
Sementara itu di dalam mobil, di perjalanan menuju rumah Hadi Tama untuk menjemput Mika. Dave masih tampak cemberut. Dia sejak dari rumah sakit tadi sama sekali tidak ada senyuman terlukis di wajahnya. Sila yang mengerti kenapa Dave kesal pun berusaha untuk membujuk suaminya itu.
"Mas... mas marah ya?" tanya Sila pada Dave. Sebenarnya Sila sudah tahu kalau Dave marah padanya, tapi dia hanya berusaha untuk mengawali perbincangan.
Dari kursi kemudi, Joseph terlihat sesekali melirik ke arah Dave dan juga Sila. Sesekali pula Joseph tersenyum kecil, yang nyaris tak terlihat oleh kedua majikannya yang duduk di kursi penumpang bagian belakang itu.
Sila yang tak mendapatkan respon dari Dave merasa kalau Dave memang benar-benar marah padanya. Biasanya jika Sila sudah minta maaf dan memanggilnya Dave akan langsung memeluknya. Tapi ini tidak, itu artinya Dave memang kesal karena Sila tadi terlalu mengurusi masalah Haris dan Murti tadi. Tapi niat Sila sebenarnya baik, hanya saja dia juga sadar kalau kapasitas nya sekarang adalah sebagai orang luar di keluarga itu.
Sila mengambil udara dalam-dalam lalu menghembuskan nya perlahan. Sila lalu menggeser duduknya sedikit lebih dekat ke arah Dave. Dave yang merasa kalau Sila mendekatinya malah semakin memalingkan wajahnya. Tapi dalam hatinya dia juga penasaran, apa yang mau di lakukan istrinya itu.
Cup
Sila mengecup pipi kiri Dave, membuat pria itu langsung menoleh ke arah Sila yang kembali menundukkan wajahnya di dekat Dave sambil memegang pipi yang tadi di kecup singkat oleh Sila.
"Hanya seperti ini?" tanya Dave yang sebenarnya menginginkan lebih dari sekedar kecupan di pipi kirinya.
Sila yang wajahnya sudah merah karena malu hanya bisa menghela nafas berat. Untuk memberanikan diri mencium pipi Dave saja, dia sudah mengumpulkan semua energi positif dan segenap keberanian yang ada dalam dirinya. Lagipula di dalam mobil, bukan hanya ada mereka berdua. Sila mana berani berbuat lebih.
Melihat Sila hanya diam, Dave jadi gemas sekali pada istrinya itu.
"Jo, fokuslah ke depan!" seru Dave yang memberikan perintah pada Joseph.
Joseph mengerti kalau apa yang di perintahkan oleh bosnya itu adalah karena dia memang tidak boleh melirik sedikit pun kebelakang.
"Baik tuan!" jawab Joseph dengan singkat padat dan jelas sambil menutup spion mobil yang mengarah ke dalam mobil.
Sila yang mendengar suaminya berkata seperti itu pada Joseph langsung bergerak mundur, sedikit menjauh dari Dave.
Tapi terlambat, Dave sudah membuat Sila dalam posisi rebahan di atas kursi penumpang bagian belakang.
Dave langsung beraksi. Dave bahkan tak memberi sedikit pun jeda pada Sila untuk mengambil nafas lebih dari 5 detik. Setelah puas, Dave baru melepaskan istrinya itu dan bangkit duduk kembali sambil merapikan dasi dan juga jasnya yang berantakan karena di tarik ke sana kemari oleh Sila yang kebingungan mencari pegangan saat Dave menc****nya tanpa ampun.
__ADS_1
Sila mengatur nafasnya, masih dalam posisi rebahan, dia berusaha untuk merapikan blazer yang dia pakai yang sudah hampir terlepas karena ulah Dave.
Sila juga mengusap bibirnya yang basah, baru setelah itu dia bangun dan duduk sedikit menjauh dari Dave.
'Mas Dave benar-benar tidak bisa di pancing, di kecup sedikit saja sudah seperti ini. Ya ampun, aku harap Joseph benar-benar tidak melihatnya!' batin Sila yang benar-benar tidak habis pikir pada kelakuan suaminya.
Sedang Dave malah terlihat tersenyum puas. Sebenarnya dia tidak semarah itu, dia memang sengaja ingin tahu apa istrinya akan berinisiatif atau tidak jika dia berlagak marah pada istrinya itu.
Beberapa lama kemudian, mereka sudah tiba di depan pintu gerbang rumah mewah Hadi Tama. Rumah mewah yang di beli dari hasil tabungan dan hasil menjual rumah bersama Sila dan Hadi. Meskipun uang Sila pasti lebih banyak untuk rumah bersama itu, tapi tetap saja yang namanya harta yang di dapat setelah pernikahan tetap saja harta bersama namanya.
Saat keluar dari dalam mobil yang pintunya terlebih dahulu di bukakan oleh Joseph. Sila langsung tersenyum begitu melihat Mika yang sedang bermain di halaman bersama dengan Diah.
"Mika sayang!" panggil Sila.
Dave juga ikut tersenyum melihat Sila bahagia. Dave dan Joseph kemudian mengikuti Sila yang sudah terlebih dahulu bergegas menghampiri Mika. Saat Sila akan berlari, Dave meneriakinya.
"Sila, jangan lari!" tegur Dave.
Dan Sila yang baru ingat kalau dia tengah hamil pun segera menghentikan larinya dan berjalan pelan. Dia lalu mengusap perutnya pelan.
"Mama!" Mika juga langsung berteriak memanggil Sila ketika dia melihat Sila menghampiri nya.
Sila langsung memeluk Mika dan mencium pipi tembem menggemaskan putrinya itu.
"Sayang, sudah pulang sekolah?" tanya Sila dan Mika pun langsung mengangguk.
"Sudah makan?" tanya Sila lagi.
"Sudah mama, tadi di suapi sama mbak Iyah!" jawab Mika dengan wajah yang begitu imut dan menggemaskan.
"Mika sayang, Mika mau kan tinggal sama mama?" tanya Sila yang tak berhenti tersenyum senang.
__ADS_1
Mika kecil lalu mengangguk.
"Mau ma, Mika mau tinggal sama mama. Tapi sama papa juga kan?" tanya Mika yang membuat senyum di wajah Sila langsung hilang.
Sila diam, dia bingung harus menjawab pertanyaan putrinya itu. Karena Sila tahu kalau perlakuan Hadi pada Mika juga sangat baik, jadi kasih sayang Mika untuk Hadi dan untuk Sila adalah sama besarnya.
Dave yang melihat istrinya bingung menjelaskan pada Mika langsung mendekati ibu dan anak itu.
"Halo anak manis!" sapa Dave berusaha menampakan senyum di wajahnya meski agak kaku.
"Om Dave!" sama Mika.
Dave sebab Mika langsung menyapanya. Dia pun lalu berjongkok di depan Mika, sama seperti Sila. Lalu dengan tangan kanannya, Dave membelai lembut rambut hitam yang lurus milik Mika.
"Mika sayang, papa tidak bisa ikut bersama dengan Mika dan juga mama Sila. Karena kakek Haris sedang sakit. Jadi papa Mika harus menjaga kakek Haris di rumah sakit. Sekarang minta Mbah Iyah bereskan perlengkapan sekolah Mika ya. Kalau pakaian nanti om Dave akan belikan yang baru untuk Mika!" jelas Dave dengan pelan dan lembut.
Mika langsung mengangguk. Dan Diah pun langsung bergegas ke dalam untuk menyiapkan semuanya.
Tapi tak lama kemudian, Mika langsung berlari masuk mengikuti Diah.
"Mika, mau kemana?" tanya Sila.
"Mau ambil boneka panda dari om Dave di kamar papa!" jawab Mika yang langsung berlari ke dalam rumah.
Sila dan Dave langsung berdiri.
"Mas, aku bingung bagaimana menjelaskannya pada Mika!" ucap Sila yang merasa sangat gusar.
Dave lalu mengusap wajah Sila perlahan.
"Tidak apa-apa sayang, kita akan jelaskan pelan-pelan pada Mika!" ucap Dave lembut dan Sila pun mengangguk setuju.
__ADS_1
***
Bersambung...