
Baru saja Karina berharap kalau Randy akan melihat Joseph memeluk Shafa dan akhirnya Shafa dan Joseph bisa berterus terang tentang hubungan nya pada Randy. Ponsel Karina berbunyi.
Dan saat Karina meraih ponselnya itu dari dalam tasnya. Wajahnya sedikit menampakkan raut penasaran.
"Randy!" gumam Karina lalu menggeser icon telepon berwarna hijau ke atas.
"Halo Randy...!"
"Sayang maafkan aku, Roy tadi menghubungi ku. Ada yang harus aku lakukan di kantor polisi. Aku sudah meminta anak buah Roy, Umar untuk ke atas mengantar minuman mu. Kau mengenalnya kan sayang?" tanya Randy yang sepertinya sudah berada di dalam perjalan menuju kantor polisi.
Karena suara bising kendaraan bisa di dengar Karina dari telepon.
"Iya, aku tahu Umar. Baiklah hati-hati di jalan ya!" sahut Karina.
Setelah meletakkan kembali ponselnya ke dalam tas. Karina menghela nafasnya panjang.
'Huh, apa memang belum saatnya yang lain tahu tentang hubungan kalian, sudahlah. Cepat atau lambat Randy pasti akan tahu, tidak mungkin dia tidak memperhatikan Shafa!' batin Karina.
***
Dua hari kemudian...
Semua berkas untuk para penjahat telah rampung. Hari ini adalah hari dimana sidang keputusan untuk Hadi Tama dan juga Susan Delia di gelar.
__ADS_1
Zain menyempatkan dirinya untuk datang dan memberikan dukungan nya pada sanga kakak karena ini adalah sidang putusan. Meski datang sendiri tapi Hadi sudah cukup senang dan hatinya juga merasa terharu karena dia tidak sendirian dalam menghadapi semua ini.
Persidangan berlangsung sangat cepat. Karena Hadi tidak menolak atau membantah satu pun tuntutan jaksa penuntut umum. Bukti dan saksi juga sudah kuat, hingga Hadi pun terjerat dua pasal berlapis yaitu 347 dan 310 KUHP dengan tuntutan 8 tahun penjara. Namun karena pak Kamal yang meminta keringanan atas sikap baik Hadi. Akhirnya palu hakim di ketuk sebanyak tiga kali setelah memutuskan kalau Hadi Tama akan menjalani hukuman penjara selama 5 tahun dan denda sebanyak 750 juta. Tentu saja jika Hadi tidak bisa membayar denda maka akan di ganti dengan subsider hukuman penjara.
Ketika palu hakim sudah di ketuk. Pak Kamal pun langsung pergi dari ruang sidang bersama pengacara perusahaan dan dewan direksi yang lain. Meski kurang puas dengan hukuman untuk Hadi. Para dewan direksi yang lain tak mau lagi ambil pusing dengan masalah ini.
Setelah putusan pengadilan, Zain di beri kesempatan untuk bertemu dan bicara dengan Hadi.
Mereka di bawa ke sebuah ruangan yang kanan dan depan belakangnya jeruji besi. Khusus untuk menemui tahanan atau ruang tunggu tahanan sebelum atau sesudah sidang.
Begitu melihat Zain, Hadi langsung memeluk adiknya itu dan menangis sejadi-jadinya. Zain pun sama, dia juga memeluk kakaknya itu dan menangis sejadi-jadinya di pelukan sang kakak yang sangat dia hormati dan kasihi. Hanya karena salah jalan akibat cinta lamanya yang bersemi kembali dan membawa musibah bagi rumah tangganya yang awalnya sangat bahagia, adem, ayem dengan Sila.
"Maafkan aku Zain, aku sudah membuat keluarga kita benar-benar menanggung rasa malu yang teramat sangat. Sampaikan permintaan maaf ku pada Ayah dan ibu, juga Lia...!" Hadi menjeda kalimatnya sejenak.
"Aku benar-benar, anak yang tidak baik, kakak yang tidak baik, suami yang tidak baik dan ayah yang tidak baik!" lirih Hadi yang kembali menangis.
Karena sungguh, tidak akan mungkin orang yang mencintai kita akan membuat kita berada dalam masalah. Dia justru akan menjadi tameng hidup untuk kita. Seperti yang dilakukan Sila untuk Hadi. Sila bahkan rela kerja keras untuk membantu Hadi. Sementara Susan, dia hanya menghabiskan uang Hadi.
Sekali lagi Zain menepuk bahu Hadi. Karena sang petugas sudah akan membawa Hadi pergi.
"Yang sabar ya kak, yang kuat. Kami semua sudah memaafkan mu. Aku juga akan sering-sering kemari menjenguk mu. Jaga dirimu baik-baik ya kak!" ucap Zain sebelum Hadi di bawa oleh dua petugas untuk ke mobil tahanan dan di bawa ke lapas.
Sementara Susan, karena laporan kesehatan nya menunjukkan dia mengalami gangguan kejiwaan, sakit mental alias tidak lagi waras alias sakit jiwa. Maka dia di masukkan ke dalam rumah sakit jiwa.
__ADS_1
Jangan tanya seperti apa dia sekarang. Semua orang bahkan tidak akan mengenali kalau itu Susan. Wanita yang dulunya selalu tampil anggun dan cantik dengan pakaian dan tas bermerk. Sekarang dia sangat berbeda, rambut ikal ala Bob Marley dan pakaian seperti cosplay zombie yang sobek sana sobek sini. Kemana-mana dia berteriak-teriak histeris, dan selalu mengendong-gendong bantal. Tidak mau di mandikan, kalau di mandikan dia akan histeris dan mengamuk. Lalu kalau di pisahkan dari bantalnya dia bahkan akan berubah menjadi manusia harimau yang akan mencakar cakar orang di dekatnya.
Pak Hilman dan Mila yang melihat kondisi putrinya itu hanya bisa menangis. Mereka bahkan sudah tidak di kenali lagi oleh Susan. Benar-benar sangat kasihan melihat keadaan keluarga itu. Sekarang pak Hilman lah yang menjadi tulang punggung keluarga. Hanya membuka toko roti kecil di rumahnya yang juga sangat sederhana. Kemana-mana sekarang mereka naik angkutan umum. Jangankan memeriksakan Susan ke dokter ahli syaraf. Menaruhnya di rumah sakit jiwa saja, hanya bisa menjenguk Susan dua hari sekali karena kendala biaya dan kesibukan mencari nafkah.
Tapi sangat di sayangkan kalau Edgar Retz benar-benar hanya di deportasi. Meski Dave dan Randy tak puas dengan hal itu. Tapi Rizal Hendrawan menasehati kedua anaknya itu agar tidak terlalu memaksakan hukuman pada Edgar Retz. Karena akan sangat panjang dan memakan banyak waktu, tenaga dan mereka akan selalu tersulut emosi. Karena banyak orang penting yang berada di belakang Edgar Retz.
Rizal Hendrawan berpikiran kalau hukuman deportasi dan tidak akan pernah di perbolehkan masuk lagi ke negara ini sudah cukup. Agar ketenangan keluarga Hendrawan tidak terusik dengan semua hal yang berhubungan dengan Edgar Retz lagi.
Joseph juga sudah kembali dari rumah sakit, awalnya Dave memintanya tinggal di apartemen nya agar ada yang merawatnya. Di sana ada bi Ijah dan Diah tapi Joseph menolak karena dia tidak mau merepotkan dan masih bisa mengurus dirinya sendiri katanya begitu.
Dan hari ini juga adalah hari dimana, Randy bersama Rizal dan Davina pergi ke desa Karina untuk bertemu dengan ibu dan kedua adik Karina untuk melamar Karina pada mereka.
Mereka berangkat dengan dua mobil karena banyak membawa barang-barang seserahan untuk Karina.
"Coba saja Shafa ikut, pasti ramai!" ucap Rizal membuka percakapan.
"Iya, kenapa Shafa tidak ikut Bu?" tanya Randy.
"Dia sedang mempersiapkan gedung dan lainnya, dia ingin memastikan semuanya sesuai!" jawab Davina.
Sementara Karina hanya diam mendengarkan.
'Kurasa dia sedang merawat pak tuanya!' batin Karina tersenyum tipis.
__ADS_1
***
Bersambung...