Ketika Yang Kucintai Berkhianat

Ketika Yang Kucintai Berkhianat
KYKB 165


__ADS_3

Di tempat berbeda di sebuah gudang dekat sebuah pasar tradisional. Joni salah seorang anak buah Joseph bersama dengan tiga orang anak buahnya sudah berhasil membawa seorang preman dan menahannya sambil menunggu kedatangan Joseph.


“Lepaskan aku, kenapa kalian menahan ku di sini? apa kalian tahu aku ini adalah orang yang sangat berpengaruh di pasar, kalau anak buahku tidak melihat ku satu jam lagi maka mereka pasti akan mencari ku!” gertak preman itu yang sangat begitu percaya diri.


Apa yang dikatakan oleh preman itu malah membuat Joni dan anak buahnya terkekeh.


“Apa kamu bodoh, kenapa mengatakan pada anak buahmu untuk mencarimu setelah kamu menghilang satu jam. Satu jam itu lama, 60 menit. Tukang jag4l saja hanya perlu waktu setengah jam untuk mencinc4ng satu ekor kambing!” ujar Joni yang membuat si preman langsung berkeringat dingin.


‘Benar juga, kenapa aku bilang pada anak buahku jika aku tidak datang satu jam mereka harus mencari ku, harusnya setengah jam!’ batin preman itu.


“Apa kalian ini tukang jag4l?” tanya pereman itu lagi yang lantas makin membuat Joni dan ketiga anak buahnya tertawa terbahak-bahak.


“Lihat kami, apakah kamu terlihat seperti tukang jag4l?” tanya Joni.


“Lalu kenapa kalian menyekapku di sini. Aku bisa laporkan kalian pada polisi ya!” gertak preman itu lagi.


Hal itu membuat Joni dan teman-temannya terkekeh.


“Katanya preman, masak preman lapor polisi ha ha ha !”


Preman itu mulai tampak gusar, dia sendiri bingung kenapa orang-orang ini menangkap dan menahannya di tempat ini. Kalau di lihat dari mobil yang mereka pakai tadi, mereka pasti bukan preman pasar seperti dirinya.


Tak berselang lama dari kebingungan nya. Joseph pun datang, dengan setelan jas rapi, badan tegap, kaca mata hitam yang di pakainya. Joseph benar-benar terlihat garang dan menakutkan. Apalagi wajah dingin tanpa senyum yang menjadi ciri khasnya. Joseph memang pantas mendapatkan julukan om galak dari Mika.


“Bos!” sapa Joni.


Melihat preman itu hanya di pegang tangan kanan dan kirinya oleh dua anak buah Joni. Joseph pun mendengus kesal.


“Apa kalian tidak tahu apa gunanya tali? Apa kalian tidak pegal memegang nya terus seperti itu?” tanya Joseph yang membuat Joni menggaruk kepalanya yang sebenarnya tidak terasa gatal.


“Katakan siapa namamu?” tanya Joseph galak.


“Ke kenapa aku harus memberitahu mu?” tanya preman itu.


Rupanya dia tidak tahu sedang berhadapan dengan siapa. Joseph hanya menghela nafas berat lalu meninju perutnya dengan kuat.


Bugh


Preman itu pasti akan jatuh ke lantai kalau saja tangan kanan dan kirinya tidak di pegang oleh dua anak buah Joni.

__ADS_1


“Aku tidak akan mengulang dua kali pertanyaan ku!” Bentak Joseph.


Suara keras Joseph bahkan membuat keempat anak buahnya itu bergidik ngeri.


Preman itu meringis menahan sakit pada perutnya.


“Na.. namaku Agus!” jawabnya sambil meringis kesakitan karena perutnya terasa nyeri dan ng1lu.


“Untuk apa Vincent menemui mu tadi?” tanya Joseph lagi.


Agus terdiam, karena dia tidak mengenal siapa itu Vincent.


“Si... Siapa Vincent?” tanya Agus dengan wajah ketakutan ketika melihat ke arah Joseph.


“Pria yang setengah jam lalu bertransaksi dengan mu dekat pasar!” jelas Joseph.


“Oh, tu... tuan itu hanya membeli obat padaku. Aku memang menjual obat-obatan ker4s di media sosial. Apa kamu polisi?” tanya Agus yang mengira mungkin saja Joseph adalah seorang polisi.


Joseph mengernyitkan dahinya.


‘Obat ker4s? Untuk apa Vincent membeli obat ker4s? Apa dia sakit?’ tanya Joseph dalam hati.


Agus yang benar-benar sudah tak kuat menahan sakit di perutnya akibat pukulan Joseph menjawab pelan.


“O...obat perangs4ng..!”


Brugh


Agus pun jatuh dan tak sadarkan diri. Mata Joseph membulat sempurna. Untung saja dia pakai kacamata hitam, kalai tidak anak buahnya pasti bisa melihat ekspresi terkejut Joseph itu. Dan yang membuat Joseph terkejut tentu saja bukan karena Agus yang pingsan. Tapi apa yang dia katakan sebelum Agus pingsan.


“Joni, terus awasi Vincent!” seru Joseph dan Joni pun langsung mengangguk paham.


Joseph kemudian keluar dari gudang itu. Setelah Joseph keluar, Joni memerintahkan anak buahnya kembali ke pos mereka lagi. Dua orang mengawasi di perusahaan Vincent. Satu orang di area rumah tinggal Vincent. Dan Joni yang di rumah orang tua Vincent. Karena ketiga tempat itulah yang biasa di datangi oleh Vincent.


“Lalu si Agus ini bagaimana bos?” tanya salah satu anak buah Joni.


“Tinggalkan saja, satu jam lagi juga akan ada anak buahnya yang mencarinya!” jawab Joni dan mereka berempat pun meninggalkan gudang itu.


Di dalam mobil, ketika lampu merah menyala. Joseph baru akan menghubungi Dave untuk melaporkan hasil penyelidikan nya. Tapi tiba-tiba saja seseorang membunyikan klakson mobil dari arah belakang. Membuat Joseph urung melapor pada Dave.

__ADS_1


Sepanjang perjalanan, Joseph terus saja memikirkan tentang obat yang di beli oleh Vincent. Untuk apa obat itu, apa Shafa benar-benar tidak membiarkan Vincent menyentuhnya hingga Vincent membeli obat semacam itu. Tapi apa mungkin, sedangkan mereka sudah tinggal bersama dan menikah selama tiga bulan, tidak mungkin tidak terjadi apa-apa pada mereka. Itulah yang Joseph pikirkan.


Joseph kembali menghentikan mobilnya di tepi jalan, karena ponselnya berdering. Dan ternyata itu adalah Joni.


“Katakan!” seru Joseph.


“Bos, kata anak buahku Vincent dan nona Shafa keluar dari rumah mereka. Dengan sebuah tas berukuran sedang di masukkan ke dalam bagasi mobil, itu laporan dari anak buah ku yang mengawasi rumah Vincent bos!” kata Joni.


Joseph langsung memutuskan panggilan telepon dari Joni. Joseph sekarang sangat gusar, dia memang di tugaskan Dave mengawasi Vincent dan Shafa, tapi Shafa pergi dengan Vincent meskipun Vincent membeli obat semacam itu tapi Vincent itu suaminya.


“Aku harus bagaimana?” gumam Joseph.


Baru kali ini dia merasa sangat gusar dan bingung dalam mengambil keputusan. Setelah cukup lama berpikir, akhirnya Joseph memutuskan untuk menghubungi Shafa.


"Ada apa pak tua?" tanya Shafa ketus.


"Nona, kamu dan suami mu akan kemana?" tanya Joseph yang selalu langsung pada hal paling penting kalau bicara.


"Apa urusan mu? aku mau ke nerak4!" ketus Shafa


"Nona, aku serius. Apa kalian hanya pergi berdua?" tanya Joseph lagi.


"Sejak kapan kamu perduli hal seperti itu?" tanya Shafa heran.


"Jawab saja nona!" seru Joseph.


"Tidak, aku dan Vincent juga kedua orang tuanya. Hei pak tua, memangnya ada apa?" tanya Shafa namun Joseph lebih dulu memutuskan panggilan telepon nya.


Joseph menghela nafas lega karena Shafa bilang mereka tidak pergi berdua. Tapi untuk memastikan Joseph kembali menghubungi Joni untuk mengetahui apa kedua orang tua Vincent sudah berangkat atau belum. Tapi ternyata kedua orang tua Vincent malah sedang bersantai di rumahnya.


"Yang benar Joni?" tanya Joseph.


"Iya bos, aku sendiri yang mengawasi mereka, kedua orang tua itu sedang duduk santai di tepi kolam renang. Tidak ada tanda-tanda mereka akan keluar...!"


"Siall!" pekik Joseph.


Belum selesai Joni berkata, Joseph sudah memutuskan panggilan telepon lalu segera melajukan mobilnya menyusul Shafa ke villa milik Vincent.


***

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2