Ketika Yang Kucintai Berkhianat

Ketika Yang Kucintai Berkhianat
KYKB 187


__ADS_3

Hilman sudah terlebih dahulu menghampiri dokter yang keluar dari rumah UGD.


"Dok, bagaimana dengan anak saya dok?" tanya Hilman panik.


Mila yang mendengar dokter memanggil keluarga pasien Susan pun langsung memutuskan panggilan telepon dari Hadi setelah mengatakan di rumah sakit mana Susan di rawat pada calon menantunya itu. Mila lalu menyusul Hilman menghampiri dokter yang tadi menangani Susan di ruang UGD.


"Begini pak, Bu pasien sedang membutuhkan banyak darah, dia sudah lumayan banyak kehilangan darah. Dan janin yang ada dalam kandungannya juga sangat rentan saat ini. Bapak, ibu saya harap bapak dan ibu banyak berdoa ya, untung nya persediaan kantong darah untuk golongan darah ibu Susan sedang banyak stoknya di rumah sakit kami. Kondisi ini Susan dan bayi dalam kandungan nya masih kritis Bu, terus berdoa ya. Kami akan berusaha semaksimal kami!" jelas dokter itu lalu kembali ke dalam ruang UGD.


Hilman langsung menepuk punggung Mila perlahan.


"Syukurlah Bu, syukurlah kita membawa Susan ke rumah sakit yang tepat. Untung saja di sini persediaan darah yang sama dengan Susan banyak, anak kita selamat Bu!" Hilman tak henti-hentinya mengucap syukur karena meski masih kritis tapi dari yang dia dengar dari penjelasan dokter, Susan masih banyak harapan hanya bayi dalam kandungan nya yang rentan.


"Selamat bagaimana yah, anaknya masih kritis. Awas saja kalau pria bren9sek itu datang, aku hajar dia!" kesal Mila pada Hadi.


"Iya Bu, tapi jangan keterlaluan. Ini di rumah sakit!" Hilman coba memperingatkan istrinya yang tengah sangat emosi itu.


Setelah lewat tengah malam, Hadi pun tiba di rumah sakit dimana Susan di rawat. Sedangkan Susan masih berada di ruang UGD karena para dokter masih harus memastikan keselamatan janin yang ada dalam kandungan Susan itu.


Begitu Hadi tiba, dia langsung ke ruang UGD yang di tunjukkan oleh seorang perawat yang dia tanyai sebelumnya.


Begitu tiba di depan ruang UGD, Mila yang duduk bersama Hilman langsung menghampiri Hadi.


Plakkk


Satu tamparan keras dari Mila mendarat sempurna di pipi kanan Hadi. Hadi tidak bereaksi apapun ketika mendapatkan tamparan dari calon ibu mertuanya itu. Dia hanya menundukkan kepalanya karena dia sadar dia memang salah.

__ADS_1


"Dasar pengkhianat!" pekik Mila.


Tak puas melihat Hadi yang hanya diam, Mila kembali mengangkat tangannya.


Plakkk


Satu tamparan lagi mendarat di pipi yang sama yang masih ada cap lima jari dari Mila tadi. Hadi masih diam, dengan mata merah dia mencoba untuk tidak terpancing emosi.


Apa yang dilakukan oleh Mila itu tentu saja mengundang perhatian para perawat yang tidak sengaja lewat atau yang sedang keluar dari ruang UGD. Hilman yang takut di tegur atau bahkan bisa di usir dari rumah sakit itu karena membuat keributan pun berusaha menahan tangan Mila yang hampir terangkat kembali.


"Sudah bu, ingat! kita sedang berada di rumah sakit. Jangan buat keributan Bu!" ucap Hilman pada Mila.


Dengan mata melorot dan merah, Mila masih geram pada Hadi.


"Lihat akibat dari perbuatan mu, seandainya saja ayah Susan terlambat membawanya kesini, nyawanya dan calon anakmu akan dalam bahaya. Apa kamu senang hampir membunuhh calon anakmu sendiri, hah??" tanya Mila yang masih sangat emosi pada Hadi.


"Tidak Bu... aku benar-benar minta maaf. Semua ini di luar kendaliku, aku tidak sengaja berbuat kejam pada Rosa dan...!"


"Jangan sebut nama wanita pelakor itu! jangan pernah sebut namanya di depan Susan, awas saja kamu!" Mila benar-benar tidak ingin mendengar nama wanita yang telah merusak impian indah Susan menjadi nyonya Hadi Tama satu-satunya itu.


'Kurang aj4r! karena wanita itu anakku di madu. Si4l, tapi undangan sudah di sebar. Bagaimana ini, Susan juga hamil lagi, ck... awas saja wanita itu. Kalau aku bertemu dengannya, habis dia!' kesal Mila dalam hatinya.


Mila sangat kesal karena rencananya yang sudah dia susun bersama Susan hampir satu tahun lebih menjadi berantakan karena kehadiran Rosa.


Setelah menunggu hingga pukul 05.00 dini hari. Akhirnya dokter pun keluar dari ruang UGD. Dan kali ini lampu di atas pintu ruang UGD itu tak lagi menyala. Hadi yang memang tidak duduk dan terus berdiri di depan ruang UGD langsung menghampiri Susan yang masih tak sadarkan diri di atas ranjang dorong yang di dorong oleh dua orang perawat.

__ADS_1


"Susan!" panggil Hadi yang langsung melihat ke arah perut Susan.


"Dok, apa calon anak ku baik-baik saja dok. Bagaimana keadaan calon anakku dok?" tanya Hadi cemas.


Dokter langsung membuka masker yang dia pakai.


"Ibu Susan dan calon anaknya sudah melewati masa kritis, tapi kondisinya masih lemah. Dan kandungannya ibu Susan benar-benar sangat rentan. Jadi tolong, setelah dia siuman jangan memberikan kabar mengejutkan atau yang membuatnya emosional. Kondisi sang ibu sangat mempengaruhi kondisi bayinya, emosi ibunya sangat sangat berpengaruh besar pada kesehatan calon anak anda, kelainan atau mohon maaf cac4t bawaan bisa saja terjadi kalau ibunya depresi atau mengalami tekanan batin!" jelas sang dokter panjang lebar.


Penjelasan dokter itu membuat Mila semakin kesal pada Hadi. Dia tidak mau kalau sampai calon cucunya itu nanti terlahir kurang atau bahkan sampai cac4t.


Hadi juga sangat syok, dia tidak menyangka gal seperti ini. Karena dulu memang kehamilan Sila baik-baik saja, bahkan meskipun Sila bekerja dia tidak pernah mengeluh sakit. Hadi menjadi sangat takut atas apa yang di katakan oleh dokter itu. Dia juga tidak ingin terjadi hal-hal yang tidak di inginkan dengan calon anaknya nanti.


"Saya permisi dulu, tolong di perhatikan apa yang saya katakan tadi. Karena sepertinya penyebab ibu Susan pendarahan adalah karena dia mengalami tekanan batin dan emosi yang tak terkendali!" ucap dokter itu dan langsung meninggalkan Hadi dan keluarganya.


Setelah dokter itu pergi, Hadi membantu dia orang perawat memindahkan Susan ke ruang rawat. Hingga pukul 06.00 pagi, Susan masih tak sadarkan diri. Hadi pun masih setia menunggunya dan duduk di samping tempat tidur pasien Susan.


Mila yang gemas pun mendekati Hadi.


"Kamu dengar kan tadi apa kata dokter, aku tidak mau sampai cucuku nanti kenapa-napa atau sampai terlahir dengan tidak sempurna ya...!"


"Bu!" tegur Hilman.


Hilman tidak mau Mila bicara yang tidak-tidak tentang calon cucunya. Karena setiap perkataan itu bisa jadi adalah doa. Jadi Hilman tidak mau hal buruk terjadi di masa depan nanti.


"Biar ibu bicara pada pria bren9sek ini yah, pokoknya kamu harus ceraikan wanita itu. Ibu tidak mau kalau Susan nanti siuman dan dia kembali mengalami tekanan batin! dengar tidak??" pekik Mila yang memuat kepala Hadi rasanya benar-benar mau pec4h.

__ADS_1


***


Bersambung...


__ADS_2