti sedang menangis!" kata Sila.
Sila kemudian, melihat ke sekeliling restoran. Niken yang sudah melihat Sila langsung berdiri dan melambaikan tangannya.
Sila juga langsung melambai ke arah Niken. Tapi kemudian dia berkata pada Diah.
"Diah, tolong kamu dan Mika duluan saja ke tempat kak Niken ya. Katakan padanya aku ada perlu sebentar!" seru Sila dan Diah langsung mengangguk paham.
Sementara Mikaila Hadi sudah berlari menuju Tasya yang sudah merentangkan kedua tangannya pada Mika.
"Oman, kamu temani Mika saja...!"
"Tapi nyonya...!" bantah Oman yang juga ingin tahu apa yang sedang terjadi pada Anita.
Tapi Oman langsung menghentikan apa yang mau dia katakan setelah Sila menaikkan kedua alisnya di depan Oman.
"Baik nyonya!" sahut Oman yang langsung menyusul Mika dan Diah.
Setelah Oman pergi, Sila pun berjalan pelan ke meja yang paling pojok di restoran ini. Bahkan dari arah pintu, meja yang di tempati Anita itu tidak akan terlihat karena terhalang tiang besar mall.
Sila langsung menarik kursi duduk di depan Anita. Membuat Anita terkejut dan langsung memalingkan wajahnya sambil menghapus semua Aur mata di wajahnya dengan tissue.
"Nyonya Sila, kamu ada di sini?" tanya Anita menutupi kecanggungan dan raut wajah sedihnya.
"Iya, dan kamu kenapa Anita?" tanya Sila.
"Oh, tidak apa-apa nyonya. Aku tadi hanya makan makanan yang terlalu pedas!" jawab Anita memberikan alasan.
Tapi alasan Anita itu terbantahkan dengan send karena di atas meja itu hanya ada dua gelas besar yang berisikan eskrim yang sudah mencair dan juga satu piring pizza yang masih tersisa empat potong, bahkan hanya di makan sedikit di piring kecil yang ada di depan Anita.
"Apa eskrim bisa membuat mu kepedasan? Anita, kamu adalah orang kepercayaan suamiku, apa kamu tidak bisa membagi kesedihan mu dengan ku?" tanya Sila yang membuat Anita kembali meneteskan air matanya.
__ADS_1
***
Bersambung...