
Susan masih sangat enggan untuk mengeluarkan permintaan maaf dari mulutnya kepada Sila. Namun Hadi yang tak kunjung mendengarkan Susan meminta maaf pada Sila bertambah panik, keringat sudah mengucur dari kedua pelipisnya. Bukan hanya dari kedua pelipisnya tapi meskipun ruangan ini memakai pendingin ruangan tapi jadi merasakan kalau keringat juga sudah mengucur deras di punggungnya.
Apalagi melihat tatapan dari Dave Hendrawan yang begitu tajam padanya membuat Hadi menjadi sedikit takut. Masalahnya adalah, dia baru saja dipromosikan selama 1 bulan, dan jika karena hal ini kerjasama antara perusahaannya dan perusahaan Dave Hendrawan berakhir, maka habis sudah dia.
"Susan, dengar tidak! minta maaf pada Sila!" bentak Hadi yang bukan hanya suaranya saja yang keras membentak Susan.
Tapi Hadi juga semakin kuat mencengkram lengan Susan.
Susan terlihat enggan, tapi dia juga tidak mau membuat Hadi semakin marah padanya.
"Si.. Sila, aku minta maaf. Tuan dan nyonya aku minta maaf!" ucap Susan yang tak berani mengangkat kepalanya melihat ke arah keluarga Hendrawan.
"Cih, aku dan istriku tidak butuh kata maaf yang keluar dari perempuan perusak rumah tangga orang seperti calon istrimu itu Hadi Tama, ini pertama dan juga terakhir kalinya aku mendengar wanita tidak beradab yang ada di sampingmu itu mencela istriku, jika aku mendengar atau melihat hal ini lagi. Kerja sama dengan perusahaan mu akan ku batalkan. Dan jangan harap kalian lolos dari hukuman, karena aku masih memegang bukti-bukti kalau kau dan calon istri licik mu itu yang telah menjebak Sila, dan memfitnah nya!" tegas Dave yang membuat Hadi Tama langsung lem4s tak berten4ga.
Hadi melihat ke arah Susan dengan sangat kesal.
Hadi lalu melepaskan tangan Susan dan membungkuk ke arah depan Dave.
"Tuan Dave, ini salahku yang tak mengawasi Susan dengan benar. Tapi aku harap tuan mau memaafkan kali ini saja, aku berjanji tidak akan terulang lagi!" ucap Hadi dengan penuh harap.
"Baiklah, tapi aku akan tarik 60 persen Investa yang kuberikan pada perusahaan mu. Anita akan mengurus semuanya besok!" ucap Dave lalu duduk kembali.
"Tuan Dave, 60 persen... tuan tolong jangan!" Hadi berusaha memohon pada Dave.
"Keluar!" bentak Dave pada Hadi.
"Tapi tuan...!" Hadi masih berusaha terus bicara pada Dave.
Karena bagaimanapun 60 persen investasi, itu sama artinya dengan Hadi harus mengeluarkan modal sendiri untuk proses produksi. Dan keuntungan yang akan dia dapatkan juga akan semakin sedikit.
"Jangan membuat tuan Dave semakin marah, sebaiknya bawa wanita itu keluar segera!" tegas Joseph yang sudah mulai melihat Dave semakin jengah pada Hadi dan Susan.
__ADS_1
Hadi hanya bisa mengeluh panjang, bagaimana pun ini memang salahnya tidak mengawasi Susan dengan benar.
"Permisi tuan!" ucap Hadi yang langsung menarik tangan Susan dengan kasar.
Setelah keluar dari dalam ruangan VVIP itu, Hadi menghempaskan Susan hingga Susan terbentur sebuah lemari hias yang ada disana.
"Aughkk... sakit mas!" pekik Susan.
"Masih tahu sakit? hah... kamu hampir saja membuat ku rugi besar Susan! apa yang ada di pikiran mu sampai datang ke ruangan mereka. Katamu kamu akan ke toilet kan? sejak kapan kamu berani berbohong padaku?" tanya Hadi sangat kesal pada Susan.
"Aku hanya lewat, aku hanya ingin memberitahu mereka kalau Sila tidak pantas dengan keluarga Hendrawan...!"
"Lalu kamu pikir siapa yang pantas? kamu?" tanya Hadi kesal.
"Aku lebih baik darinya, dia hanya beruntung saja malam itu yang tidur dengannya ternyata tuan Dave!" ucap Susan menggerutu kesal.
Hadi yang mendengar apa yang dikatakan Susan seolah tak percaya.
"Katakan sekali lagi, siapa yang tidur dengan Sila malam itu?" tanya Hadi yang begitu sangat penasaran.
"Tuan Dave!" jawab Susan.
Hadi langsung melepaskan tangannya dari Susan dan mundur beberapa langkah. Dia bahkan mengusap kepalanya dengan gusar.
"Habislah kita Susan, habis sudah!" ucap Hadi putus asa.
Hadi Tama baru memikirkan semua hal ini, kalau ternyata selama ini Dave lah yang menentu setiap langkah Sila. Hadi sudah mengira ada seseorang yang membantu dan menjadi orang yang berdiri di belakang Sila. Karena menurut sejauh dia mengenal Sila, wanita lembut itu tidak akan membalas apapun perbuatannya, dan tidak mungkin Sila bisa menemukan semua bukti-bukti terkait masalah penjebakan waktu itu.
Kini Hadi tahu siapa yang sudah mendukung Sila. Dan dia sudah merasakan perasaan yang amat tidak nyaman.
'Tidak mungkin tuan Dave melepaskan aku dan Susan. Dia terlihat sangat mencintai Sila. Dan bagaimana bisa Sila membuat tuan Dave sembuh dari Myshopobia parahnya?' tanya Hadi dalam hatinya.
__ADS_1
"Mas, kenapa begitu cemas. Sila itu memang menarik di awal saja kan. Lama-lama tuan Dave pasti akan sepertimu, ada yang menggodanya dia juga pasti akan berpaling!" ucap Susan yang dia kira bisa menenangkan Hadi.
Tapi Susan salah, apa yang dia katakan barusan pada Hadi itu malah seperti sebuah tamparan keras bagi Hadi. Bagaimana tidak, apa yang dikatakan oleh Susan itu sama saja menyiratkan kalau Hadi adalah suami bren9sek yang di goda sedikit saja sudah berpaling dari istri sahnya.
"Maksud mu apa bilang seperti itu?" tanya Hadi dengan tatapan marah.
"Kenapa marah? aku benar kan? dia itu tidak pandai melayani suami di atas tempat tidur, sebentar lagi Sila juga pasti akan di tinggalkan oleh tuan Dave. Bagaimana pun juga tuan Dave itu CEO paling kaya di kota ini, tampan dan lihat badannya yang kekar itu...!"
"Susan!!" bentak Hadi membuat Susan langsung menutup mulutnya.
"Apa maksudmu memuji tuan Dave di depanku. Sudah membuat masalah, masih tidak sadar juga. Heh...!" Hadi mendengus kesal lalu meninggalkan Susan menuju ke arah pintu keluar restoran.
"Mas... mas Hadi!" ucap Susan yang berusaha mengejar Hadi yang sama sekali tidak menghiraukan panggilan Susan. Padahal karena ulah Susan itu beberapa pasang mata sudah memperhatikan dan menggunj1ng mereka.
Sementara itu di dalam ruang VVIP, Davina memeluk Sila. Dave sudah menceritakan semuanya pada Davina. Bahkan sampai bagaimana Hadi Tama dan perempuan pelakor bernama Susan itu merebut semua hasil kerja keras Sila. Dan alasan Sila tidak menuntut mereka. Karena tidak mau Mika sampai punya ayah seorang narapidana dan Haris yang juga memiliki riwayat penyakit jantung.
"Terbuat dari apa hatimu nak?" tanya Davina dengan mata yang sudah berkaca-kaca.
"Kak Sila, aku salut sekali padamu!" ucap Shafa yang juga memeluk Sila dari belakang.
"Sila, sekarang kamu adalah bagian dari keluarga ini. Jangan lagi menunduk di depan orang seperti wanita itu tadi ya nak. Kamu punya kami yang akan selalu berdiri di belakang mu dan mendukungmu, yah!" ucap Davina yang tidak ingin Sila selalu mengalah.
Sila hanya mengangguk. Dave sangat senang, keluarganya bisa menerima Sila dengan semua masa lalunya.
Karina juga sangat senang, melihat Sila bisa di terima dengan baik, tapi saat Karina sedang tersenyum ke arah Sila, Randy yang duduk di sampingnya malah menghalangi pandangan nya pada Sila.
"Senyum mu manis sekali!" gomb4l Randy membuat Karina memutar bola matanya malas.
***
Bersambung...
__ADS_1