Ketika Yang Kucintai Berkhianat

Ketika Yang Kucintai Berkhianat
KYKB 267


__ADS_3

Dan benar saja, ketika Shafa sampai di kediaman Hendrawan. Mobil kedua orang tuanya sudah terparkir cantik di garasi mobil.


"Ayah dan ibu sudah pulang, aku ingin tahu seperti apa ibunya kak Karina juga kedua adiknya!" gumam Shafa antusias.


Shafa lalu turun dari mobilnya, dia sangat ingin bertemu dengan ibunya dari calon kakak iparnya itu. Karena memang begitulah rencananya, tadinya ayah dan ibunya bilang akan langsung membawa Marlina dan juga dua adik Karina yang lain. Siapa sangka semua tak berjalan sesuai rencana dan ibunya Karina harus menyiapkan hal lain, hingga tidak bisa ikut ke kota sekarang. Tapi lusa, sehari menjelang hari pernikahan Randy dan Karina.


Shafa masuk ke dalam rumah, tapi dia tidak menemukan siapapun.


"Mbok Darmi, ayah sama ibu mana?" tanya Shafa pada asisten rumah tangga yang sudah berusia paruh baya.


"Eh non Shafa, tuan sama nyonya besar sudah istirahat. Mereka kelihatan capek sekali non!" jawab mbok Darmi dengan logat ngap4knya.


"Lalu kak Randy?" tanya Shafa lagi.


"Tuan mengantarkan nona Karina pulang non!" jawab mbok Darmi lagi.


"Yah, aku telat deh. Gak bisa kenalan sama ibu dan adik-adiknya kak Karina deh!" sesal Shafa.


"Ibu dan adik-adiknya non Karina? tapi tadi tuan besar dan nyonya besar hanya datang bersama nona Karina dan tuan Randy, non. Tidak ada yang lain!" jelas mbok Darmi.


Shafa sedikit menarik kedua alisnya ke atas.


"Oh ya, jadi mereka tidak ikut. Em... ya sudah. Mbok, apa ayah dan ibu tadi menanyakan aku?" tanya Shafa lagi.


Mbok Darmi pun mengangguk, Shafa sudah ketar-ketir dengan jawaban apa yang diberikan mbok Darmi pada Rizal dan juga Davina.


"Lalu mbok bilang apa?" tanya Shafa penasaran.


"Seperti kata non tadi pagi, kalau tuan sama nyonya besar tanya, mbok harus jawab non Shafa lagi ke butik, pilih-pilih hiasan kepala dan sepatu yang cocok buat baju seragam keluarga yang akan di pakai di pernikahan tuan Randy dan nona Karina!" jawab mbok Darmi begitu polos dan penurut.


Shafa tersenyum senang lalu mencium pipi mbok Darmi.


"Good job mbok, you're the best!" ucap Shafa langsung bergegas menuju ke kamarnya.


Sementara mbok Darmi masih terdiam dan bingung.


"Kujob yobes, sapa kui ya?" tanya mbok Darmi yang mulai keluar lagi logat aslinya.


Meninggalkan kebingungan mbok Darmi dengan apa yang baru dikatakan Shafa padanya. Randy sudah berada di depan pintu apartemen Karina, lebih tepatnya calon rumah masa depannya nanti dengan Karina juga. Tapi sementara Karina yang tinggal di apartemen ini sampai mereka resmi menikah nanti.


Saat Karina akan membuka pintu, dia terlebih dulu berbalik ke arah Randy yang ada di belakang nya. Ketika dia berbalik, wajahnya langsung berada sangat dekat dengan leher Randy, tentu saja karena perbedaan tinggi mereka yang tidak terlalu jauh.


Nafas yang Karina hembuskan bisa Randy rasakan di lehernya membuat pria itu memejamkan matanya sekilas, benar-benar hanya sekilas.

__ADS_1


Karina lalu mendongak ke atas, melihat wajah Randy.


"Selamat malam, sampai jumpa besok di salon!" ucap Karina.


"Aku akan menjemputmu!" sela Randy.


Karina pun menggelengkan kepalanya.


"Tidak usah, aku akan berangkat dengan Sila dan Mika. Ada Oman juga kan yang akan memastikan kami sampai di sana dengan selamat. Kamu hati-hati ya pulangnya!" ucap Karina.


Setelah Karina mengatakan semua yang ingin dia katakan, dia pun berbalik dan akan membuka password kunci pintu apartemen nya.


"Apa aku boleh mampir sebentar?" tanya Randy.


Deg


Entah kenapa, saat Randy mengatakan pertanyaan itu. Hati Karina merasakan sesuatu yang tidak bisa dia mengerti dan deskripsikan.


"Untuk secangkir kopi saja misalnya?" tanya Randy lagi.


Karina yang awalnya sangat enggan pun akhirat mengangguk menyetujui permintaan Randy itu.


Mereka berdua pun masuk ke dalam apartemen. Karina langsung menuju ke arah dapur untuk membuatkan kopi buat Randy setelah meletakkan tas dan semua barang yang di berikan Davina tadi padanya.


"Aku akan ke kamar mandi!" ucap Randy yang langsung menuju kamar mandi yang ada di master bedroom.


Setelah melihat Randy keluar dari kamarnya, dengan menyeka wajahnya dengan handuk kecil. Karina pun bertanya.


"Kamu ingin minum dimana? ruang makan atau rumah tengah?" tanya Karina.


"Di situ saja!" jawab Randy dengan cepat.


Randy meletakkan handuk kecil yang dia bawa di salah satu kursi di meja makan. Dan dia duduk tepat di sebelah Karina.


"Em, ini kopi mu!" ucap Karina sambil menggeser cangkir kopi itu tepat ke depan Randy.


"Terimakasih!" sahut Randy lalu segera menyeruput kopi buatan Karina.


"Masih panas...!"


"Aghk...!"


Baru saja Karina kan berkata kalau kopinya masih panas, Randy sudah langsung meminumnya membuat lidahnya kepanasan dan kopi itu tumpah sedikit ke pakaian Randy.

__ADS_1


"Randy, kamu tidak apa-apa?" tanya Karina yang langsung meraih cangkir kopi itu dari tangan Randy.


Lalu meletakkan nya di atas meja. Karina juga sigap langsung meraih tissue dan mengelap kopi yang tumpah di pakaian Randy.


"Kemeja mu kotor, coba buka kemeja mu. Kopinya panas, jangan-jangan dada mu...!" Karina menjeda kalimatnya karena Randy menahan tangannya yang sedang membersihkan kemeja Randy dengan tissue dan menggenggam nya dengan erat.


Kedua pasang mata saling bertemu, debaran jantung pun bisa mereka dengar satu sama lain. Randy mengecup tangan Karina yang dia pegang, dari mulia punggung jarinya, punggung tangannya hingga pergelangan tangannya.


Sadar kalau Randy sedang menatapnya dengan tatapan yang sangat dia mengerti. Karina langsung menarik tangannya.


"Em, sebaiknya kamu ganti baju Randy. Di kamar kan juga sudah ada bajumu. Aku akan buatkan kopi yang baru!" ucap Karina mencoba menghindari tatapan mata Randy.


Karina kemudian langsung bergegas ke arah wastafel dan meletakkan cangkir kopi yang sudah tumpah. Dan bersiap mengambil cangkir yang baru di rak yang ada di dapur.


Namun Randy malah ikut berdiri dan mendekati Karina. Randy bahkan memeluk Karina dari belakang, membuat Karina terkejut sekaligus gugup. Apalagi saat Randy memeluk perut Karina dan meletakkan dagunya di bahu Karina. Perasaan Karina benar-benar campur aduk.


"Randy, jangan begini!" protes Karina.


"Sebentar saja, aku hanya ingin memeluk mu sebentar saja!" ucap Randy sambil memejamkan matanya.


Randy sedang berusaha menenangkan pikirannya. Dia sebenarnya juga tidak ingin melakukan hal yang akan membuat Karina membencinya. Karena itu dia sedang berusaha menenangkan pikirannya.


Karina pun diam dan membiarkan Randy memeluknya untuk beberapa saat. Hingga sepuluh menit kemudian.


"Randy, sudah larut. Sebaiknya kamu pulang. Kamu pasti lelah kan?" tanya Karina yang mencoba melepaskan tangan Randy dari perutnya lalu berbalik menatap Randy.


"Bersabarlah, kamu hanya harus menunggu dua hari lagi kan. Setelah itu, kita berdua bisa tinggal bersama di sini!" ucap Karina sambil menyentuh kedua pipi Randy dengan kedua telapak tangannya.


Randy terperanjat, baru kali ini Karina berkata dan bersikap semesra dan selembut itu pada Randy.


"Sekarang kamu pulang dulu ya, ayo!" ajak Karina sambil menggandeng tangan Randy.


Randy seperti terhipnotis, dia bahkan mengikuti arahan langkah dari Karina. Sampai Karina mengantarnya keluar pintu apartemen. "Selamat malam!" ucap Karina sambil menyentuh pipi Randy.


Brakk


Pintu apartemen pun tertutup, Randy baru mengedipkan matanya setelah pintu tertutup.


"Astaga, dia pintar sekali!" puji Randy pada cara Karina mengusirnya dari apartemen. Randy hanya tersenyum kecut lalu pergi meninggalkan apartemen.


Sementara Karina berdiri di belakang pintu sambil mengelus dadanya.


"Huh, hampir saja. Ya ampun, dua hari saja, kenapa dia tidak mau sabar sih!" gumam Karina lalu menuju ke kamarnya.

__ADS_1


***


Bersambung...


__ADS_2